
Tampaknya Sekretaris dan tuan muda itu belum juga berbaikan. Seperti sekarang mereka membicarakan soal bisnis besar dengan perusahaan luar negri tapi mereka sama-sama memasang wajah datar dan sesekali mereka bertengkar hal yang sepele seperti sekarang contohnya.
Nathan menyenderkan punggungnya ke senderan kursi, dia melipat tangannya menatap sombong Rendy yang duduk di seberangnya yang menatapnya dengan sebelah sudut terangkat. "Idih," cibir Rendy melihat lagak sombong Nathan.
Nathan mengangkat sebelah alisnya. Sopan kah Sekretaris begitu kepada atasannya?
"Iri bos? eh salah lo kan bawahan gue." ejek Nathan membuat Rendy sangat kesal.
"Udahlah jangan kebanyakan bacot. Ada apa anda manggil saya kesini?" tanya Rendy. Dia sudah sangat kesal dengan atasannya yang sombong itu. Mereka kan masih bermusuhan.
"Sopan kah ngomong begitu sama bos?"
Rendy memutar bola matanya. "Ingat, kita masih musuhan!"
"Siapa juga yang mau baikan sama lo?"
Astagfirullah, kenapa bisa punya atasannya kayak Nathan ini? Rasanya Rendy ingin depresi saja kalau begini.
"Cepet mau ngomong apa! Lo buang-buang waktu berharga gue!" kesal Rendy.
"Ye halu. Siapa juga yang pengen ngomong sama lo? Gak ada."
Sumpah demi apapun Rendy geram dengan Nathan. Nendang atasan sampai ke bukit govardan, dosa gak sih?
"Tapi lo yang manggil gue kesini ya!"
Nathan menggosok gosok dagunya seperti sedang berpikir. "Gue gak manggil lo. Jangan halu."
"Dasar!" umpat Rendy kesal. Dia bangun dari kursi dan berjalan keluar dari ruangan Nathan namun Nathan memanggilnya lagi.
"Mau kemana lo?" tanya Nathan dengan sebelah alis terangkat.
Rendy geram sumpah. Dengan wajah yang tidak bersahabat Rendy menoleh lagi pada Nathan yang menatapnya datar. "Apa lagi? Bukannya lo gak mau ngomong apa-apa?!" geram Rendy.
__ADS_1
Nathan melempar berkas ke wajah Rendy membuat Rendy mengepalkan kedua tangannya dan rahangnya mengeras. "Urus berkas itu. Itu penting!" perintah Nathan.
Rendy menatap Nathan datar, dingin dan sangat tajam. Dengan cepat dia mengambil berkas yang di lempar Nathan tadi yang tergeletak di lantai. Rendy tahu Nathan sedang ada masalah tapi kenapa harus dia yang menjadi kambing hitam dalam masalahnya?!
Setelah mengambil berkas itu, Rendy langsung mengutuskan pergi dari ruangan Nathan dengan membanting pintu ruangan Nathan dengan keras membuat para karyawan yang kebetulan ingin masuk ke dalam ruangan Nathan terkejut.
Rendy menatap karyawan itu dengan tajam. "Apa?! Mau saya colok matanya, hah?!" Karyawan itu menggelengkan kepalanya takut.
Rendy mendengus, dia berjalan menjauhi ruangan Nathan dan berjalan ke lift menuju ruangannya.
Sedangkan di dalam ruangannya, Nathan menyenderkan kepalanya di senderan kursinya. Memejamkan matanya. Dan tak lama kemudian suara ketukan di pintu membuatnya membuka matanya lagi. "Masuk!" teriaknya.
...****************...
Malam hari.
"Kira," panggil Nathan membuat Kira yang tengah duduk di sofa menjahit sesuatu langsung menoleh ke arahnya dan mengangkat kedua alisnya.
"Kenapa?" tanya Kira, dia meletakan baju yang sedang ia jahit di atas sofa dan dia menghampiri Nathan yang terduduk menyender di ranjang.
"Yaudah, tungkerep dong."
Nathan mentengkurepkan badannya dengan senyuman yang mengembang di bibirnya dan setelah itu, Kira naik keatas tubuh belakang Nathan dan duduk di bokongnya.
Kira memijit-mijit pelan punggung Nathan. Dia melihat banyak bekas cakaran di punggung Nathan dan dia meringis pelan, itu pasti cakarannya saat mereka melakukan hubungan suami-istri.
"Kenapa?" tanya Nathan, dia memejamkan matanya menikmati pijatan-pijatan dari Kira.
"Emm, itu bekas cakaran siapa?" tanya Kira, dia berpura-pura tidak tahu.
Nathan terkekeh. "Cakaran siapa ya? Ya, cakaran kamu lah, sayang waktu kita bergelut di ranjang. Akh, rasanya jadi pengen." jawab Nathan membuat pipi Kira memanas.
Kira memukul pelan punggung Nathan membuat Nathan tertawa. "Jangan lagi ya?!" ancamnya.
__ADS_1
"Jangan lagi, tapi setiap aku genjot, kamu teriak-teriak nikmat tuh."
"Nathan?!" Kira memukul lagi punggung Nathan. "Jangan buat aku marah ya?" peringatan Kira.
Kira kembali memijit-mijit punggung Nathan. "Nathan," panggil Kira pelan.
Nathan yang mulai memejamkan matanya menyahut dengan berdeham. "Hmm?"
"Aku pengen kenal kamu. Lebih jauh. Jadi, ceritain apapun tentang kamu sama aku bisa?"
Nathan membuka matanya lagi. Apa dia tidak salah dengar? Kira ingin mengenalnya lebih jauh? Apa Kira sudah mulai mencintainya?
"Kamu serius?"
"Iya, aku mau mengenal kamu lebih jauh. Boleh gak? Kalo gak boleh yaudah gak maksa."
Nathan tersenyum geli. "Minggir dulu, sayang."
Kira menyingkirkan dari atas tubuh Nathan membiarkan Nathan terduduk.
Nathan menepuk-nepuk dadanya dengan senyuman di bibirnya membuat Kira tidak mengerti. Aduh, galak-galak tapi otaknya lelet ya?
"Sini, sayang." ucap Nathan membuat pipi Kira kembali memanas.
Entah kenapa setiap Nathan memanggilnya sayang dia merasa tersipu apalagi Nathan memanggilnya dengan nada lembut di suaranya yang bariton.
"Cieeee tersipu malu-malu..." goda Nathan.
Kira hanya menanggapinya godaan Nathan dengan decakan padahal biasanya dia akan memukul, menjewer atau mencubit Nathan jika menggodanya begitu. Mungkin mood Kira sekarang sedang baik jadi galaknya tidak keluar kali ini.
"Kira, sini donggggg..." Nathan kembali menepuk-nepuk dadanya semakin membuat Kira tidak mengerti.
"Apa sih? Gak ngerti."
__ADS_1
Nathan berdecak pelan. Dia menggendong tubuh Kira ke pangkuannya membuat Kira malu sampai wajahnya memerah. Nathan menyenderkan kepala Kira di dada bidangnya. "Jadi cerita gak nih? Atau kita main kuda-kudaan aja?"
Kira mencubit pinggang Nathan. "Otak kamu mesum!"