Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
51.Pertengkaran.


__ADS_3

Sepulang dari Kantor, Nathan bertekat akan meminta maaf pada Vano. Dia berjalan kearah kamar Vano sebelum pergi ke kamarnya.


Dia tidak mau berlama-lama berdiam-diaman dengan adiknya sendiri. dan juga dia sudah berjanji pada Kira akan berbaikan dengan Vano. Jadi, inilah saatnya dia meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia perbuat pada Vano.


Namun sebelum masuk kedalam kamar Vano, Nathan sudah berpapasan dengan sang adik yang baru saja ingin kembali kekamarnya sambil membawa coklat panas.


Sama seperti biasanya, Vano menatap Nathan dengan tatapan dingin seperti dalam tatapan itu menyimpan rasa sedih, kecewa dan marah secara bersamaan namun tidak bisa dipungkiri dalam tatapan itu juga mengsiratkan rasa rindu pada sang Kakak sejak lama.


Nathan menatap Vano, dia mendekati Vano yang tidak bergeming ditempatnya. lalu dia memeluk sang adik dimana membuat Vano terkejut bukan main.


"Maafin Kakak atas kesalahan Kakak sama kamu. Kakak sekarang udah nyadar kesalahan Kakak, Kakak udah egois sama kamu. Maafin Kakak, No." sesal Nathan.


Mendengar kata itu dari mulut Nathan, Vano rasanya ingin menangis. Itu adalah kata-kata yang ia tunggu dari sang Kakak, dia selalu menunggu Natham mengatakan itu dan sekarang Nathan mengatakannya dan itu membuatnya ingin menangis.


"Waktu kelulusan SMP kamu, Kakak gak bisa datang saat itu. padahal kamu berharap banget kakak datang kan? jadi, maafin kesalahan kakak, No." ucap Nathan penuh penyesalan. "kakak terlalu egois sampe gak tau keinginan adik sendiri. Dan kakak pun egois, saat kamu marah, kecewa dan sedih sama Kakak, Kakak malah gak peduli dan ninggalin kamu."


Air mata Vano tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis dalam diam mendengar penyesalan Kakaknya.


Menyadari adiknya menangis Nathan terkekeh. Dia melepaskan pelukannya dan melihat sang adik yang mengusap airmatanya dengan tangannya.


Tangan Nathan terangkat menoyor kepala Vano. Seperti yang ia lakukan pada Vano dulu. "cengeng. lelaki Gentle gak boleh nangis." kata Nathan.


"Dasar Kakak sialan, dasar b*go. t*lol. Egois!" Vano mengeluarkan umpatan pada Nathan yang ia tahan selama ini.


Umpatan Vano malah membuat Nathan tertawa. Sedewasa apapun Vano, Vano tetap adik kecilnya yang polos dimatanya. walau mereka bukan saudara kandung, Nathan dan Vano saling menyayangi satu sama lain.


"Udah gede udah berani mengumpat? hebat banget kamu ya!" Nathan memiting leher Vano.

__ADS_1


"Bodo amat." jawab Vano.


Nathan tertawa. benar, dia masih adiknya yang polos. Vano tidak berubah sama sekali.


...****************...


"Kira, kamu dari mana aja, suami ganteng mu ini, loh dari tadi nungguin kamu di sini!" seru Nathan ketika Kira masuk kedalam kamar dengan wajah cemberut.


"Kenapa emangnya? Aku habis dari kamar Raka, kenapa?" tanya Kira sengit. Dia tidak jadi menginap di kamar Raka karna Nathan terus menghubungi ponselnya hingga dia secara terpaksa kembali ke kamarnya.


Mata Nathan memicing. "Ngapain kamu di kamar Raka?" tanya Nathan, mengintegrasi.


Kira memutar bola matanya malas. "Tadinya mau tidur bareng Raka, gara-gara ada pengganggu yang terus nelpon jadi gak jadi deh!" ketus Kira, dia menidurkan tubuhnya di atas ranjang.


Nathan yang terduduk menyender di ranjang terus memperhatikan Kira. Kenapa sikap Kira seperti ini? Oke, walau ini bukan pertama kalinya berhubung istrinya itu galak tapi Nathan penasaran.


"Kamu kenapa sih?" tanya Nathan, heran dengan tingkah istrinya itu.


"Ya gak ada yang aneh sih, tapi kenapa hari ini aku ngerasa ada sesuatu yang kamu sembunyiin?" mata Nathan memicing dan kedua tangannya terlipat di dadanya yang polos tanpa sehelai baju.


"Gak ada tuh." jawab Kira terdengar ketus.


"Kamu ngejawab begitu ketahuan banget kalo lagi nyembunyiin sesuatu dari aku." ujar Nathan. "Kamu kenapa sih hari ini?"


Kira mendengus. "Mau tau?" Kira kembali bangun, dia duduk dengan wajah marah. "Kenapa tadi Mauren bisa ngangkat telpon aku ke ponsel kamu?"


Nathan menyatukan kedua alisnya. "Mauren? Emang kapan kamu telpon aku?"

__ADS_1


Kira menggeram kencang. Tuh kan benar, pasti tadi siang Nathan bersama Mauren. "TADI SIANG AKU TELPON KAMU DAN YANG NGANGKAT MAUREN! KAMU TADI NGAPAIN SAMA MAUREN SAMPAI GAK TAU AKU NELPON KAMU?!" teriak Kira, dia benar-benar marah, cemburu dan tidak tahu lah.


Nathan berpikir sebentar. Memang sih tadi siang dia berbicara dengan Mauren di ruangannya, tapi Mauren tidak bilang apa-apa tuh kalau Kira menelponnya. "Aku tidur tadi diruanganku." jawab Nathan seadanya, memang kenyataannya dia tertidur sebelum Mauren datang ke ruangannya.


"Dan sama Mauren? iya?" Mata Kira menatap tajam Nathan.


"Dia cuma mau bicara sama aku, Kira." jawab Nathan seadanya.


"Jangan bohong sama aku, Nathan."


"Bohong gimana sih? Udahlah jangan bahas hal yang gak penting."


"Gak penting kata kamu?" Kira makin marah.


Dia semakin yakin kalau ucapan Mauren itu benar kalau Nathan tidur di pahanya tadi siang pas saat dia menelponnya. Dengan sangat marah Kira memukul-mukul dada bidang Nathan. "KAMU NGAPAIN AJA SAMA MAUREN, HAH?!"


Nathan berusaha menahan tangan Kira yang terus memukul-mukul dadanya. Jujur itu sakit, pukulan Kira sangat kencang sampai dia merasakan sakit. "Aku gak ngapa-ngapain sama Mauren, Kira."


"BOHONG?!"


"Aku serius Kira."


"GAK KAMU PASTI BOHONG!"


"Gak Kira aku serius."


"KAMU BOHONG, NATHAN?!"

__ADS_1


"IYA, TADI SIANG AKU SAMA MAUREN, PUAS?!" untuk pertama kalinya Nathan membentak Kira dan setelahnya dia merasa menyesal.


Mata Kira berkaca-kaca, dia menatap Nathan tidak percaya. Tak lama kemudian air mata itu jatuh begitu saja dari matanya tanpa izin. "Aku benci kamu!"


__ADS_2