
"Kiraa!" Seru Eka. Dia memberi suprise pada Kira atas kedatangannya ke rumahnya membuat Kira langsung tersenyum lebar.
"Ya ampun, Eka?" Kira benar-benar terkejut dengan kedatangan sahabatnya itu. Ia kira Eka tidak tahu alamat rumahnya dan ternyata secara kejutan Eka datang kesini.
Eka tersenyum, dia dan Kira langsung berpelukan. Melepaskan kerinduan mereka masing-masing.
"Aduh, aku kangen banget tau. Udah berapa bulan kita gak ketemu." Kata Eka sambil melepaskan pelukannya itu dan menatap Kira.
Kira mengangguk. Benar, dia sudah berbulan-bulan tidak bertemu Eka dan dia pun merasa rindu pada sahabatnya itu. "Sama, aku juga kangen tau." Ucap Kira. "Eh, tapi dari mana kamu tau alamat rumah ini?" Tanya Kira.
"Tau dari Raka. Aku ketemu dia belum lama ini. Yaudah deh aku main kesini, lagipun aku pengen liat-liat rumah suami kamu itu." Jawab Eka.
Tatapan Eka beralih ke perut Kira yang membuncit, matanya memicing menatap Kira membuat Kira bingung.
"Kenapa, ada yang salah sama aku?" Tanya Kira, heran dengan tatapan Eka yang memicing itu.
Eka cekikikan seketika. Dia mendekati Kira, menyentuh perut Kira yang agak membuncit itu. "Jadi, aku punya keponakan nih?" Katanya menggoda Kira.
Kira tersenyum dengan pipi memerah. "Iya." Jawabnya.
"Udah berapa bulan?" Tanya Eka.
"Udah masuk enam bulan sih."
"Bukannya kamu sering sebut suami kamu nyebelin tapi kok bisa sampai hamil?" Goda Eka.
"Ya, karna dia suami aku lah, Ka."
Eka tertawa. Dia bahagia Kira akhirnya menemukan kebahagiaannya bersama suaminya dan keluarga kecilnya. Dia agak sedikit cemburu dengan Kira yang sudah menemukan kebahagiaannya dan semoga dia juga akan menemukannya suatu hari nanti.
Seakan mengerti tatapan Eka padanya. Kira memegang tangan Eka. "Tenang aja, kamu mau aku jodohin?"
Eka langsung menggeleng cepat. Mana mau dia dijodohkan, nanti malah dia dijodohkan dengan orang aneh lagi. "Gak deh, Ra. Makasih." Tolak Eka membuat Kira tertawa.
"Didalem aja yuk lanjut ngobrolnya, gak capek berdiri disini mulu?" Ajak Kira.
"Iya sih, kakiku rasanya kaku saking pegelnya nih."
"Yaudah yuk masuk, aku pengen kenalin kamu sama keluarga baru aku."
Eka mengangguk. Dia mengikuti langkah Kira masuk kedalam rumah gedongan itu. Jujur, pertama kali melihat rumah yang sekarang Kira tempati, Eka berdecak kagum.
Sampai diruang tamu, semuanya berkumpul. Nathan, Raka dan Vano yang tengah adu bacot langsung menoleh kearah Kira dan juga Eka yang berada disebelahnya.
Kedua alis mereka terangkat kecuali Raka. Mereka baru pertama kali melihat Kira membawa teman kerumah padahal mereka kira, Kira adalah orang yang tidak punya teman berhubung saat pernikahan tidak ada sahabat atau teman Kira yang diundang.
__ADS_1
Eka betul-betul kagum dengan Kira. Dia bisa tinggal bersama tiga lelaki tampan dirumah ini. Beruntung sekali Kira.
Kira menyuruh Eka duduk bersamanya disofa. Dia tersenyum lebar. "Kenalin ini sahabat aku, Eka." Kira memperkenalkan Eka didepan Nathan dan Vano kecuali Raka karna dia sudah mengenal Eka dan dialah yang memberi tahu alamat rumah ini kepada Eka.
"Dan Eka, ini Vano dan ini Nathan, suami aku." Ucap Kira.
"Kamu kok gak pernah cerita punya sahabat sama aku, Kira?" Kata Nathan, matanya memicing kearah Kira yang duduk disebrangnya.
"Emang kenapa?" Tanya Kira.
"Jahat sekali kamu Kira. Suamimu ini terzholimi." Ujar Nathan, dramaris dimana Eka yang melihatnya menganga tidak percaya.
Bagaimana tidak, wajah Natha itu tampan seperti lelaki cool gitu, eh tapi ternyata begini. Tapi agak lucu juga sih. Jarang-jarang ketemu lelaki tampan seperti Nathan. Udah cool, keren, dan juga sangat tampan.
"Harap jangan diladeni ya, Ka. Dia emang orangnya begitu sama aku, banyak tingkah." Kata Kira kepada Eka.
Jadi, Nathan begitu cuma sama Kira? Astaga kenapa Eka malah jadi baper? Pokoknya dia pendukung hubungan Nathan dan Kira mulai sekarang.
"Gak papa kok, Ra. Jarang-jarang, loh. Orang kayak suami kamu itu." Ceplos Eka.
Kira mengangguk. "Emang sih, dia aneh kayak alien. Padahal kamu tau kan tipe suami aku kayak gimana, eh malah dapetnya dia." Kira melirik Nathan yang menatapnya kesal.
"Eh, tapi cocok kok."
Eka mengangguk. "Cocok dari sisi ketidak manusiawi." Eka dan Kira tertawa seketika.
Bahkan Raka dan Vano yang hanya menyimak ingin tertawa mendengar ucapan Eka barusan.
Nathan menatap kedua wanita itu dengan wajah datar. Dia melihat kejam tangan yang melingkar ditangan kirinya. "Si sialan mana sih." Gerutu Nathan.
Si sialan yang dimaksud Nathan itu, Rendy.
Tak lama kemudian Rendy datang dengan pakaian kantorannya. Dia berjalan menghampiri Nathan dan family diruang tamu.
Namun langkahnya terhenti ketika dia melihat seorang wanita yang duduk disebelah Kira tengah tertawa dengan cantikya. Jantungnya seketika berdetak lebih cepat. Dia tidak pernah merasakan itu ketika bertemu wanita mana pun.
Menyadari kehadiran Rendy, Nathan berdecak sebal. "Eh, g*blok. Ngapain malah diem disitu!" Ketus Nathan.
Kira dan Eka langsung memberhentikan tawanya dan menoleh kearah Rendy berdiri. Dahi mereka mengkerut ketika melihat Rendy menatap mereka sambil tersenyum-senyum. Tapi tidak mungkin Rendy menatap Kira begitu, sudah Kira duga Rendy menatap kearah Eka yang disebelahnya.
Rendy langsung tersadar. Dia berdecak sebal karna Nathan menganggunya. "Paan sih lo." Sahut Rendy.
"Dia itu siapa, Ra?" Bisik Eka matanya menatap Rendy yang juga melihat kearahnya.
"Dia itu sekretaris sekaligus sahabat Nathan namanya Rendy." Bisik Kira juga.
__ADS_1
ka manggut-manggut.
Rendy menjadi salah tingkah ketika Eka memberikan senyuman padanya. Dia menggaruk-garuk tekuknya, salah tingkah karna senyuman Eka itu.
Melihat Rendy salah tingkah, Nathan menendang kaki Rendy dengan sengaja. "Ye, malah salting lagi lo. Buruan, kita harus ke kantor!" Kata Nathan seraya bangun dari sofa.
Rendy berdecak lalu menatap Eka sekali lagi. Dia tersenyum pada Eka.
Kira mendekati Nathan yang hendak ingin pergi ke kantor. Dia harus menemani suaminya setidaknya sampai depan pintu.
"Gak usah antar aku, sayang. Kamu disini aja." Kata Nathan.
"Biasanya kan aku nganter kamu. Kenapa sih emang?"
"Ya, gak papa. Jangan terlalu kecapekan." Nasihat Nathan.
"Ya ampun Nathan. Kamu udah ngomong begitu hampir setiap hari, loh!" Kira tertawa kecil.
"Ya gak papa, biar kamu inget terus."
Nathan melihat sekeliling. Semuanya seperti sudah tahu apa yang ingin dia lakukan dengan istrinya dan mereka membuang pandangannya secara bersamaan.
Setelah melihat semua mahluk hidup itu membuang pandangannya, Nathan segera mencium pipi sebelah kiri Kira membuat pipi Kira memanas. Padahal itu sudah menjadi tradisi mereka setiap Nathan ingin pergi ke kantor tapi tetap saja membuang Kira merona.
"Aku berangkat, ya."
Kira mengangguk. "Hati-hati." Ucap Kira.
Nathan tersenyum pada istrinya
lalu dia beranjak pergi dari sana diikuti Rendy. Sebelum pergi Rendy masih sempat-sempat mencuri pandang kearah Eka.
Seperginya Nathan, Kira kembali duduk disofa disebelah Eka. "Kalian ke kamar sana, jangan ganggu aku sama Eka, ya!" Usir Kira pada Raka dan Vano yang tengah saling mencibir itu.
Raka memutar bola matanya. "Bilang aja mau gossip yang jorok-jorok kan? Pake ngusir aku segala." Cibir Raka.
Kira dan Eka meberikan Raka tatapan tajam. "Enak aja, emang kamu!" Balas Kira.
"Apa aku? Aha, Vanih tuh."
"Lah kok bawa-bawa gue, curut?" Vano menyahut.
Raka mengangkat bahunya. "Gak tau kepikiran aja buat bawa-bawa nama lo."
"Kalian ini pantes ya. Omaygot, mulai sekarang aku dukung kalian berdua. Fighting!" Seru Eka melihat Vano dan Raka bertengkar dia dengan semangat menyemati agar kedua cowok itu berpasangan. Aneh memang, tapi itulah Eka..
__ADS_1