
"Raka, kamu kok gak sekolah?" tanya Kira melihat Raka sedang berdiri di balkon dengan tatapan kosong. Kira sengaja menegurnya karna dia tidak tega melihat adiknya seperti itu.
Raka langsung menoleh dan memutar bola matanya. "Kakak bercanda? Sekarang hari libur, kak." jawab Raka kesal pada Kira yang tertawa sambil mendekatinya.
Raka kembali menatap ke halaman belakang, dia mengangkat kedua tangannya di atas balkon. Hari ini entah kenapa membuatnya malas melakukan apa-apa, main game pun rasanya dia malas.
Kira menepuk bahu Raka. "Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Kira, dia berdiri di sebelah Raka.
Raka menoleh ke Kira sebentar lalu menghebus nafasnya. "Gak papa, lagi gak pengen ngapa-ngapain aja. Males, bete plus galau merana." jawab Raka.
"Kenapa? Gak biasanya kamu begini, ada apa sih? Coba cerita sama aku." Kira merasa Raka berubah hari ini. Dia tidak tahu apa yang membuat Raka seperti ini tapi dia ingin melihat tingkah Raka yang tidak bisa diam seperti cacing kepanasan daripada diam-diam begini saja.
Raka menatap Kira yang menunggu jawabannya. "Aku suka sama seseorang, Kak." katanya mulai menceritakan kegalauannya.
Kedua alis Kira terangkat. "Bukan janda yang sering kamu godain di perumahan ini kan?" tanya Kira dengan wajah siap-siap marah.
"Kakak apaan sih, gini-gini aku masih mau yang masih tingting tau!" bibir Raka memonyongkan dan pipinya menggembung.
Kira terkekeh. "Terus siapa?" tanya Kira.
"Seseorang, yang sangat cantik, baik, dan menggemaskan." sudut bibir Raka terangkat ketika memikirkan wajah seseorang yang dia sukai. "Dia Gadis periang yang tidak sengaja memukul wajahku saat MOS dulu dan dia juga pernah menyatakan perasaannya ke aku dan aku nolak, dan bilang kalau dia itu bukan type aku, dan nyuruh dia jauh-jauh dari aku karna aku punya penyakit yang menular." Raka terkekeh kecil menceritakannya.
"Tapi siapa sangka, aku malah membiarkannya menjadi temanku, setidaknya menjadi temanku dia tidak akan menyatakan perasaannya lagi yang selalu membuat aku pusing dan siapa sangka juga aku malah menaruh perasaan kepadanya sampai sekarang yang jelas-jelas sudah aku tolak perasaannya mentah-mentah."
"Apa Gadis itu yang ada di foto di kamar kamu?" tanya Kira dengan dahi mengkerut. Raka mengangguk. "Terus dia kemana? Coba aja dia kesini, aku pengen kenalan sama Gadis yang buat adikku jadi bucin begini." ucap Kira antusias.
"Dia udah nikah sama Lelaki lain kemarin. Aku melihatnya bagaimana Gadis yang aku cintai pergi ke pelukan Orang lain." ucap Raka lirih seperti menyembunyikan rasa sakit yang begitu besar.
Wajah Kira langsung berubah. Apa seteragis itu kisah cinta Adiknya?
"Namanya yang selalu ku sebut dalam doaku kini sudah bersama Lelaki lain, memulai hidup baru bersama dia padahal dia masih sekolah tapi harus menikah secepat itu."
Kira memeluk Raka, dia tahu bagaimana rasa sakit Raka saat mengetahui kekasih hatinya menikah dengan orang lain. "Kamu yang sabar ya, aku yakin kamu pasti bisa nemuin orang yang lebih baik dari dia."
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara tawaan Raka membuat Kira melepaskan pelukannya dan menatap Raka yang tertawa terbahak-bahak itu. Apa Adiknya kini kena mental karna di tinggal nikah seseorang yang dia suka? Seketika Kira takut. "Kamu kenapa ketawa?"
"Kakak polos banget sih, mau aja aku bohongin. Btw, bagus gak ya dibuat novel? Wah kayaknya seru juga sih?" Raka masih tertawa pelan.
Kira merasa kesal. Dia sudah terbawa suasana, eh malah Raka hanya membuat cerita fiktif belaka. Saking kesalnya dengan Raka, Kira mencubit pipi Raka kencang sampai membuat Raka menjerit kesakitan. Setelah itu dia melepaskannya. Dengan wajah yang kesal Kira meniggalkan Raka. Dia merasa di permainkan dengan Raka.
Raka tertawa geli melihat Kira yang meninggalkannya lalu dia kembali menatap halaman belakang. Setetes air mata jatuh mengalir ke pipinya tanpa izin. Kalian harus melihat bagaimana Raka yang selalu membuat hal konyol dan membuat masalah tengah patah hati sekarang dengan menangis dalam diam di balkon di temani angin sepoi-sepoi di sore hari.
...****************...
"Lo serius memperkerjakan Mauren sebagai Karyawan disini?" tanya Nathan dengan mata melotot dia menatap Nathan yang mesem-mesem gak jelas di meja kerjanya sambil menyender dan kaki di angkat ke atas meja.
Nathan yang tengah memikirkan malam pertamanya tadi malam tidak mendengarkan pertanyaan Rendy. Dia bahkan tidak menyadari kehadiran Rendy di ruangannya.
Merasa diabaikan, ingin sekali Rendy duduk di pangkuan Nathan seperti yang di lakukan Mauren mantan Kekasih Nathan dulu merajuk pada Nathan tapi dia kan masih normal mana mungkin dia melakukannya dan akhirnya Rendy menggebrak meja kerja Nathan hingga membuat Nathan terkejut.
"Lo apa-apan sih ganggu orang aja!" gerutu Nathan kesal dengan tingkah Sekretarisnya itu.
"Hadeh, dari tadi gue ngomong loh! Tapi di abaikan menyedihkan sekali." ucap Rendy dramatis.
"Cih, gaya banget lo." decih Rendy. "Kenapa bisa Mauren jadi karyawan di sini? Lo yang mempekerjakannya?" tanya Rendy.
Nathan berpikir sebentar lalu menganggukan kepalanya. "Iya, dia minta kerja di sini. Awalnya dia minta jadi Sekretaris beruntung gue gak gantiin posisi lo sama dia." jawab Nathan.
Rendy benar-benar tidak habis pikir dengan atasannya itu plus sahabatnya itu. Kenapa dia belum sadar-sadar juga kalau Mauren mencoba menghancurkan rumah tangganya dengan Kira? Haruskah dia benturkan dulu kepala Nathan agar Nathan sadar?
"Gue tanya sama lo untuk terakhir kalinya nih ya." Nathan mengangkat sebelah alisnya. "Lo masih cinta sama dia?" tanya Rendy dengan wajah serius.
Wajah Nathan berubah. Dia pun tidak tahu dengan perasaannya. Sebenarnya hatinya sudah sepenuhnya dimiliki Kira atau masih pada Mauren. Dia bingung. "Gue bingung." jawabnya.
Rendy mendengus. "Ingat kebingungan lo itu nantinya jadi buat penyesalan buat lo kelak. Jangan mentang-mentang lo bingung sama perasaan lo, lo jadi kayak gini. Kasihan Kira kalo tau suaminya masih punya perasaan sama mantannya" nasehat Rendy.
Nathan mendengus pelan. "Apa peduli lo?" wajah Nathan berubah menjadi datar dan dingin.
__ADS_1
"Gue cuma mau ingetin lo." kata Rendy.
"Gue gak suka lo ikut campur! gue tau lo tau itu." ketus Nathan.
"Oke, gue gak bakal ikut campur urusan lo. Lagi pun gue bukan siapa-siapa kan?" Rendy tersenyum sinis pada Nathan. "Kalo gitu gue permisi." pamitnya beranjak pergi dari ruangan Nathan dengan hati yang kecewa terhadap Nathan.
Nathan menyenderkan kepalanya di senderan kursinya. Dia tertawa sinis. Kira tidak akan meninggalkannya, dia akan membuktikannya pada Rendy nanti.
...****************...
Rendy keluar dari ruangan Nathan dengan perasaan kecewa karna Nathan. Rendy berjalan ke lift saat lift itu terbuka, betapa sialnya dia bertemu dengan Wanita penggoda itu yang berdiri di sana menatap dirinya.
Rendy berdecak sebal kenapa dia bisa satu lift dengan wanita penggoda ini. Apalagi saat wanita itu menatap dirinya terus-menerus. Rendy menatap Wanita itu sengit. "Ngapain lihat-lihat? Sori ya saya tidak akan tergoda dengan wanita penggoda plus pelakor seperti anda." sindir Rendy membuat Mauren menatapnya tajam. Dia tidak terima di katai seperti itu.
"Pede banget jadi orang. Saya pun gak level ngengoda Pria kayak kamu!" Mauren mengibas rambut gelombangnya ke belakang.
Rendy memutar bola matanya malas. "Emang pelakor ada levelnya?" sinis Rendy mendekatkan wajahnya dengan wajah Mauren membuat Mauren gerogi.
"Udah saya bilang berapa kali sih! Saya bukan pelakor!" bantahnya, tidak suka dikatai dengan sebutan pelakor walau memang kenyataannya itu kerjaannya.
Lagi-lagi Nathan memutar bola matanya. "Hadeh, sadar nona, perlu saya panggil ibu-ibu biar menilai perlakuan anda terhadap pria yang sudah beristri?"
"Hih, saya bukan pelakor. Si Kira aja yang perebut, perebut pacar orang!" balas Mauren tidak terima.
"Wah, otaknya bermasalah nih, nona-nya. Mending ke psikiater, periksa." saran Rendy yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Mauren.
"Kamu aja sana yang periksa. Kenapa harus saya?"
"Karna nona lebih membutuhkan itu."
"Saya gak butuh itu, saya saya butuhkan di dunia ini cuma Nathan."
"Gak sadar-sadar nih orang. Setres." cibir Rendy ketika pintu lift terbuka dia berjalan keluar dari lift.
__ADS_1
"Yehh, kamu tuh yang stres!" balas Mairen, tidak terima di katai setres oleh Rendy.
Rendy memasang wajah konyolnya ketika pintu lift itu akan tertutup, Rendy menggaris di dahinya dengan telunjuknya membuat Mauren naik darah dengan Sekretaris Nathan itu.