
Kira menutup pintu kamarnya. Dia menatap Nathan yang sedang memainkan ponselnya di sofa. Oiya, kenapa Nathan berada di rumah sekarang karna dia bilang sedang ingin berada di rumah saja jadi dia tidak jadi ke kantor dan itu membuat Kira jengkel. Bisa-bisa Kira di ganggu terus sama Nathan seharian ini.
Menyadari kehadiran Kira, Nathan tersenyum lebar pada Kira dan mengambil sesuatu yang tadinya ia sembunyikan.
Mata Kira membulat melihat CD berwarna pink nya berada di tangan Nathan. Dia berlari ke arah Nathan yang sudah terlebih dahulu bangun dan berlari menghindari Kira.
"Nathan! Siniin CD saya!" teriak Kira, dia berlari mengejar Nathan yang justru lebih lihai menghindar darinya.
"Ambil dong!" Nathan mencium celanadalam berwarna Pink milik Kira membuat Kira benar-benar murkah apalagi saat Nathan mengomentari CD-nya. "Wangi," katanya kembali berlari.
"Nathan! Jangan di cium-cium!" wajah Kira memerah bertanda dia benar-benar marah.
"Abisnya wangi sih."
"Nathan!" teriak Kira murka. Dia terus mengejar Nathan.
Nathan tertawa terbahak-bahak, dia menginjak ranjang untuk menghindari Kira yang masih mengejarnya dengan umpatan-umpatan yang di keluarkan Kira untuknya.
"Nathan balikin CD saya atau!"
"Atau apa?" Nathan memasang wajah menantang.
Kira menggeram, dia berlari lebih cepat untuk mendapatkan Nathan dan akhirnya dia bisa menarik baju Nathan sampai Nathan memberhentikan lariannya.
Nathan langsung menoleh kebelakang dengan hati-hati, dia melihat Kira benar-benar marah terlihat dari wajahnya yang memerah dan kedua telinganya mengeluarkan asap seperti di kartun-kartun yang sering ia tonton.
__ADS_1
Bugh!
Nathan di hadiahi pukulan maut dari sang Istri di wajahnya sampai dia terjatuh. Memang sih pukulan Kira tidak terlalu menyakitkan namun Nathan hanya berakting saja untuk menjahili Kira.
Kira mengambil CD-nya di tangan Nathan. Punya dosa apa dia di masa lalu sampai bisa menikah dengan Pria yang super duper menyebalkan itu.
"Aduhhh, muka ganteng ku rusaakkk." Nathan melancarkan aktingnya, dia memegangi wajahnya dengan dramatis. "Kayaknya harus di operasi plastik nih." lanjutnya.
Alis Kira terangkat. Masa sih pukulannya membuat wajah Nathan rusak sampai harus di operasi pelastik segala. Eh, emangnya bisa wajah rusak?
"Akhhhhh, muka ku berdarah, tolong!!"
Wajah Kira yang tadinya kesal langsung merasa bersalah. Dia berjongkok di hadapan Nathan yang tiduran di lantai sambil memegangi wajahnya.
Nathan mengintip Kira dari sela-sela jarinya, dia terkekeh geli dalam hatinya. Kira itu ternyata polos juga ya, jadi gemes. "Aduhhh!" ringisnya semakin di kencangkan.
"Ya iyalah harus. Emangnya kamu mau punya suami yang mukanya hancur gara-gara kamu?"
"Ya, maaf." Kira merasa bersalah. "Coba saya liat wajah anda separah apa?" Kira memegang tangan Nathan yang menutupi wajahnya.
Nathan menghindar. "Gak usah! Nanti kamu bakal takut ngeliat muka aku!"
"Enggak kok, coba liat dulu."
"Tapi janji ya gak takut ngeliatnya? Nanti kalo kamu takut kan aku jadi tambah sakit hati,"
__ADS_1
Kira mengangguk. "Iya janji, tapi liat dulu mukanya."
"Gak mau ah, muka aku sekarang nyeremin." nada bicara Nathan di buat-buat. Mungkin jika Kira tidak sedang khawatir sekarang, Kira menatap jijik Nathan.
"Coba liat dulu, saya janji gak bakal kaget atau takut." janjinya.
"Beneran?"
"Iya beneran." yakin Kira.
"Yaudah, kamu dekatan dong." pintanya dan Kira menurutinya. "Lebih dekat lagi." pintanya lagi.
Kali ini Kira menurut tanpa protes. Dia hanya khawatir pada wajah Nathan. Dia tidak mau nanti akan di laporkan ke polisi hanya karna merusakan wajah orang.
Saat Kira sudah benar-benar sangat dekat dengannya, dengan secepat kilat Nathan membuka tangannya dan mendekatkan wajahnya, memberi kecupan singkat di bibir Kira dan setelah itu dia beranjak pergi sebelum Kira benar-benar murka sekarang.
Kira menyentuh bibirnya sendiri, wajahnya memerah. Jadi dia di tipu Nathan?
Nathan berlari keluar kamar setelah Kira berteriak dengan kencang memanggil namanya.
"NATHAN, AWAS AJA ANDA YA!!" teriak Kira melengking.
Nathan cekikan mendengarnya. Dia berjalan ke arah dapur dengan jantung berdekub kencang. Entahlah karna Kira, pikirannya jadi tak menentu.
"Kenapa senyum-senyum den?" tanya bi Tati yang berada di dapur melihat Nathan senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Nathan menoleh ke bi Tati yang sedang memasang memasak. Dia mendekati Bi Tati yang mengangkat kedua alisnya. "Gak ada kok, ibuku sayang." katanya memeluk Bi Tati.
Bi Tati tersenyum. Dia senang Nathan menganggapnya sebagai Ibu tapi dia tahu batasannya hanya seorang pelayan. Apalagi para pelayan lain iri melihat kedekatan Bi Tati dengan tuan muda itu.