
Di perjalanan pulang, Kira tidak banyak bicara bahkan saat Nathan menggodanya dan meledeknya, Kira hanya diam tidak berniat memarahi atau memberi cubitan ke Nathan seperti yang Kira lakukan biasanya. Dia hanya berdecak beberapa kali tanpa menoleh ke Nathan sama sekali.
Nathan melirik Kira yang menatap ke luar jendela. Apa yang dibicarakan Mauren pada Kira sampai membuat Kira jadi seperti itu? Dan itu membuat Nathan khawatir. Lebih baik Kira yang galak dan jutek dari pada Kira yang pendiam seperti ini.
"Jelek, kamu ini kenapa sih dari tadi diam mulu? Kamu kerasukan jin mall ya? Sampe diam begitu kayak lagi nahan e'ek." tanya Nathan dengan wajah ngeselinnya.
"Saya gak apa-apa." jawab Kira. Biasanya Kira langsung marah jika Nathan memanggilnya dengan sebutan 'Jelek' tapi kenapa dia jadi seperti ini?
Kira mengusap air matanya dan Nathan melihatnya. Kira menangis? Tapi karna apa? Apa yang terjadi padanya? Tolong jin tomang yang ada di dalam guci pusaka beri tahu kepadanya kenapa hanya dengan menggosok guci itu dia akan keluar dan memberikan satu permintaan? Oke, lanjut..
Seketika Nathan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, dia melepaskan sabuk pengamannya dan mendekati Kira yang masih menatap keluar jendela. "Hei, kalo ada masalah bicara ke aku, jangan diam begini. Kamu lebih nyeremin kalo lagi diam begini." kata Nathan, dia memegang bahu Kira agar Kira menoleh ke arahnya.
Akhirnya setelah sekian lama memandangi keluar jendela, Kira menatap Nathan dengan tatapan tajam. Matanya memerah karna menangis terlalu lama.
"Jangan ganggu saya!" kesal Kira yang membuat Nathan menghela nafas lega. Akhirnya Istrinya yang galak itu kembali lagi.
"Kenapa nangis?" tanya Nathan dengan kerutan di dahinya.
Kira melengos lagi. "Cuma lagi kangen Ayah." katanya, berbohong padahal hatinya tengah bercampur aduk karna mendengar ucapan Mauren di toilet tadi.
"Tapi beneran gak kesurupan kan?" Nathan memastikan. Dia takut kalau jin di dalam mall berani merasuki Istrinya.
Kira mendecak kesal. "Bisa gak sih diam beberapa menit gitu?!" geram Kira.
__ADS_1
Nathan menyengir pada Kira yang menatapnya tajam. Dia memasang sabuk pengamannya lagi dan menyalahkan mesin mobilnya kembali.
...****************...
Raka mengitari rumah Nathan. Dia bosan terus berada di dalam kamarnya namun matanya seketika memicing dengan tangan berkacak pinggang melihat Vano berada di tepi kolam dengan Gadis bocil yang sering mencari gara-gara dengannya. Gadis itu tertawa-tawa dengan Vano yang hanya memasang wajah datarnya.
Merasa curiga, Vano ada sesuatu dengan Gadis itu akhirnya Raka mendekati mereka berdua dan berdiri di belakang mereka yang tengah berbincang-bincang.
"Kamu tau gak sih, aku itu benci banget sama Raka karna dia sering mukulin kamu. Aku gak suka banget sama dia yang bisanya cuma cari masalah dan membuat onar. Pokoknya dia itu bagiku yang paling rendah dari yang paling rendah." ucap Gadis bernama Kasih itu kepada Vano yang tidak menjawabnya sama sekali Vano hanya berdeham-deham saja.
Merasa namanya di sebut-sebut oleh Gadis berambut panjang itu, Raka mulai naik darah. "Eh, berani banget lo ya ngejelek-jelekin gue?!" tegur Raka membuat Kasih langsung menoleh tapi tidak dengan Vano yang malah memutar bola matanya.
Kasih menatap bingung Raka yang berkacak pinggang. Kenapa bisa Raka ada di rumahnya Vano?
"Heh! Aturan gue yang ngomong begitu?! Lo kenapa bisa ada di sini?! Punya hubungan apa lo sana Vanih sampe di bawa kesini! Sok, jawab pertanyaan gue?!" balas Raka tidak mau kalah.
"Saya kerja kelompok sama Vano, kenapa kamu cemburu ?!" jawab Kasih, dengan percaya dirinya.
Mendengar itu Raka tertawa renyah. "Percaya diri banget lo, najis tau gak cemburu sama lo, udah jelek, burik ngeselin, cih pengen gue jemburin aja lo di got."
"Kok kamu ngatain fisik?! Lagi pun siapa yang berharap kalo kamu suka sama saya? Gak ada ya?!"
"Nah, bagus. Karna gue gak mau tanggung jawab kalo lo suka sama gue!"
__ADS_1
"Idih, kepedean. Gak akan pernah!"
Vano hanya menyimak perdebatan Kasih dan Raka di belakangnya itu. Dia sedang tidak mood melerai perdebatan itu.
"Udah sana lo balik. Ngeliat lo di sini cuma bikin gue eneg aja." usir Raka.
"Emangnya kamu siapa berani ngusir saya dari sini? Yang boleh ngusir itu Vano karna di tuan rumahnya." kata Kasih sengit.
"Gue? Raka, si cowok tampan seantero negeri." bangga Raka dengan menepuk-nepuk dadanya dimana membuat Vano ingin muntah mendengarnya.
"Paling tampan? Kok saya malah ngevote Vano buat jadi cowok tertampan di dunia ya?"
"Ye, tampanan gue lah, gile."
"Idih percaya diri banget ya kamu jadi manusia." cibir Kasih.
"Gak terima nih ceritanya?" Raka tersenyum meledek.
Vano bangun dari tepi kolam, dia menarik tangan Kasih menjauh dari Raka. Mendengarkan perdebatan mereka membuat kepala Vano pusing saja.
Raka tersenyum miring melihat Vano membawa Kasih. Sekarang dia tahu alasan Vano membiarkan Kasih mendekatinya.
Seperginya Vano dan Kasih dari area kolam, Raka membuka baju yang ia kenakan, membuangnya ke sebarang arah. Setelah itu menceburkan dirinya di kolam. Malam-malam berenang dengan penuh hati. Ya lumayan kan untuk reflexing kan diri.
__ADS_1