
Makan malam. Kira menyendoki nasi ke piring Nathan, Nathan yang di layani seperti itu hanya tersenyum-senyum sambil tangannya mencolek-colek bokong Kira membuat Kira beberapa kali melempar tatapan tajam padanya.
Begitupun dengan Raka dan Vano yang duduk dengan akrab bermain game online padahal Kira sudah menyiapkan nasi dan lauknya di piring mereka masing-masing tapi mereka belum juga menyentuhnya karna terlalu asik bermain game online.
"B*go, kalah kan tuh!" umpat Raka kepada Vano yang mendengus kesal.
"Lo lagian, cacat!" cibir Vano.
Merasa tidak terima, Raka melotot pada Vano. "Apaan, lo yang beban. Ngekill sama matinya masa banyakan matinya, cemen."
"Lawannya aja terlalu bar-bar." ucap Vano, tidak terima jika Raka mengatainya beban walau emang nyatanya begitu.
Raka tertawa remeh. "Bukan lawannya yang bar-bar, lo-nya aja yang terlalu cacat." cibir Raka.
"Bacot!" umpat Vano, dia melahap makanan yang sudah di siapkan Kira. Memang Kira Kakak ipar idaman, saat dia tidak meminta di ambilkan nasi dan lauk tapi Kira mengambilkannya tanpa di minta.
"Bicit, ngaku aja emang lo cacad." sindir Raka sambil memasukan nasi ke dalam mulutnya.
"Raka, jangan ngomong kalo lagi makan!" tegur Kira tapi Raka malah sengaja berbicara dengan mulut penuh dengan makanan.
"Riki, jingin ngiming kili ligi mikin." entah bahasa apa yang di katakan Raka itu tapi sukses membuat darah Kira mendidih.
Dengan kesal, Kira melempar centong yang ia gunakan mengambil nasi ke Raka dan berhasil mengenai kepalanya membuat sang empu meringis kesakitan.
"Eh, kita taruhan yuk." ajak Nathan tiba-tiba kepada Raka.
Sebelah alis Raka terangkat. "Taruhan? Wahh, Kak suaminya gak bener nih, masa ngajakin aku maksiat!" adu Raka kepada Kira, mengompori.
Kira menampar pelan namun terasa di pipi Nathan di sebelah kiri karna dia duduk di sebelah kiri Nathan. "Kamu emang biang maksiat, ya?!" omel Kira.
Nathan menggeleng lucu. Bibirnya manyun seperti anak ayam yang menggemaskan membuat Raka yang melihatnya ingin muntah.
"Najis, mukanya begitu!" cibir Raka, dia hampir memuntahkan isi mulutnya.
__ADS_1
"Emang muka kamu juga bagus?!" omel Kira kepada Raka.
Yang kalem di meja makan hanya Vano. Dia anteng memakan makan malamnya sambil menyimak mereka.
"Emang muka Kakak juga bagus? Malah lebih buruk dari aku." Raka membalikan ucapan Kira.
"Heh, buruk-buruk gini, tetap buruk kok." timpal Nathan.
"Kok kalian ngatain fisik aku sih?!" kesal Kira. Dia benar-benar marah sekarang.
"Lah, apa salah aku? Aku cuma mau membenarkan fakta." jawab Nathan, dengan wajah tidak berdosa.
"Betul itu. Faktanya emang begitu kalo Kakak itu jelek." Raka menyetujuhi perkataan Nathan.
Kira menahan amarah yang yang sebentar lagi memuncak. Dia mengepalkan tangannya tinggi-tinggi. "KALIAN BISA GAK SIH JANGAN NGATAIN FISIK ORANG?! EMANG KALIAN UDAH BAGUS, HAH?!" omel Kira dengan berteriak marah.
"Bisa sih, tapi kalo orang itu kamu aku gak bisa." sahut Nathan membuat Kira Makin marah.
"Betul tuh, Kakak harusnya sadar diri dong. Udah jelek, ngaku aja jelek gak usah marah kalo di katain jelek." ucap Raka menyetujuhi perkataan Nathan. Kira makin naik darah.
...****************...
Karna tidak biarkan masuk ke dalam Mension oleh Kira, si singa betina itu. Nathan dan Raka tertidur di teras Mension dengan perlengkapan tidur seperti selimut tebal dan bantal-guling. Sekarang mereka seperti sedang berkemah di alam terbuka.
Sungguh kejam Kira itu, apa salah mereka berdua padahal hanya mengatakan fakta yang ada bahwa memang Kira jelek walau tidak terlalu jelek-jelek amat sih. Tapi kan mereka berkata jujur.
Raka menghebus nafasnya. Dia memang sudah terbiasa tidur di luar rumah karna Kira selalu menguncinya dari dalam. Lah ini? Berduaan dengan Nathan? Membuatnya panas, bukan panas karna gairah masa iya seorang Raka Novianto Hermansyah bergairah sama sesama terong? Kan gak mungkin. Cuma dia merasa tidak suka saja berdekatan dengan Kakak Iparnya yang tengil itu.
Nathan pun sama, dia mencoba memejamkan matanya namun suara Raka yang bernyanyi membuatnya tidak bisa tidur. Apalagi Raka bernyanyi sambil bermain gitar yang lumayan kencang dan tidak sesuai dengan nada bernyanyinya. Akhh, dia ingin kembali ke kamarnya dan tidur membekap Kira.
"Berisik, idiot! Gak tau jam berapa kali ini? Lo ganggu tentangga, bodoh!" omel Nathan membuat Raka memberhentikan petikan gitarnya dan langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan menantang.
"Biarin. Biar semua tentangga lo tahu bahwa di sini ada babang tamvan yang tidak rela harus tidur bareng sama makhluk asral kayak lo." jawab Raka kemudian dia kembali mempetik senar gitarnya dan kali ini lebih jelas karna dia mulai menghayatinya.
__ADS_1
Nathan pun begitu, dia mulai menikmati petikan gitar Raka yang seperti lagu yang pernah ia dengar.
Saat Nathan sedang menikmati dan menghayati alunan petikan gitar Raka, Raka malah memberhentikannya dan menaruh gitar itu di sebelahnya sebelum dia berbaring bergabung dengan Nathan yang sedari tadi sudah berbaring di lantai.
Mereka sekarang sama-sama menatap ke atas langit malam, angin menerpa tubuh keduanya walau sudah tertutupi dengan selimut tebal.
"Cuy." panggil Nathan tanpa menoleh ke Raka.
"Oi?" sahut Raka juga tanpa menoleh ke Nathan.
"Kalo misalkan lo bukan Adiknya, gimana?"
"Oh gampang. Gue nikahin." jawab Raka cepat.
"Percaya diri lo."
"Yaiyah, gue ganteng walaupun bokek tapi lebih baik dari lo." Raka berbangga diri.
Nathan tertawa. "Lah terus kalo lo nikah mau di kasih makan apa?"
"Ya gampang lah, tinggal nyopet, maling. Masih banyak perkerjaan, bro."
"Gak halal dong, boy. Gimana sih lo."
"Lagian nanya mulu lo. Ribet." kesal Raka.
"Gue baru nanya sekali, congek."
"Bicit." cibir Raka. "Udahlah gue mau bobok ganteng dulu. Siapa tau bisa ngeliat wajah cantik Widia di mimpi gue." Raka mengigit lidahnya.
Raka bisa melihat sekarang Nathan memicingkan matanya kepadanya seakan mengintrogasi. "Siapa Widia? Cewek lo?"
"Apaan sih lo. Udah lah mau bobok dulu gue." Raka mengubah posisinya membelakangi Nathan dan begitupun Nathan karna dia tidak terlalu penasaran sih dengan Gadis yang di sebutkan Raka, dia pun juga membelakangi Raka.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Kira membuka pintu utama Mension di mana Raka dan Nathan tertidur di teras. Wajahnya cemas bukan main.
"Raka, Nathan. Ayo masuk. Nanti masuk angin." ajak Kira membuat kedua manusia itu menganga, ternyata Kira tidak tega melihat mereka tidur di luar begini. Plin-plan tapi mereka menyukai itu.