
Hari ini, hari yang tidak di inginkan seorang Kirana Larasati. Kira menatap dirinya di cermin rias, wajahnya sudah di rias dengan cantik dengan sanggul di rambutnya. Mungkin dia akan bahagia jika menikah dengan orang yang di cintainya dan ini? Dia bahkan membenci orang yang sebentar lagi menikahinya.
Air mata tidak bisa lagi Kira bendung, air mata itu jatuh ke pipinya yang sudah di make up. Biarlah make up di wajahnya luntur, dia malah berharap Pria itu akan membatalkan pernikahan ini.
Lama menatapi diri di cermin, Kira langsung tersadar jika Raka berdiri bersender di ambang pintu sambil menatapi dirinya. Pemuda itu sudah rapi dengan baju batik merahnya, apalagi rambutnya yang biasanya berantakan kini tersisir rapi, Raka terkesan sangat tampan lebih dari biasanya.
Kira tersenyum pada Raka di pantulan cermin lalu berbalik menatap Raka yang sekarang berjalan menghampirinya.
"Aduh duh duh, Kakak aku cantik banget sih, mimi peri aja sampe kalah sama Kakak." kata Raka.
Kira tersenyum. Walau itu menyakitkan, dia tidak akan menunjukkannya kepada Adiknya.
"Udah di tungguin sama calon imam tuh," lanjut Raka.
Kira menundukkan kepala, dia menangis lagi. Dia tidak siap harus menikah dengan Pria yang tidak ia cintai.
Raka berjongkok, dia menatap wajah Kakaknya yang menunduk. Tangannya menghapus air mata Kira dengan hati-hati. Takut make up yang udah mempercantik Kira akan luntur.
"Udah jangan nangis, jelek benget soalnya." canda Raka.
Bibir Kira bergetar. "K-kamu mah, Kakak lagi sedih bukannya di tenangin malah di ledekin!" kesal Kira.
Raka terkekeh pelan. "Udah ya, Kakak cantik nangis nanti aja, oiya pas malam pertama. Kakak timpuk tuh Presdir s*alan itu sampe gak sadarin diri, oke?" Kira tertawa. "Sekarang kita ke sana ya, pasti udah banyak yang gak sabar liat Kakak aku yang jelek ini."
Kira mengangguk. Raka bangun, dia menggenggam tangan mungil Kira dan membawa Kira keluar dari ruang rias menuju ke luar dimana semuanya sudah menunggunya.
Saat ini Nathan sudah duduk di depan penghulu dan Ayah Cahyo tentunya. Dia menghafalkan nama Kira dan Ayah Cahyo di otaknya namun saat menyadari Kira datang dengan Raka, adik songongnya itu, Nathan langsung menoleh ke arahnya dan ketika melihat Kira berada di sebelah Raka, mulut Nathan terbuka sempurna melihat betapa cantiknya mempelai wanitanya itu.
"TUTUP MULUT LO, WOI!" teriak Rendy menggema membuat semua tamu langsung menatap horor ke arahnya dan Rendy hanya bisa menyengir sambil menggaruk kepalanya.
Ayah Cahyo tersenyum melihat putrinya bisa di rujuk Raka. Sebelumnya dia tidak yakin kalau Kira akan keluar dari ruang rias.
Kira mendudukkan bokongnya di sebelah Nathan yang sudah menutup mulutnya karna teriakan Rendy tadi. Kira menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak mau menatap Nathan yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Baik, sodara Nathan Alberic Melio, anda sudah siap?" tanya pak penghulu membuat Nathan yang tadinya menatap Kira langsung menatap ke arahnya.
Nathan mengangguk mantap. Jujur, dia sangat gugup sekarang, tangannya saja berkeringat dingin. "Saya siap." jawabnya.
__ADS_1
Ayah Cahyo menjabat tangannya di depan Nathan yang langsung menjabat tangannya dengan Ayah Cahyo. "Bismillahirrahmanirrahim, sodara Nathan Alberic Melio bin Kevin Melio Hartono saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Putri saya, Kirana Larasati binti Cahyono Novianto dengan seperakat alas solat dan emas lima ratus gram di bayar tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kirana Larasati binti Cahyono Novianto dengan maskawin tersebut, di bayar tunai." ucap Nathan dengan lantang. Jantungnya berpacu lebih cepat.
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!" jawab para saksi. Penghulu langsung membacakan doa hingga selesai.
Setelah ijab Kabul terlaksana, Kira dan Nathan sekarang sudah sah menjadi sepasang suami istri di mata agama dan negara.
"Gak nyangka gue, Nat, lo akhirnya nikah juga," ucap Rendy, dramatis. Dia mengelap matanya dengan tangannya padahal tidak ada air mata sama sekali.
"Nyusul mangkanya, biar gak jadi jomblo akut." Nathan meledek Rendy. Rendy mengerucut bibirnya.
"Eh btw, adik lo mana?" tanya Rendy, matanya mencari-cari keberadaan seseorang.
Nathan punya adik?
"Tunggu, jadi anda punya adik?" tanya Kira yang berada di sebelah Nathan.
Nathan melingkarkan tangannya di pinggang Kira, posesif. "Hm, kenapa emang?"
Kira melepaskan tangan Nathan dari pinggangnya, dia menatap Nathan tajam. "Jangan berani sentuh-sentuh saya!" ancamnya.
Kedua alis Nathan terangkat. "Kenapa? Kita kan udah jadi suami-istri masa aku gak boleh sih mencet-mencet istri sendiri?"
Kira mendengus, dia berjalan menjauhi Nathan dan Rendy. Dia benar-benar pusing sekarang, dia butuh obat pusing!
"Garong ya?" kata Rendy, menatap punggung mungil Kira yang kian menjauh.
Nathan pun sama, dia menatap punggung mungil Istrinya sambil mengangguk, menyetujuhi apa yang di katakan Rendy memang Kira sangat galak itu kenyataannya.
"Btw, Vano kemana?" tanya Rendy.
"Gak tau,"
"Gue denger-denger kalo si Vano itu sekelas sama adiknya Kira, siapa tuh namanya?"
__ADS_1
"Raka,"
"Nah iya Raka, dan lebih parahnya lagi, mereka sering berantem kalo ketemu."
Dan tiba-tiba suasana gedung pernikahan Kira dan Nathan menjadi ricuh. Karna seseorang tengah berkelahi saling memberi bokeman mentah. Dan kedua orang itu adalah Raka dan Vano-Adik Nathan. Namun pertengkaran itu, Raka lah yang sering memukul Vano dengan pukulan dan tendangan. Dia tidak membiarkan Vano membalas sekalipun.
Rendy dan Nathan saling lihat-lihatan. Baru juga mereka bercerita tentang kedua anak itu sekarang malah sudah berkelahi saja kemudian Nathan berlari ke arah mereka berdua, dia ingin melerai perkelahian antar kedua adik itu.
Di sana Kira memandang perkelahian Raka dan Vano yang menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Begitu melihat Raka memukul habis-habisan Pemuda yang berada di bawah kungkuhannya, Kira langsung berlari mendekat. Dia tidak mau Pemuda itu akan di buat sekarat oleh Raka.
"RAKA, BERHENTI!" teriak Kira sukses membuat Raka memberhentikan pukulannya pada Vano yang sudah tidak berdaya.
Raka memandang Vano yang terkulai tidak berdaya, dia langsung berdiri. Begitu dia berdiri..
Bugh!
Raka mendapatkan pukulan dari Nathan hingga tersungkur ke lantai. Pukulan Nathan memang kuat terbukti dengan sekali pukulan, Raka sudah terjatuh ke lantai.
"Berani lo bikin acara pernikahan Kakak lo berantakan, hah?!" bentak Nathan.
Raka tahu dia salah, dia sudah membuat acara pernikahan Kira dan Nathan berantakan. Tapi itu bukan semua kesalahannya.
Kira langsung berdiri di hadapan Nathan yang ingin mendaratkan pukulan lagi pada Raka. Matanya berkaca-kaca. "Cukup, berhenti!"
Raka memandang punggung Kakaknya tidak percaya. Setelah tidak ada ciri-ciri ingin memukul lagi dari Nathan, Kira langsung menoleh ke Raka yang tersungkur di lantai. Dia berjongkok di hadapan Raka.
"Kak, maaf," lirih Raka. Dia sadar telah melakukan hal fatal karna sudah membuat acara pernikahan Kira kacau.
"Sekarang kamu bersihin luka kamu, SENDIRI! Karna ini ulah kamu, aku gak mau ngobatin kamu!" titah Kira dan Raka mengangguk.
Raka berdiri walaupun agak sempoyongan. Dia menatap Nathan dan Vano dengan tatapan benci, andai saja ini bukan acara spesial Kira sudah di pastikan Raka akan membalas pukulan suami Kakaknya itu.
"Apa, mau berantem?!" Nathan memasang wajah tengilnya.
Bugh!
Kira memukul perut Nathan dengan kencang sampai Nathan memengangi perutnya sambil meringis kesakitan.
__ADS_1
Raka hampir tidak bisa menahan tawanya melihat Nathan di pukul Kira dengan kencang. Hahahaha, rasain! Dalam hati Raka.
Sedangkan Vano masih terdiam di tempatnya. Tidak ada rasa bersalah atau menyesal.