Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
54. Kira VS Mauren


__ADS_3

"Kakak sebenarnya mau beli apa sih? Kenapa gak sama suami Kakak aja ke minimarketnya, kenapa harus sama aku?" geram Raka. Dia menatap sebal Kira yang sedang memasukkan beberapa makanan ringan di ranjang belanjanya.


Waktu leha-leha di hari liburnya terbuang sia-sia karna Kira mengajaknya berbelanja padahal dia tengah tertiduran sambil menonton film di ponselnya. Kira benar-benar Kakak pengganggu. Dan pertanyaan yang ada di kepalanya dari tadi adalah, kenapa Kira tidak mengajak suaminya saja, Nathan. Kenapa harus dia?


Dengan tidak berdosanya, Kira menaikkan alisnya dan bertanya seakan tidak merasa salah sama sekali. "Emangnya kenapa?"


Raka mendengus, dia berkacak pinggang kepada Kira. "Kakak buang-buang waktu aku di hari libur cuma buat nemenin Kakak belanja di minimarket. Akhhh, nyebelin, resek, ribet, bikes!" gerutu Raka.


Kira menatap Raka dengan senyuman yang menyeramkan bagi Raka. "Kamu gak ikhlas nemenin aku, heh?!"


Raka mengerucutkan bibirnya. Dia membuang pandangannya saking kesalnya dengan Kira.


Kira kembali memilih-milih makanan ringan yang akan di belinya. Stok makanan ringan Kira di Mension sudah habis. Entah siapa yang berani menghabiskannya tanpa izin darinya. Dan orang yang berani melakukan itu cuma Nathan dan Raka, kedua makhluk menyebalkan itu pasti yang menghabiskannya hingga tidak tersisa.


"Eh, ada Istri dari tuan muda Nathan." sapa seseorang membuat Kira yang tengah memilih-milih makanan ringan langsung menoleh ke arah orang itu. Suaranya seperti tidak familiar.


Kira langsung menyunggingkan senyuman sinis kepada Orang itu, siapa lagi dan kalau bukan si Wanita penggoda suaminya, Mauren. Entah kebetulan atau apa, tapi itu membuat mood Kira turun drastis.


"Oh, anda, mantan kekasih suami saya." sahut Kira dengan nada ketus.


Mauren tersenyum sinis, dia mengibas rambutnya. "Apa kabar, nona Kirana?" kata Mauren seperti mengejek Kira.

__ADS_1


"Oh tentu saja baik. Bahkan sangat baik karna anda tahu, suami saya sangat mencintai saya."


Mauren berekspresi berpura-pura terkejut. "Oh begitu? Kenapa kamu sangat percaya diri itu kalau suami kamu sangat mencintaimu?"


"Tentu saja. Kalau dia tidak mencintai saya, tidak mungkin dia menikahi saya." Kira tersenyum.


Mauren tertawa mengejek Kira. Sumpah demi apapun, suara tawaan itu membuat Kira geram dan naik darah juga tentunya.


"Percaya diri dan juga tidak tahu diri. Memang ya, sangat-sangat rendahan." cibir Mauren menatap Kira dari bawah sampai atas. Satu kata yang pantas di katakan untuk pakaian Kira adalah Norak.


Kira mengangkat sudut bibirnya ke atas. Dia benar-benar naik darah sekarang. "Hah, tidak tahu diri, rendahan? Seharusnya kata itu di ucapkan untuk diri anda sendiri. Tidak tahu malu dan sangar rendahan mencoba merebut suami orang." balas Kira, tajam.


Semua orang yang ada di mini market itu langsung menoleh ke arah mereka begitupun Raka, Pemuda itu tadinya sedang membaca komposisi mie instan yang akhir-akhir ini membuatnya ketagihan langsung menoleh dan matanya membulat menangkap Kakaknya yang di tampar.


"Kakak!" teriak Raka membuat orang-orang di mini market termasuk Mauren yang tadinya menatap Kira penuh amarah langsung menoleh ke arah Raka yang berjalan mendekati Kira.


Bisa saja Kira membalas tamparan Mauren itu tapi dia hanya tidak mau membuat semua orang salah sangka dengannya.


Raka menatap pipi Kira yang memerah lalu dia beralih menatap Wanita yang berani menampar Kakak kesayangannya. Matanya menatap tajam Mauren yang justru nampak tenang. "Apa urusan lo sampai lo nampar dia?!" kata Raka, dengan nada dingin. Dia tidak suka ada orang yang berani melakukan hal yang semena-mena dengan Kira.


Mauren mengangkat sebelah alisnya, dia melipat tangannya di dada. "Dan apa urusan kamu dengan dia sampai kamu begitu perhatian dengan dia?" sudut bibir Mauren terangkat. "Apa kamu selingkuhannya?" lanjutnya dengan nada menjengkelkan.

__ADS_1


Raka mendengus. Jika di hadapannya bukan seorang wanita sudah di pastikan Raka akan menghajarnya habis-habisan. Perlu di ketahui, Raka orang yang tidak bisa mengontrol emosinya.


"Benaran? Kamu selingkuhan si rakyat jelata ini? Oh My God." Mauren seakan semangat dengan ucapannya.


Kira naik pitam. Akh, wanita ini berani sekali menghinanya. Begitupun dengan Raka yang langsung marah, rahangnya mengeras.


"Apa kata lo tadi?" Raka melangkah mendekati Mauren. Persetan di depannya adalah wanita, dia sangat marah sekarang.


Dengan sigap Kira menahan Raka. Dia tidak ingin terjadi apa-apa. Dia tahu Raka sedang dalam emosi karna kalau Raka dalam emosi yang tidak stabil dia bisa melukai siapa saja termasuk seorang wanita.


Mauren memasang wajah menantang. "Marah karna pacarnya di hina? Udahlah, emang dia pantas kok di hina." Sepertinya Mauren salah mengira.


Dan sekarang Kira yang emosi udah emosi tambah emosi. "Saya memang pantas di hina tapi saya tidak merasa hina justru anda yang hina yang mencoba merebut suami orang!" marah Kira. "Dan satu lagi, orang yang anda sebut selingkuh saya adalah adik saya." lanjutnya membuat Mauren tergagap di tempat. Salah mengira dia, hahaha.


Sedetik Mauren terdiam, dia kembali membuka suaranya. "Oh jelas. Karna aku mau merebut apa yang seharusnya milik aku dan perlu kamu tau, bukan aku yang merebut Nathan tapi kamu yang merebutnya!" ucap Mauren menunjuk-nunjuk wajah Kira dan langsung di tepis kasar oleh Kira.


"Apa? Saya merebut Nathan dari anda? Tidak salah?" Kira tertawa sinis. Bisa-bisanya wanita itu melawak saat seperti ini.


"Udahlah Kak, ngedenin orang setres gak bakal habisnya." lerai Raka, dia sudah muak dengan wanita di hadapannya itu. Bisa-bisanya Nathan menjadikan wanita ular itu kekasihnya di masa lalu.


Raka membawa Kira beranjak dari sana sambil membawa ranjang belanja juga membuat Mauren memaki-maki mereka dengan kencang sampai semua orang menatap mereka. Akh, Raka benci wanita ular seperti itu ingin dia beri pelajaran kepada wanita itu kalau berani menampar atau menyenggol Kira sekali lagi. Dia pastikan itu.

__ADS_1


__ADS_2