
Keesokan harinya Nathan terbangun, dia terduduk ditepi ranjang sambil menguap. Biasanya Kira akan membangunkannya dijam segini, akh, Nathan benar-benar sangat merindukan istrinya itu. Dari tadi malam dia tidak sempat menghubungi Kira, sekarang waktunya menghubungi Kira sebelum dia pergi ke kantor lagi.
Nathan pun mengambil ponselnya diatas nangkas lalu mencari nomer telpon Kira yang ia namai 'Kirana' yang sebelumnya dinamai 'istriku, jelekku, kesayanganku, muach'. Setelah itu Nathan menempelkan benda pipih itu ditelinganya.
Dia tahu betul sedang apa Kira dijam segini. dia tahu kebiasaan Kira setiap pagi. Pasti sedang menonton acara kesukaannya di televisi sambil menikmati roti kering dengan teh hangat.
Nathan mengacak-ngacak rambutnya menunggu Kira menjawab panggilannya. Tak lama kemudian terdengar suara merdu yang ia rindukan itu.
"Hallo," suara Kira disebrang sana.
Nathan tersenyum senang mendengar suara Kira. Seharusnya dari tadi malam saja dia menghubungi Kira. Ya ampun.
"Hallo sayang. Lagi apa?" Tanya Nathan.
"Lagi nonton nih. Kamu lagi apa?"
"Lagi mikirin kamu nih."
"Kok aku gak yakin kamu mikirin aku ya?"
"Serius, sayang. Aku kangen sama kamu."
Disebrang sana Kira tersenyum mendengar kata rindu dari Nathan.
"Kamu juga kangen aku gak? Kangen lah masa gak." Ucap Nathan dengan percaya diri.
"Hemmm, gak sih. Gak kangen sama sekali." Jawab Kira.
Seperti ada jarum yang menancap dadanya. Nathan memegangi dadanya. "Kok kamu gitu sih!" Rengek Nathan.
"Yah, emang gak kangen kok. Mau diapain lagi?"
"Jahat banget. Bilang kangen dong.."
Kira tertawa kecil. "Iya-iya. Aku kangen."
Nathan tersenyum. Mendengar suara tawa Kira membuat staminanya meningkat. "Nah gitu dong. Kan enak di dengarnya."
"Disana baik-baik aja kan?" terdengar suara Kira seperti mengkhawatirkannya dan itu membuat Nathan senang.
"Baik-baik aja kok. tapi yang gak baik-baik aja itu hatiku, aku rindu sama kamu soalnya."
"Heleh, aku yakin kamu disana tepe-tepe sama wanita lain kan?" (tepe: tebar pesona)
"enak aja, enggak sayang. Hati aku kan udah milik kamu seorang."
"Hedeh, pagi-pagi udah ngegombal aja."
__ADS_1
"Udah sarapan?" Tanya Kira.
"Belum. Mandi aja aku belum."
"Yaudah mandi sana. Baunya sampe kesini-sini tau."
Nathan mencium badannya sendiri. "Gak bau kok. Hidung kamu aja kali mampet."
"Bener. Baunya sampe kesini. Sana udah mandi." Suruh Kira disebrang sana.
"Iya-iya. Siap komandan. Kalo gitu aku matiin dulu ya."
"Iya. Mandi yang bersih. Abis itu sarapan jangan lupa."
"Mandiin dong mangkanya."
"Mandiin gimana? Kamu aja jauh, gimana sih."
"Kan bisa mandi online, sayang."
"Mana bisa. Dasar otak udang! Udah mandi sana. Aku matiin, bye!"
Tut!
Kira mematikan sambungan sepihak membuat Nathan terkekeh geli dan menaruh kembali ponselnya diatas nangkas lalu dia berdiri, berjalan kearah kamar mandi sesuai perintah Kira tadi. Dia akan mandi.
Nathan mengacak-ngacak rambutnya yang basah, berjalan kesofa dimana kopernya ditaruh disana. Namun langkahnya terhenti ketika suara bel berbunyi.
Dengan malas, Nathan membuka pintu dan lagi-lagi Mauren yang mengganggunya. Nathan hanya bisa menghela nafas panjang melihat wanita bekas kekasihnya dulu. tidak siang tidak malam wanita itu selalu saja mengganggu Nathan. Apakah begini perasaan Kira saat dulu dia mengganggunya?
"Ada apa, Mauren?" Tanya Nathan sedikit geram.
"Ah, itu, aku mau ngantar berkas ini disuruh Rendy." Jawab Mauren tapi matanya tertujuh pada jubah mandi Nathan yang terbuka yang memperlihatkan dada bidang Nathan.
Nathan berkacak pinggang. Tidak habis pikir dengan sekretarisnya itu. Dasar Rendy sialan itu, kenapa tidak dia saja yang menghantarkannya kenapa malah menyuruh Mauren yang menghantarnya?
"Sini," Nathan menyodorkan tangannya dan Mauren memberikan berkas itu kepada Rendy lalu Nathan membuka berkas itu.
"Dasar sialan, kenapa gak dia aja yang ngurus beginian!" Umpat Nathan untuk Rendy.
Sedangkan Mauren, matanya terus menatap dada bidang Nathan sampai Nathan memanggilnya.
"Mauren,"
"Iya?"
"Dimana sekarang seketaris sialan itu?" Tanya Nathan. Dia sudah kesal setengah mati pada sekretarisnya itu. Semena-mena saja dia kepada atasannya.
__ADS_1
"Eumm, Sekretaris Rendy pergi sarapan diluar sama wanita deh kayaknya."
Nathan menghela nafas. "Yaudah, terimakasih karna udah ngantar ini, Mauren." Kata Nathan.
"Gak masalah kok. Aku kan sekretaris pribadi kamu."
Nathan menggaruk tekuknya. "Kalo didepan Rendy jangan bilang begitu ya?"
"Kenapa?"
"Nanti dia ngambek soalnya."
Mauren ambigu. Nathan dan Rendy? Apakah mereka punya hubungan spesial?
"Kenapa, Mau?" Tanya Nathan melihat Mauren bengong seperti itu.
Mauren tersadar menepis pikiran gilanya tentang Rendy dan Nathan. Dia langsung menatap Nathan lagi. "Gak apa-apa kok." Jawab Mauren.
"Oh yaudah kalo gitu, aku mau pakai baju dulu." Kata Nathan yang ingin menutup pintu kamarnya namun Mauren menghalanginya.
"Nathan," panggil Mauren dengan sensual.
"Apa lagi Mau?"
Mauren mendekati Nathan, tangannya membelai dada bidang Nathan yang sudah menggodanya sedari tadi membuat Nathan terdiam.
"Mau bersenang-senang dulu sebelum ke kantor?" Goda Mauren, masih membelai dada bidang Nathan.
"Mauren, aku tidak berselera." Balas Nathan. Tentunya tidak berselera lagi padamu.
"Oiya?" Tangan Mauren perlahan turun dan turun sampai ke titik kejantanan Nathan.
"Mauren," Nathan berusaha memperingati Mauren namun Mauren sepertinya tidak mau berhenti bahkan Mauren sudah mengecup-ngecup dada bidang Nathan.
Memang sih ada gelora itu ketika Mauren menyentuhnya. Siapa coba yang tidak tergoda dengan sentuhan-sentuhan wanita seperti itu apalagi Mauren sangat mahir melakukannya namun entah kenapa Nathan tidak ingin lebih, dia tidak ingin berhubungan dengan wanita lain terkecuali Kira, istrinya.
"Mauren cukup!" Nathan membentak Mauren karna sudah tidak tahan dan dia menepis tangan Mauren yang nakal itu di adik kecilnya membuat Mauren menatap Nathan heran.
"Kenapa? Kamu barusan kamu membentak aku?"
"Bisakah kamu pergi? Aku mau pakai baju." Usir Nathan dengan wajah dingin.
Mata Mauren berkaca-kaca. Dia pun berlari menjauh dari pintu kamar Nathan.
Setelah itu Nathan menutup kembali pintu kamarnya. Moodnya sekarang menjadi buruk karna perlakuan Mauren tadi bukannya tergoda tapi Nathan malah menjadi muak.
Nathan harus cepat-cepat kekantor dan menyelesaikan pekerjaannya disini lalu kembali ke jakarta. Dia ingin melihat wajah Kira secepatnya.
__ADS_1