Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
[18] Cium Aku.


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Nathan langsung membersihkan diri. Siapa tau kan Kira akan menciumnya nanti? Akh, membayangkannya saja membuat Nathan tersenyum-senyum sendiri.


Setelah selesai membersihkan diri, Nathan keluar dari kamar mandi. Seperti biasa dia hanya memakai handuk di lilitkan di pinggangnya. Dia berjalan ke ruang ganti dengan mengacak-acak rambut basahnya.


Kira yang sedang duduk di sofa, tempatnya tidur langsung melotot ketika melihat Nathan keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk di lilitkan di pinggangnya. Ini memang bukan pertama kalinya dia melihatnya namun kali ini dia melihat jelas tubuh atletis Nathan.


Kira sering melihat tubuh atletis Raka saat berada di rumah Ayahnya namun sekarang kan berbeda. Nathan bukanlah Raka adiknya.


Nathan memberhentikan langkahnya ketika menyadari Kira tengah duduk di sofa sambil melototinya, sebuah ide mesum terlintas di otaknya. Dengan sengaja Nathan membelai dada bidangnya di hadapan Kira yang makinĀ  membulatkan matanya. Nathan ingin tahu berapa tahan Kira dengan pesona yang dia miliki.


"Menjijikan!" ungkapan Kira sangat berbeda dengan ekspetasi Nathan.


Wajah Nathan seketika menjadi masam. Namun itu tidak membuat Nathan menyerah. Dia melangkah mendekati Kira dengan senyuman nakalnya.


"Mau ngapain?!" Kira jadi was-was. Dia menaikkan kakinya ke atas sofa.


Nathan makin mendekatinya dan menibani Kira yang bersender ke senderan sofa. Kedua tangannya mengunci Kira agar tidak pergi kemana-mana.


Mata Kira menatap perut kotak-kotak Nathan. Rasanya jika di lihat sedekat ini, Kira mau menyentuhnya.


"Mau menyentuhnya?" tanya Nathan sepertinya dia sudah tau Kira mau menyentuh perutnya.


Kira menggeleng, dia mendorong tubuh Nathan agar menjauh darinya. "Minggir!"


"Gak mau. Kecuali kamu cium aku."


Kira menatap tajam Nathan. "Gak akan ya!"


"Yaudah kalo gitu aku gak mau minggir." kekeh Nathan.


"Minggir Nathan, saya mau ketemu Raka, dia pasti mau pulang sekarang." wajah Kira memelas.


"Kan aku bilang, cium aku dulu baru aku minggir."


"Iya nanti."


"Gak mau sekarang!"


"Nanti Raka bakal marah sama saya, dia mau pulang sekarang."


"Kan aku bilang, cium aku dulu! Gitu aja di persulit."


Kira mendengus. Dia menatap Nathan yang menunggu ciuman darinya. "Oke, kamu boleh cium saya sekarang." akhirnya Kira mengalah. Dari pada dia tidak bertemu Raka yang sebentar lagi ingin pulang?


Nathan berdecak. "Aku mau kamu yang cium aku."


"Anda ngejek saya yang gak bisa berciuman ya?!" kesal Kira.


"Belajar mangkanya."


Kira berdecak sebal. "Cepetan dan minggir, saya mau ketemu Raka!"


Nathan duduk di sebelah Kira. Dia mengangkat tubuh Kira ke pangkuannya. "Aku akan ajari kamu cara berciuman."


Siapa yang minta di ajarin? Batin Kira. Ya udahlah ya ikutin aja biar cepet-cepet bisa pergi ketemu Raka.

__ADS_1


Nathan mendekatkan bibirnya ke bibir Kira. Saat bibir mereka bertemu, Nathan mencium bibir Kira dengan lembut. Dia meresap dan ******* bibir Kira dengan menghayatinya.


Kecapan bibir Nathan yang bermain di bibir Kira terdengar jelas. Tangan Nathan memeluk Kira agar lebih dekat dengannya dengan begitu dia bisa memperdalam ciumannya.


Tangan Kira tidak tahu dari kapan sudah melingkar di leher Nathan. Kira merasa tidak tahu malu karna sudah menikmati ciuman yang di berikan Nathan padanya.


"Kakak?!" teriakan Raka membuat Nathan memberhentikan ciumannya. Dia menatap Kira yang juga menatapnya.


Akh, sial. Umpat Nathan karna Raka mengganggu ciumannya.


Nathan berdecak sebal. "Temuin adik kamu dulu sana." kata Nathan di angguki Kira.


Kira turun dari pangkuan Nathan, dia berjalan ke pintu yang tertutup rapat lalu membuka pintu kamar yang langsung menampakkan Raka yang memasang wajah kesal.


"Lama banget sih?!" gerutu Raka.


Kira menggaruk kepalanya. Dia merasa sangat malu karna Raka sudah menunggunya lama sedangkan tadi dia sedang menikmati ciuman yang Nathan berikan.


"Ai'em maaf."


"Lagi ngapain sih?" tanya Raka, mengintip-intip kedalam kamar Kira.


"E-enggak ngapa-ngapain, tadi abis nonton film jadi kelupaan."


Mata Raka memicing. "Masa? Kok aku gak percaya?"


Kira berdecak. "Emang kamu mikir apa?! Mikir jorok ya?!" tuduh Kira.


"Siapa? Aku cuma tanya!"


"Kakak jadi ngusir aku nih?"


"Iya, emang kenapa? Gak suka?"


"Ckk, dasar jelek."


"Kok kamu ngatain aku jelek mulu sih?!" Kira tidak terima.


"Emang kenyataannya begitu kan?"


"Tapi jangan ngatain aku jelek juga!"


"Jelek, jelek, jelek!" Raka malah sengaja mengatai Kira membuat Kira benar-benar marah.


Pertengkaran Kakak-adik itu tidak membuat Nathan tertarik. Nathan hanya menyenderkan kepalanya di senderan sofa.


...****************...


"Aku pulang ya, Kak." pamit Raka.


"Titip salam buat Ayah, ya." Raka mengangguk.


Raka menundukkan kepalanya. Jujur, dia tidak mau jauh dari Kira begitupun sebaliknya.


"Kenapa kamu?"

__ADS_1


Raka mendonggakan kepalanya lagi menatap Kira. "Peluk ya kak?" pintanya dan Kira langsung mengangguk mengiyakan.


Kira merentangkan kedua tangannya di depan Raka dan Raka langsung memeluk Kira dengan erat.


"Mangkanya punya pacar, biar gak minta peluk mulu sama aku." kata Kira di dekapan Raka, sedikit meledek Adiknya.


"Sombong, mentang-mentang sekarang udah punya suami." balas Raka. Kira tertawa. Dia menepuk-nepuk punggung Raka pelan.


Raka menggelamkan wajahnya di rambut Kira. Rasa rindu akan pelukan Kakaknya terasa terbalaskan sekarang.


Vano yang berada di ruang tamu menyaksikan adegan Adik-Kakak itu berpelukan. Apa Nathan tidak merasa cemburu pada Raka? Ya, walaupun Raka bernotabe sebagai adiknya Kira tetap saja Raka yang sudah memenuhi hati Kira setelah Ayahnya.


Raka melepaskan pelukannya, dia menatap Kira yang mengeluarkan air mata. Segera Raka menghapusnya dengan kedua ibu jarinya.


"Kenapa nangis, kak?" tanya Raka heran. Sebegitu rindunya kah Kira sampai mengeluarkan air mata?


"Akhir-akhir ini aku selalu kepikiran sama kamu dan Ayah. Aku takut terjadi apa-apa sama kalian berdua." lirih Kira.


Bagaimana bisa sama? Akhir-akhir ini malah Raka kepikiran Ayahnya dan Kira, dia takut terjadi sesuatu menyangkut kedua orang yang sangat ia cintai.


"Udahlah Kakak aja yang terlalu kangen sampe-sampe mikir begitu. Tenang aja, aku sama Ayah baik-baik aja kok." kata Raka, menenangkan hati Kira walau hatinya juga bercampur aduk sekarang.


"Aku mau bilang sama Nathan biar kamu sama Ayah tinggal di sini, aku gak mau jauh dari kalian."


"Gak usah lah, aku males ngeliat muka manusia nurjana itu?!" ucap Raka sengaja di besarkan membuat Vano menatapnya tajam.


Kira memukul bahu Raka. "Jangan cari masalah!" peringatan Kira.


"Iya-iya."


"Kamu pulang sana, bilang sama ayah, aku kangen sama dia. Banget."


Raka mengangguk. "Asal jangan kangen sama tetangga s*tan itu aja."


Kira tertawa pelan. "Hus, gak boleh ngomong begitu." Raka pun ikut tertawa.


"Hati-hati di jalan ya!"


Raka mengangguk kencang seperti anak kecil. "Iya, aku pulang ya?"


.


"Eh, ny.et, gue pulang dulu ya?! Sampai jumpa di sekolah!" teriak Raka. Vano yang mendengarnya memutar bola matanya jengah.


Sebelum beranjak pergi, Raka mencium pipi Kira sebentar lalu dia berlari ke luar Mension.


Vano yang melihat itu tidak percaya. Mereka itu Adik-Kakak atau sepasang kekasih sih?! Kenapa bisa seromantis itu?


Kira memegang pipinya, dia menatap kepergian Raka dengan senyuman mengembang. Setelah Raka benar-benar pergi dengan sepeda motornya, Kira masuk ke dalam Mension.


"Kamu belom tidur?" tanya Kira kepada Vano.


"Nanti." jawabnya singkat.


"Kalo gitu, aku ke kamar dulu ya? Jangan malem-malem tidurnya, gak baik." nasihat Kira yang membuat hati Vano hangat.

__ADS_1


Kira tersenyum pada Vano dan beranjak pergi dari sana, meninggalkan Vano sendirian di ruang tamu.


__ADS_2