
Hari ini, Ayah Cahyo sudah membaik dan sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter dengan catatan, tidak boleh banyak pikiran dan harus banyak-banyak istirahat.
Raka mendorong kursi roda yang di berikan rumah sakit. Dia tidak mengerti mengapa rumah sakit memberi kursi roda untuk Ayahnya secara cuma-cuma padahal dia yakin betul kalau kursi roda ini sangat mahal. Saat dia bertanya kepada Kira, Kira pun menjawab yang sama, dia tidak tahu.
Raka mendorong kursi roda itu ke gang, walaupun sempit namun masih bisa memasuki motor dan kursi roda. Saat dia mendorong kursi roda yang dimana Ayahnya duduk didalamnya, semua para tentangga mengintip-intip. Ada dari mereka yang mengintip lewat jendela dan dari atap dan ada pula yang menatapi mereka dengan terang-terangan.
Andai saja Ayahnya tidak melarangnya untuk sekedar menegur mereka, sudah sejak lama Raka melakukannya. Dia hanya tidak suka tatapan mereka berikan kepada keluarganya.
"Kakak kamu kemana, Ka?" tanya Ayah Cahyo.
"Dia kerja, Yah. Biasa." jawab Raka.
Raka membuka pintu rumahnya yang sangat kecil itu lalu memasukkan kursi roda itu kedalam rumah setelah itu dia sengaja menutup pintu rumahnya dengan kencang agar semua para tetangganya tahu, bahwa Raka Alviansyah marah.
Ayah Cahyo yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Jangan gitu, Ka, Ayah gak ngajarin kamu begitu." tegur Ayah Cahyo.
Raka hanya menyengir kuda sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia boleh saja terlihat menyeramkan di depan orang-orang namun saat berhadapan dengan Ayah dan Kakaknya Raka berubah menjadi anak polos yang kurang belaian.
"Ayah mau langsung istirahat atau mau olahraga dulu?" tanya Raka, bercanda.
"Tadinya mau berantem dulu, tapi masih lemes, gak bisa jalan jadi mending istirahat aja."
Raka tertawa, dia membawa kursi roda itu ke kamar Ayahnya lalu menidurkan Ayahnya di kasur lantai yang sangat tipis. Setelah itu dia mengambil jaket hitam kulitnya yang ia gantung di belakang pintu kamarnya.
Dia berencana akan mencari uang tambahan untuk uang sekolahnya dan untuk makan sehari-hari. Dia tidak mau terlalu menyusahkan Kira yang sudah banting tulang untuknya dan Ayahnya.
...****************...
Kira sudah kembali ke pekerjaannya sebelumnya. Menjadi penghantar minuman keras untuk para pelanggan. Dia sekarang memakai baju yang biasanya, hanya memakai celana panjang dan kemeja berwarna putih.
Memang peraturannya kalau penghantar minuman harus memakai baju seksi juga karna pemilik bar ini ingin memuaskan pelanggan namun bukan Kira namanya yang mengikuti peraturan yang ada walaupun ia tau akibatnya.
__ADS_1
Kira tersenyum lebar, mendorong meja besi yang berisi minuman keras ke lorong dimana banyak orang yang bercumbu disana. Dia tidak peduli akan hal itu toh dia sudah menutup kuping dan matanya agar tidak melihat adegan menjijikan itu.
Namun senyumannya seketika menghilang ketika seseorang berani memberhentikan meja besi dorongnya dengan menahan meja itu dengan kedua tangannya. Wajah Kira yang tadinya secerah rembulan kini malah cemberut.
"Hallo jelek, kita bertemu lagi walau aku menolak ini adalah takdir tapi aku sedih loh ketemu kamu." kata Nathan dengan nada di buat-buat.
Demi apapun, mood Kira seketika menjadi buruk hanya karna melihat Pria songong bin ngeselin itu.
"Minggir, saya mau lewat!"
"Eits, tidak semudah itu, jelek. Kamu punya hutang sama aku, loh!"
Oiya, aku lupa. Hutang ya?
"Nanti akan saya bayar, kalo saya udah gajian. Mending anda minggir sebelum saya tabrak pakai meja keramat saya!"
"Tapi aku mau bayarannya, kamu temani aku malam ini, gimana?" tawar Nathan.
"Aku udah bayar waktu kamu ke boss kamu loh."
Kira memutar bola matanya malas. "Gak perlu begitu kali! Oke, saya mau tapi ada syaratnya."
"Lah kok ada syaratnya? Kamu aja minjem uang sama aku aja gak pake syarat-syaratan."
"Y-ya cuma buat jaga-jaga. Pokoknya kamu gak boleh melakukan yang tidak pantas kepada saya, mengerti?!"
"Oke-oke deh,"
...****************...
Saat ini Kira berada di dalam mobil mewah milik Nathan, dia menatap keluar jendela. Jika saja yang pemilik mobil mewah ini bukan Nathan sudah dipastikan Kira berjingkrak-jingkrak kegirangan karna menaiki mobil yang tidak pernah ia naiki.
__ADS_1
Nathan yang sedang mengemudi, melirik-lirik Kira yang berada di sebelahnya. Hatinya bagai berbunga-bunga ketika Kira mengiyakan ajakannya untuk makan di luar. Berbeda dengan Kira yang menahan geram setengah mati karna mendengar celotehan yang keluar dari mulut Nathan.
"Anda gak bisa ya gak ngomong sekali aja?" geram Kira.
Nathan menggeleng polos. "Gak bisa nih, mulutku gatel kalo gak ngomong sedetik aja."
Kira memutar bola matanya malas. Dia kembali menatap ke luar jendela, mengabaikan ocehan Nathan yang semakin menjadi.
"Kamu mau gak nikah sama aku? Ya mau lah masa enggak. Jelas Pria kayak aku langka, udah caem, kaya raya, harta melimpah dan juga Sholeha." celotehnya.
Sholeh malih! Bukan Sholeha dikira dia perempuan apa? Geram Kira ingin sekali dia berkomentar celotehan Nathan itu.
"Sekarang kita kemana nih? Ke penghulu atau ke K.U.A?"
"Saya sih maunya ke kuburan pengen nguburin anda hidup-hidup."
"Kejam banget ya sama calon imam."
"Calon imam dari mana? Dari Hongkong?!"
"Salah, aku itu blasteran surga bukan Hongkong!"
Kira mengertakan gigi-giginya saking kesal dan geramnya. Dia ingin sekali menjambak rambut bermodelan bak artis Korea itu.
"Kenapa? Gemes ya? Emang. aku tahu kok aku gemesin." kata Nathan dengan percaya dirinya.
Salah apa dia di masa lalu sampai harus bertemu dengan makhluk seperti ini?
"Gemesin? Ngenesin iya!"
"Emang kenyataannya gemesin kan? Kamu aja sampe gemes banget sama aku, udah keliatan dari mukanya yang burik."
__ADS_1
Kira mengelus dadanya sambil istighfar. Dia harus banyak bersabar menghadapi makhluk ini, siapa tau ini adalah jin yang mencoba menggoyahkan imannya.