
Kira menenggelamkan wajahnya di dada bidang Nathan yang terlapis kaos putih. Dia merasa sangat nyaman di dekapan Nathan selain Raka dan Ayahnya. Dia menyukai bau tubuh Nathan, bau aroma mint bercampur maskulin sangat membuatnya ingin berlama-lama di dekapan Nathan.
"Sekretaris Rendy udah pulang?" tanya Kira.
"Udah, sebelum pulang dia ngajak Raka berantem dulu padahal Raka kayaknya lagi gak mood." jawab Nathan dengan kekehan kecil mengingat Sekretarisnya yang koplak itu selalu bertengkar dengan adik iparnya yang sama-sama koplak. Sama sih kayak dia.
Kira tertawa kecil di dekapan Nathan. Dia mengingat betul bagaimana kedua orang itu bertengkar apalagi jika Nathan bergabung dalam pertengkaran itu. Habis sudah dunia perdamaian. "Kayaknya kalian harus bikin geng deh, geng koplak. Otaknya geser semua." ucap Kira.
"Geser-geser gini masih ahoy kan?" goda Nathan dan mendapatkan pukulan di dadanya. Nathan tertawa.
"Percaya diri!" cibir Kira. Telunjuk Kira menari-nari di dada bidang Nathan, membuat garis abstrak di sana.
"Kira," panggil Nathan lembut.
"Hmm?" jawab Kira berdeham, dia masih membuat garis abstrak di dada Nathan dengan telunjuknya.
"Boleh aku minta gantinya? Aku janji gak kelewat batas." pinta Nathan.
Kira terdiam sebentar, telunjuknya pun diam di satu titik di tengah-tengah dada Nathan. Tak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya di dalam dekapan Nathan.
Nathan yang mendapat izin dari Kira, Nathan melepaskan dekapannya. Dia menatap Kira yang sudah memerah semerah tomat matang.
Dengan secepat kilat, Nathan berganti posisinya menjadi menindih tubuh mungil Kira. Dia menatap Kira yang tersipu malu, tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"T-tapi janji jangan kelewat batas, aku cuma belum siap aja." peringatan Kira sebelum Nathan melancarkan aksinya.
Nathan mengangguk. "Iya, dasar jelek." jawabnya.
Setelah itu, Nathan mendekat bibirnya ke bibir Kira. Awalnya dia hanya mengecup bibir Kira beberapa kali dan kemudian dia mendiamkan bibirnya di bibir Kira sampai akhirnya dia *******, meresap bibir Kira dengan penuh perasaan.
Mata keduanya terpejam, menikmati ciuman mereka di malam hari, di atas ranjang ini mereka seperti pasangan yang saling mencintai. Suara kecapan bibir keduanya memenuhi kamar.
Kira membalas ciuman itu dengan kemampuannya, tangannya tidak sengaja membelai dada bidang Kira lalu kedua tangannya melingkar di leher Nathan, menjambak-jambak rambut Nathan pelan. Begitu pun dengan Nathan yang entah dari kapan salah satu tangannya sudah berada di salah satu gunung kembar Kira, m*rem*snya lembut membuat Kira merengkuh di sela ciuman mereka.
__ADS_1
Ciuman itu makin lama menjadi makin panas, bahkan Nathan makin memperdalam ciumannya sampai lidah keduanya bergelut di dalam mulut mereka. Kecapan dan ******* memenuhi ruangan.
"Ah," lengkuhan yang lolos keluar dari mulut Kira. Seakan menjadi musik di telinga Nathan yang membuatnya candu untuk mendengarkannya.
Tangan Nathan sudah menyelinap ke dalam lingerie berwarna putih Kira, dia m*rem*s gunung kembar Kira yang tertutupi bra tanpa busah. Dia m*rem*s gunung Kira yang sekarang menjadi mainan favoritenya.
Merasa sudah puas dan tidak ingin kelewat batas, Nathan memberhentikan ciuman itu. Nafas kedua tersengal-sengal, dahi mereka menyatu satu sama lain. Nathan tersenyum senang, setidaknya dia bisa menuntaskan hawa nafsunya.
"Terimakasih," kata Nathan, memberi kecupan di leher jenjang Kira singkat lalu menjatuhkan tubuhnya di sebelah Kira, tempat tidurnya sebelumnya.
Tok Tok Tok!
Suara ketukan di pintu mengisi keheningan. Ketukan itu makin lama makin kencang membuat Nathan dan Kira saling menatap satu sama lain. Mereka tahu siapa orang yang berani mengetuk-ngetuk pintu kamarnya seperti itu selain Raka dan Sekretaris Rendy tidak ada lagi orang yang berani melakukan itu.
"Kayaknya itu Raka deh," kata Kira, mengetahui kalau orang yang mengetuk seperti polisi yang ingin menggerebek seseorang di kamar hotel adalah Adiknya, Raka.
Nathan memutar bola matanya. Kenapa sih anak itu selalu mengganggu kebersamaannya dengan Kakaknya. Bukan cuma sekali, tapi berkali-kali, anak itu mengganggunya.
"Kamu yakin mau buka pintu dengan baju seperti itu?" Nathan menatap lingerie yang melekat di tubuh Kira.
Oiya, Kira lupa kalau sekarang dia memakai lingerie seksi, mana mungkin dia membukakan pintu dengan pakaian seperti ini?
"Terus gimana dong? Kayaknya Raka butuh sesuatu."
Nathan membuka kaos yang ia pakai lalu memberikannya kepada Kira yang tidak mengerti apa yang di maksud Nathan dengan membuka kaosnya dan memberikannya kepadanya. Maklum otak Kira lemot.
"Pakai dulu itu," ujar Nathan.
Setelah mencerna maksud Nathan, Kira menganggukan kepala dengan mulut terbuka bak ikan lohan. Dia segera memakai kaos polos berwarna putih itu, senada dengan lingerie yang ia pakai. Setelah terpakai, Kira langsung beranjak dari ranjang dan mendekati pintu, membukakan pintu kamar.
Terlihat di hadapannya Raka yang menekuk wajahnya. Pemuda itu seakan merajuk pada Kakaknya yang lama membukakan pintu.
"Ada apa, Ka? Malem-malem datang ke kamar aku?" tanya Kira dengan kedua alis terangkat.
__ADS_1
"Kenapa Kakak kayak merasa terganggu kayak gitu?" ketus Raka.
Nathan pun mendekati Kira yang berbincang dengan adiknya di depan pintu, dia menatap Raka yang justru menatapnya tajam.
"Gak kok, ini udah malam aja. Kok kamu belum tidur?" Kira mengalihkan isu.
"Nah iya, udah malam jangan ganggu orang lagi mesra-mesraan." sindir Nathan.
Kira menyiku perut Nathan membuat Nathan meringis. "Kenapa Raka?" tanya Kira pada Adiknya yang bertingkah aneh.
"Kak, bikinin aku susu coklat ya?." pintanya manja, seakan tidak mempedulikan suami Kira yang berada di sebelah Kira yang memasang wajah tidak suka.
"Heh?! Udah gede minta di bikini susu, Kakak lo udah punya suami, oy!" tegur Nathan.
"Yang penting gue adiknya, mau apa lo?" Raka melotot menantang Nathan.
"Yehhh, nih bocah!" gerutu Nathan.
"Kenapa? Lo cemburu?" Raka menantang Nathan lagi.
"Udah-udah jangan berantem, ini udah malam." lerai Kira. Kira menghebus nafasnya. Walaupun Kira sudah punya suami, Kira masih memikirkan Adiknya. Mungkin saja saat ini Raka merasa kesepian jadi memintanya untuk membuatkan susu.
"Yaudah, aku bikinin kamu susu, kamu ke kamar aja dulu sana nanti aku antar." ucap Kira membuat Nathan menganga tidak percaya.
"Kiraaaa, setega itu kau meninggalkan Suamimu yang tengah mengandung anakmu?" kata Nathan penuh drama. Sedangkan Raka tersenyum penuh kemenangan.
Kira memutar bola matanya, dia menatap tajam Nathan yang ditatap justru malah menyengir kuda. "Gak usah lebay." celetuk Kira pada Nathan.
Raka tersenyum meledek Nathan yang menekuk wajahnya. "Yaudah, aku tunggu di kamar ya?" kata Raka memasang wajah meledek ke Nathan. "Bye!" lanjutnya kepada Nathan.
"Iya, tunggu di kamar sana."
Raka mengangguk sambil tersenyum lebar pada Kira, dia beralih menatap Nathan yang menatapnya kesal. Raka melambaikan tangannya ke pada Nathan dimana membuat Nathan naik darah karna adik iparnya yang songong itu.
__ADS_1