Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
63. Hamil?!


__ADS_3

"Kak, suami kakak kapan pulangnya?" Tanya Raka. Dia sedang duduk disofa sambil mengupas kulit buah jeruk lalu memakannya.


"Nanti malam kayaknya." Jawab Kira, dia juga sedang mengupas kulit buah jeruk lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


Mereka berdua tengah fokus mengupas kulit jeruk dan memakannya berbeda dengan Vano yang berbaring diatas sofa sebelah Raka dengan kakinya dia taruh diatas paha Raka, yang tengah berkutik pada laptop yang ditaruh di dadanya.


"Kenapa gak selamanya aja disana?" Kata Raka tidak berdosa.


"Kamu mau aku kesepian? Walau dia ngeselin, dia kan suami aku."


"Kan ada aku sama Vanih, Kak. Aku aja gak kesepian tuh tidur sendirian setiap hari." Oceh Raka dengan mulut yang menguyah jeruk.


"Beda. Kalo kamu udah berumah tangga pasti kamu bakal ngerti." Jawab Kira.


"Sama lah. Aku jomblo, sendirian terus tapi gak pernah kesepian tuh. Kakak juga kayaknya gak kesepian ditinggal dia dua hari ini."


"Lo gak bakal ngerti, otak lo otak udang." Sahut Vano tiba-tiba padahal tadi dia tidak tertarik pada berbicangan Raka dan Kira.


"Tuh denger, Vano aja ngerti. Emang bener kata Vano, dasar otak udang!" Cibir Kira, dia sudah selesai memakan jeruknya dan langsung menatap Raka.


"Cih, sok-sokan lo. Emang lo udah berumah tangga!" Decih Raka, menatap kesal Vano yang tiduran disebelahnya, dia pun sudah selesai memakan jeruk.


"Emang belom." Jawab Vano.


"Gak usah sok tau mangkanya!" Raka tidak mau kalah dari siapa pun.


"Seterah!" Acuh Vano. Percuma saja meladeni Raka yang tidak akan ada habisnya.


Kira menggelengkan kepalanya. Mereka musuh abadi tapi sangat bertolak belakang, pantas aja mereka bermusuhan cara berpikir mereka berbeda-beda. Tapi melihat bagaimana mereka berdua mulai baikan walau cuma sebentar, Kira merasa lucu sendiri. Apalagi sekarang melihat mereka dekat begitu.


Raka menatap Kira yang tertawa sendiri dengan heran. Kedua alisnya terangkat dan dahinya mengkerut. "Kenapa kak? Kakak kesambet ya?" Tegur Raka.


Kira memberhentikan tawanya, dia menggelengkan kepala. "Abisnya kalian lucu. Seketika jadi musuh seketika jadi pasangan kekasih, liat aja tuh kalian deket banget."


Raka dan Vano saling lihat-lihatan beberapa detik kemudian mereka menjauh satu sama lain sambil saling menatap dengan sengit.


"Mati aja sana lo!" Sinis Raka.


"Lo aja mati sana!" Balas Vano.


"Kenapa harus gue duluan yang mati?"


"Karna lo lebih pantas mati daripada hidup."


"Emang lo tuhan nentuin orang hidup atau mati!" Sengit Raka.


"Ya, lo duluan." Sahut Vano.


"Apaan kok gue duluan? Muka lo aja yang nyari ribut duluan!" Raka tidak mau kalah. Kalau mengalah satu kali saja berarti itu bukan Raka namanya.


"Lah gak nyadar diri."


"Gue sadar kok!"

__ADS_1


Kira pusing sendiri mendengar pertengkaran mereka. Apalagi mendengar Raka terus ngebacot, rasanya kepalanya jadi pusing. "Udah-udah mulai berantem lagi deh." Lerai Kira.


"Kakak nyadar dong, pertengkaran ini karna siapa, kakak dalangnya." Raka menunjuk Kira.


Kira menunjuk dirinya sendiri, kedua alisnya terangkat tidak habis pikir lagi dengan adiknya itu. "Lah kok nyalahin aku?"


"Yaiyalah kenapa Kakak ngomong begitu tadi?"


"Heh, kan aku cuma ngomong, emang salah?!"


"Ya salah lah. Pokoknya apa yang kakak lakuin apa yang kakak omongin itu salah. Titik!" Raka melipat kedua tangannya didada. Tidak ada habis-habisnya dia mencari masalah dengan Kakaknya.


"Kamu itu sama aja ya kayak Nathan. Selalu nyalahin aku! Aku salah apa coba?!" Marah Kira. Padahal dipikir-pikir Nathan tidak pernah menyalahkan Kira bahkan Nathan selalu mengalah tapi yasudahlah.


"Emang kakak pantes disalahin kok. Orang jelek itu pantes disalahin." Ucap Raka tidak berdosa. "Lagian salah sendiri jadi orang jelek, jadi jangan marah kalo disalahin trus, emang itu frekuensinya orang jelek."


Kira jadi naik pitam seketika. Dia bengun dari sofa dan mendekati Raka yang masih mengoceh menjelek-jelekan dirinya.


Melihat Kira bangun dari sofa membuat Raka ciut seketika. Wajah Kira saat ini benar-benar menakutkan lebih menakutkan dari valak, hantu dari luar negri itu.


Bug!


"Akhhhh kakak sakitttt, sakittt, sakittt!" Teriak Raka histeris.


Bug!


"Help! Help!"


Bug!


"Dasar adik gak punya akhlak!"


Vano menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa pelan. Raka itu memang orang yang unik ya. Banyak bacot, berisik, tukang cari masalah. Hadeh, ada ya manusia kayak dia didunia ini. Eh ada satu lagi deng, siapa lagi kalau bukan Nathan kakaknya sendiri yang sebelas dua belas dengan Raka. Mengingat tentang Nathan, Vano penasaran kapan Nathan pulang ya?


"Ampunnnn Kakak huwaahhh pala aku berdarahhhh! Huwaahhhh!" Histeris lebay ala Raka belum berakhir.


...****************...


Pukul 00.00, Nathan mengendap-endap masuk kekamarnya. Ini sudah larut malam dan dia baru saja pulang dari luar kota jadi dia tidak ingin membangunkan Kira yang sudah tertidur nyenyak diatas ranjang. Dia tidak tega.


Nathan membuka sepatu, jas dan juga kemejanya hanya menyisakan celana jeansnya saja tanpa mengeluarkan suara. Dia takut Kira terbangun. Lalu dengan langkah pelan-pelan dia berjalan ke ranjang.


Baru juga ingin menidurkan tubuhnya keatas ranjang tepatnya disebelah Kira tiba-tiba saja Kira berbalik badan kearahnya (sebelumnya Kira tidur membelakangi Nathan). Dan sepertinya Nathan tidak sengaja membangunkannya.


"Nathan? Kamu udah pulang?" Tanya Kira, dia ingin bangun terduduk namun Nathan menahannya agar tetap berbaring.


"Iya, aku baru sampai barusan." Jawab Nathan, dia merebahkan tubuhnya disebelah Kira.


"Aku kira besok kamu pulang." Kata Kira, dia lebih mendekat pada Nathan dan memeluk Nathan dengan manja.


"Emang seharusnya, tapi aku gak betah lagi. Udah kangen banget sama istri."


Kira tersenyum. Dia sebetulnya juga sangat merindukan Nathan. Dia kesepian dua malam ini tidur sendirian tanpa Nathan. "Gak kesana lagi kan?" Tanya Kira.

__ADS_1


Nathan mengecup puncuk kepala Kira. "Udah selesai semuanya. Tenang aja, aku gak ninggalin kamu lagi kok."


"Padahal aku senang kamu pergi." Canda Kira.


"Jahat banget jadi istri."


Kira tertawa. "Kamu pasti capek banget hari ini. Mau aku buatkan sesuatu?"


"Gak usah lah. Orang yang aku butuhin cuma kamu. Only you."


"Ih dasar," Kira terkekeh sambil memukul pelan dada bidang Nathan dan Nathan pun tertawa.


"Gimana sama sekretaris Rendy? Dia udah dapet jodoh disana?" Tanya Kira mengingat sekretaris kocak Nathan yang bilang ingin mencari jodoh disana sebelum pergi keluar kota. Dia ingat betul bagaimana Rendy mengatakannya.


"Liat aja ya, gue disana bakal dapet jodoh. Emang lo aja yang punya istri, dikit lagi gue bakal punya juga!" Perkataan Rendy waktu itu kepada Nathan dengan percaya dirinya.


"Boro-boro dapet jodoh, dia aja kepusingan ngurus kantor disana." Jawab Nathan. "Kenapa kamu selalu tanya Rendy? Jangan-jangan kamu tertarik sama dia ya? Wah, gak bisa dibiarin!" Sambung Nathan.


"Ya emangnya kenapa? Cuma tanya aja kok. Kocak aja sekretaris kamu itu."


"Kamu muji lelaki lain didepan suami kamu? Wah luarbiasa."


"Kamu baru pulang, gak capek apa ngajak ribut sekarang? Pending dulu aja sampe besok."


Luarbiasa istri Nathan itu.


Nathan menggerutu tanpa mengeluarkan suara.


Oiya, Kira kan ingin memberi tahu sesuatu kepada Nathan. Dia baru ingat sekarang, mungkin ini waktu yang tepat untuk memberi tahu Nathan.


"Nathan,"


"Hm?"


"Aku mau kasih tau sesuatu yang pernah aku bilang sebelum kamu keluar kota." Kata Kira. Dia tidak tahan memberitahukan sekarang.


"Apa?"


"Eumm gimana ya kasih taunya..."


"Emang kenapa sih? Apa yang mau kamu kasih tau? aku penasaran loh!"


"Kamu kan tau, setiap pagi aku sering muntah-muntah, eneglah."


"Ya? kenapa?"


"Aku.." Kira membuat Nathan penasaran.


"Kenapa? Kamu jatuh cinta sama lelaki lain? Sama siapa? Sama Rendy atau sama lelaki lain? Itu yang mau kamu kasih tau, iya?!" Oceh Nathan.


"Bukan ihh!" Kira memukul dada Nathan lagi.


"Terus apa?"

__ADS_1


Kira mendonggak, menatap manik coklat Nathan yang menunggu jawabannya.


"Aku hamil."


__ADS_2