
Nathan menepis tangan Mauren yang menggerayang nakal itu dengan lembut. Sudah jelas sekali, Kira dan Mauren sangat bertolak belakang. "Jangan melakukan itu. Itu tidak pantas melakukan hal yang nakal pada suami orang."
Mauren mendesah kecewa. "Apa yang buat kamu bertekad menikahi Kira?" tanya Mauren to the point.
Nathan menatap Mauren yang memasang wajah kesalnya. Dia terkekeh geli. "Karna dia begitu cantik, menggemaskan dan dia Istri idaman." jawaban Nathan membuat Mauren tambah kesal.
"Apa dia lebih baik dariku?" tanya Mauren.
"Hmm, kalian berbeda Mau. Kalian punya kelebihan masing-masing." jawab Nathan santai.
"Katakan apa itu?"
"Kamu mempunyai kecantikan yang sempurna berbeda dengan Kira." jawaban Nathan membuat Mauren tersenyum senang.
"Kalau begitu kenapa kamu menikahinya?"
Nathan menghebus nafasnya. "Alasannya cuma satu. Aku melihat kehidupanku di matanya."
Mauren patah hati. Tentu saja. Aghh rasa-rasanya Mauren ingin mencabik-cabik Kira sekarang juga. Bukan merampas kebahagiaan Mauren saja, Kira juga merampas cinta Nathan darinya.
Mauren bergertuk gigi-giginya tanpa diketahui Nathan lalu dia menyentuh wajah Nathan sambil menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca.
"Bisakah aku merebutnya kembali?" lirihnya.
Kedua alis Nathan terangkat. Dia menjauhkan tangan Mauren dari pipinya. "Rebutlah kalau kamu bisa mendapatkan hatiku kembali." ucap Nathan di akhiri senyuman miring. Mana mungkin, dia sudah benar-benar sudah sangat mencintai Kira. Biarlah wanita itu, Nathan tidak peduli.
...****************...
Perasaan Kira saat ini campur aduk, antara cemburu, marah dan penasaran ketika ponsel suaminya di pegang Mauren. Dia kepikiran, apa benar yang di katakan Mauren bahwa Nathan tertidur di pahanya? Akhh, benar-benar membuatnya pusing memikirkan itu.
Kini Kira berada di halaman belakang, dia mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa sekarang Nathan bersama Mauren? Berduaan dengannya? Mengobrol mesra dengannya? Akhhhhh, Kira rasanya ingin mati saja.
Pikiran sangat kacau. Dia cemburu kalau benar Nathan bersama Mauren sekarang. Rasa-rasanya Kira ingin langsung mendatangi kantor Nathan dan menggerebek Nathan dan Mauren tapi dia juga bingung karna dia belum pernah ke kantor Nathan.
Tau ah, Kira ingin menangis saja.
"Non, kenapa nangis atuh non?" tegur Pak Yayat, tukang kebun di Mension Nathan sekaligus suami dari Bi Tati yang sudah sangat akrab dengan Kira karna sering mengobrol bersama.
Kira mendonggakan kepalanya sebelumnya dia menundukkan kepalanya menatap kakinya yang menyeker menapak rumput-rumput halaman belakang. "Gak kok, Pak, cuma lagi kangen Ayah aja." Beneran kok Kira gak bohong, dia benaran merindukan Ayahnya. Sangat.
__ADS_1
"Kalau rindu mah, ke pemakaman aja atuh, non. Lebih bagus setiap hari jum'at." saran Pak Dayat.
Kira tersenyum. "Gak ada yang nganterin, Pak. Nathan harus ke kantor dan Raka dia sekolah. Yah, paling kalau rindu aku kirim doa."
"Kalo non bilang minta anterin tuan muda, Bapak yakin tuan muda tidak menolaknya."
"Tapi sayanya gak enak, Pak. Nathan pasti punya kerjaan yang lebih penting."
"Sepenting-pentingnya perkerjaan tuan muda, Bapak yakin dia tinggalin itu semua demi nganterin non."
"Kenapa bapak begitu yakin?" tanya Kira penasaran.
"Kenapa ya? Entahlah, tapi tuan muda orangnya penyayang, non. Kalo dia sudah sayang sama orang, dia tidak akan pernah meninggalkannya, non. Sama kayak Istri Bapak, tuan muda sayang sekali sama dia sampai-sampai Istri saya menganggap tuan muda anak sendiri begitupun dengan tuan muda." cerita Pak Yayat.
"Ngomong-ngomong, Pak. Kemana orang tua kandung Nathan? Kenapa dia tidak pernah kelihatan bahkan di pernikahan kami mereka tidak datang."
"Non, belum di ceritakan tuan muda?" Kira menggeleng.
"Belum."
"Haduh, mending non tanya langsung aja sama tuan muda. Bapak takut kesalahan."
"Bapak! Ngapain atuh di sini?!" tiba-tiba Bi Tati datang dan menjewer telinga suaminya.
"Aduh, sakit atuh Bu.." jerit Pak Yayat.
"Bantuin ibu atuh, gotong sayur-sayuran di depan!"
"Iya, istriku."
Entah kenapa Kira bahagia melihat pasangan Bi Tati dan Pak Dayat. Sangat romantis baginya tanpa sadar hal yang dilakukan Bi Tati juga sering ia lakukan pada Nathan.
...****************...
"Kakak ngapain sih di kamar aku?!"
"Mau nginep di sini. Kenapa gak boleh?" jawab Kira santai, dia terduduk menyender di atas ranjang Raka.
Raka yang baru saja pulang dari sekolahnya langsung kesal kepada Kira yang semena-mena mau nginap di kamarnya. Kalau dia di anggap perebut istri orang gimana? Tapi jujur saja, Raka pun rindu tidur bersama Kakaknya. Sudah lama rasanya dia tidak tidur bersama Kira.
__ADS_1
Raka meletakan seragamnya yang sudah ia lepaskan dari tubuhnya ke ranjang pakaian kotor. Lalu dia menindurkan kepalanya di atas paha Kira. Kemana pun Raka pergi, Kira lah yang menjadi tempatnya untuk pulang.
Kira tersenyum kepada Raka yang mulai membuka layar kunci ponselnya, dia menduga Raka pasti akan bermain game online. Karna itu hobi sang adik selain berkelahi. Kira pun merindukan saat-saat begini.
"Kalo suami kakak pulang, trus ngeliat Kakak di kamar aku, emangnya dia gak marah? dia kan tukang cemburu buta." kata Raka, matanya fokus pada layar ponselnya.
"Kenapa dia harus marah? Kamu kan adik aku, selamanya tetap adik aku, apa salah kalo aku mau tidur bareng adik aku?" kedua alis Kira menyatu.
Hati Raka menghangat mendengarnya. Dia tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. "Tapi kan keadaannya sekarang beda, Kak. Kakak udah punya suami." nada bicara Raka seakan sedih.
Kira menatap Adiknya sedih. Ia merasa Raka sedih saat dirinya sudah menikah dan dia pun merasakan hal yang sama. "Maaf ya, Kakak jarang ngurusin kamu."
Raka terkekeh. "Emangnya aku anak bayi yang harus di urusin?"
"Kan emang kamu sendiri yang ngomong."
"Tenang, aku sekarang udah dewasa kok, Kak. Udah tau alat reproduksi wanita juga." ucap Raka tanpa dosa.
Kira mencubit pipi Raka. "Kenapa kamu jadi nakal begini?!" marah Kira malah membuat Raka tertawa terbahak-bahak. Raka bahkan tidak jadi bermain game online.
Raka bangun, dia duduk berhadapan dengan Kira. "Kak, Kakak mau tau gak type idaman wanita aku?"
Kira mengangkat kedua alisnya. "Tipe kamu? Kayak gimana coba?"
"Wanita kayak Kakak." jawab Raka membuat Kira terharu. "Wanita kuat, sabar, galak, cantik walau cuma sedikit, dan penyayang walau orangnya gak sabaran."
"Kamu pernah ngomong kalo type kamu, wanita yang seksi, cantik kayak Rosé anggota blackpink."
Raka tertawa pelan. "Emang sih, tapi aku lebih suka wanita kayak Kakak yang apa adanya." Pipi Kira memerah, dia tersenyum.
"Cieee memer, merah merona." goda Raka sambil mencubit-cubit pipi Kira.
Kira memukul tangan Raka. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia sangat bahagia memiliki Adik seperti Raka walau sering membuatnya marah.
"Kak, peluk dong." rengek Raka seperti anak kecil membuat Kira terkekeh geli.
Kira merentangkan kedua tangannya dan Raka langsung memeluknya erat. "Kak, aku kangen Ayah." kata Raka.
Kira tidak bisa membendung air matanya lagi. "Aku juga kangen Ayah. Kita doain aja semoga Ayah di terima di sisi Tuhan."
__ADS_1
Raka mengangguk. "Sekarang Ayah lagi apa ya?"