
Pagi harinya, Kira membuka matanya, mengerjab-ngerjabkan matanya berkali-kali. Baru ingin berbalik badan ke arah kiri, Kira malah merasakan lengan kekar memeluk perutnya begitu erat dan dia juga merasakan dengkuran halus dari belakangnya.
Apa itu Nathan?
Kenapa dia bisa tidur satu ranjang dengan Nathan? Apa yang terjadi tadi malam?
Oh iya, Kira baru ingat tadi malam dia menangis memeluk Nathan dibalkon. Mengingat hal itu, pipi Kira malah memanas dan apalagi sekarang mereka tidur satu ranjang dengan Nathan memeluknya dari belakang. Pipi Kira makin memanas.
Perlahan-lahan Kira menyingkirkan lengan Nathan dari perutnya namun itu membuat Nathan bergerak lebih memeluknya lagi. "Mau pergi kemana kamu.." gumam Nathan setelah itu terdengar suara dengkuran lagi.
Okelah, Kira akan terdiam dengan posisi seperti itu sampai Nathan bangun. Kasihan juga jika dia bangunkan, sepertinya Nathan tidur sangat nyenyak.
Tak lama kemudian, tangan Nathan bergerak keatas, ke dada Kira membuat wajah Kira merah padam. Bahkan Nathan sempat meremasnya. Kira tidak yakin jika Nathan benar-benar tertidur, atau dia berpura-pura tidir agar mendapat kesempatan? Oh, dan sekarang Kira kesal.
Tidak tahan lagi dengan tangan Nathan yang nakal itu. Lupakan perkataannya yang kasihan pada Nathan. Kira benar-benar marah. Kira akhirnya menendang adik kecil Nathan membuat Nathan langsung terbangun dengan mata melotot.
Kira beranjak turun dari ranjang. Dia menatap Nathan yang langsung terduduk, menarik nafasnya dan mengeluarkannya sambil memegangi adik kecilnya yang ditendang Kira tadi itu.
Kira berkacak pinggang dengan wajah yang merah padam. "Anda nyari kesempatan dalam kesempitan ya?!" Bentak Kira.
Nathan yang nyawanya belum terkumpul tidak mengerti ucapan Kira. Dia hanya menatap Kira dengan mata sipit sambil terus memegangi adik kecilnya. "Hah? Siapa yang cari kesempatan?" Beo Nathan.
"Y-ya anda lah!"
Nathan menunjuk dirinya sendiri. "Lah kok aku? Aku kan dari tadi tidur. Kenapa aku?"
"Pokoknya anda cari kesempatan dalam kesempitan!"
"Siapa yang cari kesempatan sih?"
"Anda lah!"
"Kapan? Kayaknya tadi aku cuma pegang benda padat lembut terus kenyal-kenyal gitu doang deh." Nathan menggaruk-garuk kepalanya.
Pipi Kira memanas dan akhirnya dia mendekati Nathan lalu memberinya sebuah pukulan hingga Nathan terkurab.
"M-mesum!" Setelah mengatakan kata itu, Kira langsung berlari ke kamar mandi menutup pintu dengan kencang membuat Nathan yang menungging menatapi Kira tidak mengerti kesalahannya dimana.
Tapi ngomong-ngomong soal kesalahan, bagi Nathan Kira sangat menggemaskan tadi. Akh, rasanya Nathan ingin membawa Kira ke bawah kungkuhannya sekarang juga rasanya.
Di posisi yang sama menungging, Nathan tersenyum geli melihat tingkah Kira. Istrinya itu memang menggemaskan seperti dirinya tentunya. Bercanda.
Di dalam kamar mandi. Kira memegang dadanya sendiri. Pipinya memerah. Kenapa jantungnya seperti ini akhir-akhir ini dan itu berkerja hanya melihat wajah Nathan saja. Kenapa?
Ya ampun sampai sekarang pun detak jantung masih belum stabil. Akh pokoknya Kira benci Nathan.
"NATHAN, SAYA BENCI ANDA!!" teriak Kira di dalam mandi membuat Nathan yang mendengarnya tertawa geli.
...****************...
"Kiraaaaaaaa," panggil Nathan panjang.
__ADS_1
Kira berdecak kesal, tidak bisakah sehari saja dia tidak mengganggu Kira, menyebalkan. Kira mencoba tidak mempedulikan Nathan, dia kembali memfokuskan diri menonton acara TV kesukaannya sambil mengemil cemilan ditangannya.
Nathan berlari mendekati Kira dan meloncat dari belakang sofa duduk di sebelah Kira yang membuat Kira hampir terjatuh ke depan karnanya. Nathan mengambil camilan dari tangan Kira dan memakannya dengan rakus.
Kira melotot galak kepada Nathan yang berani menghabiskan cemilannya. Tidak terima cemilannya dimakan Nathan, Kira mencubit pinggang suaminya hingga Nathan menjerit kesakitan.
"Akhhhhhh!!!" jerit Nathan kencang. Kira pun melepaskan cubitannya dipinggang Nathan. Nathan menatap Kira. "Sakit," lanjut Nathan dengan nada manjah membahana.
Kira hampir ingin muntah mendengar nada bicara Nathan yang dibuat-buat itu. Ingin rasanya melayangkan kepalan tangan ke wajah Nathan yang sok imut itu. "Cemilan saya kenapa dihabisin!" geram Kira.
Nathan menyengir, dia mengancungkan dua jari didepan wajah Kira yang sudah merah menahan emosi.
Kira mencengkram baju Nathan, dia goyang-goyangkan membuat badan Nathan ke depan- ke belakang. "Gantiin cemilan saya!" tuntut Kira.
"Kepala ku muter-muter, help." Kira melepaskan cengkraman tangannya di baju Nathan. Dia menatap kesal Nathan.
"Gantiin ya! Pokoknya saya gak mau tau!"
"Iya iya, besok aku gantiin. Tapi boleh minta kiss gak?" Nathan tersenyum menggoda.
Kira menatap Nathan yang tersenyum padanya. Memang Nathan sangat tampan bahkan sangat-sangat tampan jika dia sedang tersenyum begitu.
"Kenapa ngeliatin begitu? Baru sadar aku tampan ya? Wah, akhirnya... aku pikir kamu punya masalah pada mata karna tidak bisa melihat ketampanan seorang Nathan." celoteh Nathan.
Baru juga dia mengagumi ketampanan yang dimiliki Nathan, Nathan sudah membuatnya jengah lagi.
Kira memutar bola matanya malas. "Kepedean jadi orang!" celetuk Kira.
Kira menatap tajam Nathan. Ada ya manusia modelannya kayak Nathan di dunia ini? Udah kepedean tingkat dewa, menyebalkan, dan selalu membuatnya naik darah. akh rasanya dia ingin gila saja menghadapi manusia itu.
"Kembali ke pertanyaan sebelumnya, boleh minta kiss gak?" tanya Nathan.
Kira mendekatkan wajahnya. "Gak!" jawabnya singkat.
"Dih, ngebantah suami terus nanti kena azab loh! Mau jadi istri durkaha dan nurjana?" kata Nathan, menakut-nakuti Kira.
"Ya, gak mau lah," gumam Kira namun dapat didengar Nathan.
"Mangkanya ikuti permintaan suami. Suami minta kiss aja gak di ikuti, mau aku kutuk jadi jelek seumur hidup?!" omel Nathan.
Kira setuju dengan kata Nathan. Dari awal mereka menikah, Kira selalu membantah permintaan Nathan dan sekarang dia takut menjadi istri durhaka. Agak jengkel juga sih dengan kata-kata terakhir Nathan tapi dia benaran takut itu terjadi.
Melihat ekspresi Kira seperti itu membuat Nathan tersenyum puas. Misi menakut-nakuti Kira, berhasil. Dia tinggal menunggu waktu Kira mencium dirinya sebentar lagi.
Kira menatap Nathan. "Jangan kutuk saya ya? Kali ini saya bakal turutin kemauan anda kok."
Dalam hati Nathan bersorak gembira. Dia memasang wajah datar kepada Kira. "Yaudah, sekarang aku minta kiss, kiss aku cepetan!" ketusnya.
Kira mengangguk. Melihat-lihat sekeliling apakah ada pelayan yang lewat karna sekarang mereka berada di ruang keluarga setelah melihat situasi aman, Kira menatap Nathan lagi yang melipat kedua tangannya didada.
Aduh punya Istri polos amat, gemes.
__ADS_1
Kira berkeringat dingin, jantungnya berdekub kencang. Dengan perlahan Kira mendekatkan wajahnya dan akhirnya.....
Cup!
Kira mendaratkan kecupan di pipi kiri Nathan.
Nathan yang merasakan kecupan dari Kira mulai merasakan pipinya yang memerah. Dia membeku, kecupan hangat yang Kira berikan membuatnya terbang ke tujuh langit.
"Kalo mau mesra-mesraan tau tempat dong!" tiba-tiba suara Vano terdengar jelas di telinga mereka berdua.
"Tau, kalo mau ngelakuin hal mesum jangan di sini. Kasian kan Vanih yang jomblo ngeliatnya." timpal Raka.
Vano menatap tajam Raka yang malah membawa-bawa namanya. Dia langsung mencengkram baju Raka yang memasang wajah songongnya.
Ketika Raka ingin melepaskan cengkraman Vano di bajunya, dia malah kehilangan keseimbangan dan terjatuh menibani Vano.
Kira dan Nathan seperti tercyduk melakukan hal mesum, mata mereka membulat dan perlahan menoleh ke belakang namun mereka tidak kalah terkejut karna kedua sejoli itu tengah saling menibani dengan Vano di bawah dan Raka di atasnya dan juga mereka saling tatap-tatapan.
"Astagfirullah!" pekik Nathan melihat adegan yang tak pantas itu. Dia langsung menutup mata Kira dari adegan senonoh didepannya.
Vano dan Raka dengan kompak melihat ke arah Nathan yang menutup mata Kira dan mereka langsung saling tatapan untuk beberapa detik kemudian.
"Akhhhhhh!" teriak mereka berdua melengking.
Raka menjauh dari Vano. "Gue bunuh lo, Vanih! Badan gue yang suci sudah ternodai!" teriak Raka.
"Gue bunuh lo duluan! Badan gue yang ternodai!" celetuk Vano.
"Tyydaaaakkkk! Gue harus mandi junub setelah ini dari zina badan!"
Kira membuka tangan Nathan yang menutupi matanya. Dia tidak percaya kalau adiknya demen sesama jenis. "Raka, aku gak percaya kamu belok!" histeris Kira membuat Raka menatap Kakaknya kesal.
"Raka lo belok, ya ampun emang lo gak laku sampe harus belok?!" Nathan menimpali.
"Kakak kenapa ngedukung aku belok!" kesal Raka. Tatapan Raka beralih pada Nathan. "Enak aja?! Gue masih laku?!" Raka tidak terima.
"Siapa yang ngedukung kamu?!"
"Itu tadi kenapa histeris begitu?! Kalo aku mau belok juga liat-liat orang dulu kali, Kak. Gak level aku sama cowok kayak dia?!" Raka menunjuk Vano dan Vano menatapnya dengan sudut bibir terangkat sebelah.
"Berarti kamu mau belok?!" mata Kira melotot.
Ups! Raka salah bicara! Raka langsung lari terbirit-birit menghindari kemarahan Kira. Dia tidak mau kena lemparan vas bunga di meja itu.
"Raka awas kamu ya?!" teriak Kira.
"Gak takut, yayayayy!" teriak Raka juga.
Sedangkan Vano terkekeh kecil dan Nathan pun tertawa terbahak-bahak melihat perdebatan Adik-Kakak itu, entahlah mereka heran dengan Adik-Kakak itu terkadang mereka bermesra-mesraan seperti sepasang kekasih terkadang juga mereka bertengkar seperti kucing dan anjing.
Seru juga punya musuh koplak kayak Raka. Vano membatin. Dia tersenyum tipis.
__ADS_1