Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
42. Permintaan Vano


__ADS_3

"Kak Kira," panggil Vano pada Kira yang sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati kue yang ia beli dari Kakek Eka siang tadi.


Kira mengangkat kedua alisnya. "Hm?"


Vano duduk di sebelah Kira dengan wajah kikuk. Dia menatap Kira yang juga menatapnya dengan kedua alis terangkat. "Kakak, bisa gak ke sekolah aku besok." pinta Vano. Padahal hanya meminta Kira datang ke sekolahnya besok tapi dia berkeringat dingin seperti sedang ujian nasional saja.


Mendengar permintaan Vano, Kira terbatuk. Bukan apa-apa, dia terkejut dengan permintaan Kira dan juga agak senang karna setidaknya Vano sudah menganggapnya seperti kakak sendiri.


Vano mengambil air putih di atas meja lalu memberikannya kepada Kira yang langsung di teguk Kira sampai habis. Perhatian sekali adik iparnya tidak seperti Raka, yang melihat dia tersedak malah menertawakannya.


Kira menaruh lagi gelas kaca itu ke atas meja lalu menatap Vano yang sepertinya menunggu jawabannya. "Emang ada apa? Kok bisa sampai di panggil ke sekolah?" tanya Kira sebelum menjawab permintaan Vano.


Vano menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku juga gak tau, Kak." jawabnya.


Mata Kira memicing. "Jangan bilang kalo kamu terlibat tawuran atau perkelahian di sekolah." duga Kira.


Eh?


"I-iya, Kak." akhirnya Vano jujur saja. Dari pada nantinya Kira mengetahui dari guru lebih baik dia yang memberi tahunya.


Kira menghela nafas. "Kenapa bisa?" tanya Kira. Dia tidak percaya Vano senakal itu sampai mengikuti tawuran antar sekolah seperti Raka.


Vano terdiam. Tidak menjawab sama sekali. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskannya.


Kira menaruh piring kaca berisi kue Kakek Eka yang tinggal sedikit lagi di meja lalu dia menatap Vano, dia menepuk bahu Vano pelan. "Kalo ada masalah, cerita sama aku atau Nathan. Jangan nyimpannya sendiri. Kamu itu udah aku anggap adik sendiri, sama kayak Raka jadi kalo kamu butuh seseorang yang mendengarkan cerita kamu, aku siap." kata-kata Kira membuat Vano terdiam dan menganggukan kepalanya.


"Makasih, Kak." ucap Vano, tersenyum pada Kira tipis.


"Akuuu puulaaanggg!" teriak panjang yang sudah di tebak adalah Raka.


Pemuda itu menampakkan batang hidungnya di hadapan Vano dan Kira yang duduk di ruang tamu. Mata Raka memicing melihat Vano tumben-tumbenan duduk bersama Kira. Entah kenapa dia menaruh kecurigaan pada musuh kesayangannya itu.

__ADS_1


"Habis dari mana kamu jam segini baru pulang!" tegur Kira membuat Raka yang menatap Vano langsung beralih menatapnya.


Raka menggaruk-garuk kepalanya sambil menyengir. "Habis main ke rumah teman." jawab Raka berbohong.


"Boongnya bisa aja." sindir Vano membuat Raka melotot sangar padanya.


"Kamu bohong Rakaaa!" geram Kira, dia mengangkat kepalan tangannya di udara dengan garis-garis kemarahan di dahinya.


Raka menyiapkan kuda-kuda untuk kabur dari kemarahan Kira tapi melihat Kira diam saja membuatnya mengurungkan niat untuk kabur. Dia malah mendekati Kira, duduk di sebelah Kira setelah menyingkirkan Vano dari sebelah Kira.


Begitu Raka duduk di sebelahnya, Kira langsung menjewer telinga Raka kencang sampai Raka mengaduh kesakitan. "Rasain! Berani kamu ngebohongin aku!" omel Kira, mengencangkan jewerannya kepada Raka.


"Sakit Kakak!" teriak Raka berharap Kira melepaskan jewerannya.


"Bodo amat!"


Vano yang melihatnya tertawa pelan. Dia berada di sebelah Raka karna tadi Raka menyuruhnya menyingkir.


Merasa sudah puas memberi pelajaran pada Raka, Kira melepaskan jewerannya. Dia melipat tangannya di dada menatap Raka yang mengusap-usap telinganya sambil mengerucutkan bibirnya. "Jangan bilang kamu ikut tawuran juga dan di panggil guru."


"Rakaaa!" geram Kira.


Dengan cepat Raka berlari menjauh dari Kakaknya takut Godzila itu mengamuk padanya. Dia berlari sambil tertawa terbahak-bahak dengan Kira mengejarnya di belakangnya.


"Sini kamu, Rakaaaaaa!"


"Sini dong tangkap akuuu."


"Rakaa!"


...****************...

__ADS_1


"NATHAN, KENAPA NARO CD SEMBARANGAN?!" teriak Kira menggelar di kamar mereka. Matanya melotot melihat CD kotor Nathan di taro di atas ranjang mereka.


Nathan yang tengah terduduk santai di atas ranjang sambil menyender hanya menyengir lebar, dia mengangkat dua jari di hadapan Kira yang mendengus kesal. "Buat pajangan biar kamu. Lagian CD aku lebih enak dipandang dari pada kamu." jawab Nathan santai seperti tidak ada beban.


Kira yang mendengarnya langsung naik pitam. Dia mengambil CD Nathan dan dia langsung melemparnya ke wajah Nathan. Tapi Nathan malah menangkapnya dan menunjukkan wajah devilnya lalu dia melempar kembali CD-nya dan tepat mengenai wajah Kira.


Kira yang terkena lemparan CD itu marah, wajahnya memerah dan kedua telinganya mengeluarkan asap, kedua tangannya mengepal. Dia pun mengambil CD itu yang terjatuh di lantai dan mendekati Nathan kemudian dia mengucek-ngucek CD itu di wajah Nathan hingga ia puas.


Setelah dia puas, Kira melekatkan CD itu di kepala Nathan. Nathan sekarang seperti action figure di film-film, wajah Nathan cemberut.


"Ha-ha-ha, rasain!" ucap Kira.


Nathan melepaskan CD itu dari kepalanya, dia menatap Kira yang berjalan ke ruang ganti dengan kesal. Mulutnya tidak henti-hentinya menggerutuki Kira.


Saat Kira keluar dari ruang ganti, Kira melototi. Dia masih kesal dengan Nathan. Begitupun dengan Nathan, Pria itu melengos ketika Kira keluar dari ruang ganti.


Kira duduk di tepi ranjang. Dia merapikan sarung bantal yang berantakan karna ulah Nathan. Dia heran padahal Nathan sudah berumur dua puluh tujuh tapi kelakuannya masih seperti anak berumur lima tahun. Lama-lama dia bisa gila harus menghadapi Nathan setiap harinya.


Saat sedang merapikan sarung guling dan bantal tiba-tiba Nathan merebahkan kepalanya di paha Kira, Pria itu melipat tangannya di dada. Kira menghela nafas gusar. "Aku lagi rapihin bantal, Nathannnnn!" geram Kira, mengertakan gigi-giginya.


"Terus? Aku harus bilang wow gitu?"


Untuk kedua kalinya Kira menghela nafasnya gusar. Dia kembali merapikan bantal di tangannya, menaruh bantal itu di atas wajah Nathan lalu setelah itu dia menaruh bantal itu di tempat semula.


Bosan hanya tertiduran di paha Kira dan melihat Kira merapikan bantal-guling, Nathan dengan isengnya meremas gumpalan dada kiri Kira dengan tangannya. Dia berpura-pura tidak tahu apa yang di pegang. "Eh, ini apa ya? Kok lembek-lembek? Tapi lembut juga tapi kok tepos ya?." celoteh Nathan tidak tahu kalau Kira sedang menahan emosinya yang sebentar lagi meledek seperti gunung berapi.


Nathan terus meremas dada Kira tanpa mempedulikan bahwa Kira sekarang sudah naik pitam. Dia mengomentari dada Kira dengan tidak berdosanya.


Darah Kira sudah naik, dengan cepat dia menampar pipi Nathan kencang hingga Nathan melepaskan tangannya dari dada Kira dan mengusap pipinya yang ia yakin memerah.


"Jangan buat aku marah sekali aja bisa gak sih?!" bentak Kira.

__ADS_1


"Kan aku bilang, ganggu kamu itu sekarang jadi hobi aku." sahut Nathan dengan wajah tidak berdosanya.


"Kamu mau aku cekik?!" Nathan menggeleng polos.


__ADS_2