Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
38. Tersiksa


__ADS_3

Kira baru saja menyelesaikan ritual mandinya, dia berjalan keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk milik Nathan di tubuhnya. Dia berjalan santai karna mengira sekarang Nathan ada di ruang kerjanya bersama Sekretaris Rendy.


Namun siapa sangka, Nathan ada di ranjang sedang memperhatikan Kira tanpa Kira sadari.


Kira ingin mengambil sesuatu di atas lemari pakaian Nathan sampai harus berjinjit karna tinggi badannya tidak setinggi lemari itu. Kira kesusahan mengambil kontak berwarna hitam di atas saja sampai handuk yang menutupi tubuh polosnya terjatuh ke lantai.


Begitu handuk itu terjatuh, Nathan melototkan matanya, melihat tubuh Kira tanpa sehelai benang pun. Sangat menggoda imannya. Bahkan di bawah sana sudah mulai bereaksi.


Sampai akhirnya Kira bisa mengambil kotak hitam itu dimana ia menaruh pakaian dalamnya di sana karna tempo hari Nathan sering mengambilnya dan ia berinisiatif menyembunyikan pakaian dalamnya di atas lemari.


"Untungnya udah di sembuyiin, kalo gak Nathan pasti ngambil." gumamnya.


Saat sudah mengambil pakaian dalamnya, Kira mengambil lagi handuk yang tergeletak di lantai. Sampai akhirnya matanya menemukan sosok Nathan di atas ranjang sedang terduduk memperhatikannya, matanya membulat seketika.


"Akhhhhh!" teriak Kira, dia menutupi tubuhnya dengan handuk itu. Wajahnya benar-benar Semerah tomat sekarang.


Nathan tidak bergeming, jantungnya berpacu lebih cepat. Merasa sesuatu yang mendesak di bawah sana, Nathan mendekati Kira yang masih sibuk menutupi tubuh polosnya.


"Jangan dekat-dekat!" teriak Kira, ketika Nathan melangkah mendekat dan dia memundurkan langkahnya sampai punggungnya mencium pintu lemari.


Nathan menempelkan kedua tangannya di sisi kepala Kira, mengunci Kira. Dia menatap Kira dalam. "Aku tersiksa Kira." lirih Nathan memberi tahu bagaimana dia selalu tersiksa melihat Kira.


Kira meneguk slivarnya susah payah, dia diam membeku di tempat.


"Kamu lihat di sana? Dia selalu memberontak saat melihat kamu, Kira."


Tatapan Kira turun ke bawah ************ Nathan. sesuatu menonjol dari celana jeans pendek Nathan namun Kira langsung menatap Nathan lagi.

__ADS_1


Tangan Nathan terangkat memegang dagu Kira, dia memiringkan kepalanya sebelum bibir mereka bertemu, Nathan melesetkan bibirnya ke telinga Kira. Membisikkan sesuatu pada Kira.


"Apa boleh sekarang?" bisik Nathan di telinga Kira.


Kira terdiam, dia tidak bisa bicara apa-apa sekarang. Di satu sisi dia ingin mengiyakannya tapi di sisi lain dia belum siap melakukannya.


Tidak ada jawaban dari Kira,  membuat Nathan mendesah kecewa. Dia menjauhkan wajahnya dari Kira lalu membuang pandangannya ke sembarang arah. Kedua tangannya yang sebelumnya menempel di kedua sisi kepala Kira. "Kamu belum siap?" tanya Nathan tanpa menatap Kira karna kalau dia menatap Kira lagi, dia pasti tidak akan bisa menahan hasratnya.


Kira menundukkan kepalanya. Dia menarik tangan Nathan. "Maaf." lirihnya, matanya berkaca-kaca. Dia merasa sangat bersalah pada suaminya.


"Gak perlu minta maaf, aku ngerti kamu belum siap." Nathan tersenyum pada Kira kemudian dia berjalan menjauh dari Kira keluar dari kamarnya, meninggalkan Kira sendirian di sana.


Sedangkan Kira terdiam di sana. Dia menatap kepergian Nathan. Dia tahu Nathan kecewa padanya dan dia merasa bersalah.


Kira mencebik di tempatnya, dia melihat tubuh polosnya sendiri di balik cermin. Lalu dia menangis kencang di sana. "Akhhh, aku minta maaf suamiku.." rengek Kira sendiri. Dia ingin mengatakan itu kepada Nathan namun dia malu mengatakannya.


Tak lama kemudian dia keluar dari ruang ganti karna baju tidurnya di buang oleh Nathan, jadi dia memakai lingerie berwarna putih yang pas dengan tubuhnya sekarang. Btw, lingerie yang di siapkan Nathan untuknya sangat banyak bahkan lebih dari baju tidur biasanya, warnanya pun berbeda-beda.


Rambut Kira di ikat asal membuat leher jenjangnya terekspos jelas. Dia mendonggakan kepalanya ketika sudah menutup kembali pintu ruang ganti lalu berjalan ke ranjang namun langkahnya terhenti.


Nathan sudah kembali ke kamar, Pria itu menidurkan tubuhnya membelakanginya. Apa Nathan sangat kecewa padanya?


Mata Kira berkaca-kaca lagi untuk kedua kalinya. dia berjalan mendekati Nathan, menidurkan tubuhnya di sebelah Nathan yang membelakanginya. Ingin rasanya dia menenggelamkan wajahnya di dada Nathan. Dia merasa rindu dengan dada bidang Nathan apalagi saat Nathan membelakanginya begini. Munafik kah Kira ingin merasakan dekapan Nathan padahal dia jelas-jelas sudah membuat Nathan kecewa?


"Kamu kecewa sama aku?" akhirnya setelah lama hanya keheningan yang menyelimuti mereka, Kira memberanikan diri membuka suaranya.


Nathan tidak menjawab, dia hanya menghela nafas berat tanpa berniat menjawab pertanyaan Kira.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Nathan, Kira langsung memeluk tubuh Nathan dari belakang. Dia menggelamkan wajahnya di punggung lebar Nathan, air matanya keluar tanpa di izin.


Hal itu membuat Nathan membulatkan mata. Ia merasa basah pada punggungnya dan dia juga merasakan tubuh Kira bergetar di punggungnya. Seketika dia merasa bersalah karna mendiami Kira sampai Kira seperti itu.


"Maafin aku, huhu, maafin aku." tangis Kira di punggung Nathan. Dia memeluk erat Nathan dari belakang.


Apa Kira merasa bersalah padanya karna dia belum bisa memenuhi kebutuhan batinnya?


"Maafin aku, aku janji akan menyiapkan diri untuk kamu, aku janji.." lirih Kira. Dia makin memeluk Nathan erat.


Nathan merasa tidak tega. Dia pun melepaskan pelukan Kira di belakangnya lalu membalikkan badannya menghadap Kira yang menangis sesenggukan seperti anak kecil. Kedua alisnya terangkat keatas.


"Hei, aku gak marah dan gak kecewa sama kamu. Aku tau kamu belum siap jadi jangan merasa bersalah kayak gini." ucap Nathan menghapus air mata Kira dengan ibu jarinya. Dia tersenyum pada Kira yang mencebikkan bibirnya.


"Aku udah bikin kamu kecewa," cicit Kira terdengar sangat lucu dan menggemaskan di telinga Nathan.


Nathan terkekeh kecil. "Gak, kamu gak bikin aku kecewa. Aku yang salah, seharusnya aku gak maksa kamu." ucap Nathan menenangkan Kira.


"T-tapi aku gak melayani kamu sebagai Istri.." cicit Kira lagi, dia kembali menangis.


"Belum, bukan berarti kamu tidak melayani. Kamu cuma belum siap dan itu bukan salah kamu." suara lembut Nathan sukses membuat Kira memberhentikan tangisnya walau masih sek-sekan (gak tau gimana nulisnya, hehe).


"Udah ya, jangan nangis lagi. Aku lebih suka kamu yang marah-marah kayak Godzilla dari pada cengeng begini."


Kira memukul dada bidang Nathan membuat Nathan tertawa pelan. Dan Nathan membawa Kira ke dekapannya, mencium puncuk kepala Kira singkat.


Dimana membuat pipi Kira memanas dan jantungnya berdekub kencang. Di dekapan Nathan, Kira bisa merasakan detak jantung Nathan yang tidak beraturan. Seperti irama yang membuat hatinya damai.

__ADS_1


 


__ADS_2