Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
[09] Berhenti!


__ADS_3

Kira pulang pukul sepuluh malam, setelah di hantar Nathan sampai ke depan gang, Kira berjalan memasuki gang dengan menggenggam erat tali tas ranselnya.


"Tumben pulang jam segini, biasanya pulang larut, neng." kata bapak-bapak yang dogan bergosip itu.


"Di sewa orang kaya dia, tadi di anterin mobil mewah. Banyak dong uangnya."


Kira hanya tersenyum lalu melanjutkan langkahnya ke arah rumahnya. Tanpa peduli akan cibiran bapak-bapak tukang gosip itu.


"Assalamualaikum," salam Kira ketika masuk ke dalam rumahnya.


"Waalaikum salam." jawab Raka yang kebetulan sedang berada di ruang tengah, bermain game online. "Tumben kak, pulang cepat." kata Raka tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.


"Iya nih." Kira menutup kembali pintu rumahnya lalu menghampiri Raka yang tiduran di lantai. "Ayah udah tidur?" tanya Kira.


Raka mengangguk. "Iya,"


"Kok kamu belum tidur?" Kira mendudukkan bokongnya di sebelah Raka berbaring.


Raka mengangkat kepalanya, memindahkan kepalanya ke paha Kira. "Lagi sibuk."


Kira menjitak kepala Raka. "Sibuk apaan? Main HP teros kerjaannya."


Raka menyengir. "Itu kan sibuk juga kak."


Kira membelai rambut Raka yang berada di pahanya, lembut. Dia fokus ke wajah Raka yang fokus bermain game online. Seketika keningnya mengkerut ketika dia baru menyadari luka yang berada di sudut bibir Raka dan di dahinya.


Jari lembut Kira menyentuh sudut bibir Raka. Raka yang sedang fokus-fokusnya langsung tersentak ketika Kira menyentuh sobekan di sudut bibirnya. Bukan hanya Raka yang meringis ketika Kira menyentuhnya, Kira pun juga ikut meringis.


"Ini kenapa?" tanya Kira.


"I-itu kak, kepentok meja di sekolah." bohong Raka.


Kira menghela nafasnya, dia menjewer telinga Raka yang memerah. Dia tau Raka membohonginya, karna telinga Raka akan memerah ketika sedang berbohong.


"Sakit kak!" Raka mengaduh kesakitan.


"Gak usah bohong ya! Aku tau kamu bohong!" bentak Kira.


Raka meringis, dia bahkan sudah tidak fokus lagi memainkan game online di ponselnya. "Iya aku bohong, ai'em maaf." sesal Raka.

__ADS_1


"Itu kenapa?" tanya Kira sekali lagi.


"B-berantem."


"Sama siapa?"


"Sama teman sekelas."


"Gara-gara kenapa? Gara-gara perempuan?


"B-bukan, karna dia ngatain aku miskin gak berguna," ucap Raka pelan.


"Bangun!"


Raka bangun. Dia terduduk menatap Kira yang berjalan ke arah kamarnya dan keluar lagi dengan membawa sekotak P3K di tangannya.


Raka mengangkat kedua alisnya kala Kira duduk di hadapannya. "Mau ngapain kak?"


"Diem!" Kira menjepit kedua pipi Raka dengan tangannya, dia mulai mengobati luka di dahi dan sudut bibir Raka dengan hati-hati.


"Lain kali biarin aja teman kamu ngomong apa, emang kenyataannya bener kok." ujar Kira, dia fokus mengobati luka adiknya.


"Gak kok, aku gak ngomong begitu, kamu yang ngomong tadi."


"Kakak!" rengek Raka seperti anak kecil.


"Ai'em maaf." Kira meniru cara Raka minta maaf. Raka mengembungkan pipinya. Kira pun mencubit pipi Raka gemas.


Selesai mengobati Raka, Raka menundukkan kepalanya membuat Kira mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?" tanya Kira, menangkup kedua pipi Raka agar menatapnya.


"Ai'em maaf kak, karna aku selalu nyusahain Kakak," lirih Raka.


Kira tersenyum. "Kamu gak pernah nyusahin aku. Jadi, jangan pernah anggap kamu nyusahin aku, ngerti?"


Raka mengangguk polos. "Kak, ada gak ya, perempuan yang modelannya kayak kakak?"


"Emangnya aku kenapa?"


"Kakak itu norak, kalo lagi di rumah rambutnya kayak orang gila, berantakan tapi Kakak cantik kok walaupun cuma seperapat."

__ADS_1


Kira langsung naik pitam. Dia mengepalkan tangannya di udara lalu memukul Raka habis-habisan. "Dasar adik durhaka!" teriak Kira.


"Ampun, hahahhaha," Raka tertawa terbahak-bahak mendapat pukulan dari sang Kakak.


...****************...


Tok! Tok! Tok!


Seseorang mengetuk pintu rumah Kira dengan kencang membuat Raka, Ayah Cahyo dan Kira yang berada di ruang tengah terkejut. Mereka dengan kompak langsung membuka pintu rumahnya.


Dan ketika pintu terbuka seorang Pria berbadan besar langsung menarik baju Ayah Cahyo. "Mana hutang lo, hah?!" bentak pria berbadan besar itu, dep kolektor.


Mata Kira terbelakak melihat cara perlakuan dep kolektor itu kepada Ayahnya. Dia melepaskan tangan Pria itu dengan memukul tangan besar itu.


"Ayah!" teriak Kira, matanya sudah berkaca-kaca apalagi saat Pria itu mendaratkan bokeman mentah kepada Ayahnya yang baru saja keluar dari rumah sakit.


Raka yang melihat itu tidak terima, dia mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Bangs*at!" Raka mendaratkan bokeman mentah di wajah Pria itu sampai Pria itu tersungkur ke belakang. Pukulan Raka sangat keras sampai sudut bibir Pria itu robek akibat pukulan yang di berikan Raka.


"JANGAN BERANI LO SENTUH KELUARGA GUE, BANGS*T?!" teriak Raka, memukul Pria itu membabi buta. Matanya memerah, rahangnya sangat keras. Raka terlihat sangat menyeramkan sekarang.


Kira menangis sesenggukan di tempatnya, dia memeluk Ayahnya yang tersungkur. Dia tidak menyangka jika Raka, adik manjanya akan menjadi menyeramkan ini.


Salah satu dep kolektor lainnya langsung memukul Raka yang sedang memukul temannya dengan membabi buta. Salah satunya lagi sudah memengangi tubuh Raka.


"LEPASIN GUE, ANJ*NG!" Umpat Raka.


Bugh! Bugh! Bugh!


Pukulan terus dep kolektor itu berikan kepada Raka yang sudah di pegangi temannya sampai Raka babak belur di buatnya.


Kira yang melihat itu menjerit. "Udah, jangan sakitin Raka!"


"Raka!" lirih Ayah Cahyo. Dia mengerutuki diri karna tidak bisa berbuat apa-apa di saat putranya di pukuli seperti itu.


"BERHENTI!" Kira berteriak sekencang mungkin.


Sampai akhirnya...


"Berhenti!" titah seseorang membuat mereka berhentikan pukulan pada Raka dan menoleh ke arah suara itu berasal. "Berhenti, atau kalian semua akan saya habisi!" ancam orang itu.

__ADS_1


__ADS_2