Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
68. Kira Ngidam


__ADS_3

Kira menunggu Nathan pulang. Dia mundar-mandir sambil mengelus perutnya yang masih rata. Yah, maklumlah usia kandungannya baru memasuki minggu yang ke tujuh. Belum kelihatan apa-apa dan malah membuat Kira heran.


Malam ini Kira berinisiatif merias wajahnya tipis dan juga memakai lingerie berwarna hitam. Entah kenapa dia ingin sekali memperlihatkannya kepada Nathan.


Sudah tujuh minggu, Nathan tidak menjamah tubuhnya. Mungkin itu membuat Nathan benar-benar tersiksa. Seperti hari-hari yang lalu Nathan menahan dirinya sampai dia tidur diatas sofa, berpisah ranjang.


Kira tentu saja tidak tega, sampai waktu itu dia menangis saking tidak teganya melihat suaminya begitu tersiksa menahan gejola na-fsu yang ia tahan.


Dan malam ini lah, dia ingin Nathan menyentuhnya. Saat dia bertanya tentang ibu-ibu dan pelayan-pelayan disini yang sudah pernah merasakan kehamilan dan mereka menjawab tidak apa jika melakukan itu asal tidak membuat janin terganggu. Kira jadi ingin Nathan menjamah tubuhnya lagi.


Namun kenapa Nathan belum kekamar juga? Perasaan ini sudah lewat pukul sepuluh malam. Seharusnya Nathah sudah pulang dari tadi tapi kenapa dia tidak menunjukkan batang hidungnya Sepertinya Kira harus mencarinya.


Kira mengambil jaket dan memakainya. Jaket itu bisa menutup tubuhnya walau hanya sampai sebatas paha. Tapi mau bagaimana lagi? Dia malas berganti baju.


Setelah sudah memakai jaketnya, Kira keluar dari kamar dan kebetulan pelayan lewat. Dia akan bertanya kepada pelayan itu.


"Mbak, Nathan udah pulang blom ya?" Tanya Kira kepada pelayan yang lebih tua sepuluh tahun darinya.


"Oh den Nathan sudah pulang dari dua jam yang lalu, non." Jawab pelayan itu.


Tuhkan bener. Pasti Nathan mencoba menjauhinya.


"Sekarang Nathannya dimana ya, Mbak? Dari tadi aku gak ngeliat dia."


"Mungkin ada diruangan kerjanya, non. Coba aja kesana."


Kira mengangguk. "Iya, Mbak. Makasih ya, Mbak. Yaudah kalo gitu aku mau nyamper Natha  dulu. Jangan lupa langsung istirahat ya, Mbak. Besok ajarin aku jadi ibu yang baik lagi ya." Ucap Kira.


Pelayan itu tertawa. Aneh baru kali ini dia berkerja sebagai pelayan dianggap keluarga seperti ini oleh majikannya sendiri dan itu membuatnya senang. "Iya atuh non. Sok, belajar jadi ibu yang baik sama Mbak." Kata Pelayan itu.


Kira pun ikut tertawa.


"Yaudah, Mbak permisi dulu ya, non." Palayan itu permisi pergi kepada Kira.

__ADS_1


Kira tersenyum setelah memberhentikan tawanya. "Istirahat yang cukup ya, Mbak!"


Pelayan itu tersenyum juga pada Kira.


Setelah Pelayan itu pergi, Kira melajutkan langkah menuju ruangan kerja Nathan. Kenapa Nathan selalu menghindarinya akhir-akhir ini sih! Dia kan juga merindukan dekapan hangat suami bodohnya itu.


Saat sudah berada didepan pintu ruangan kerja Nathan, Kira membuka pintunya dengan kencang seperti sedang mengerebek seseorang.


Nathan yang tengah berkutik pada komputernya pun terkejut bukan main. Melihat istrinya datang keruangannya saat dia sedang memikirkan istrinya itu. Nathan jadi salah tingkah.


Setelah menutup pintu ruangan Nathan dan menguncinya, Kira mendekati Nathan dengan wajah masam. Dia melangkah mendekat sambil membuka jaket yang ia kenakan lalu membuangnya kesembarang arah.


Seketika Nathan meneguk slivanya susah payah. Melihat Kira memakai lingerie yang sebelumnya ia tutupi dengan jaket membuat Kira terlihat sangat seksoy dimata Nathan apalagi dengan riasan tipis diwajahnya. Benar-benar menggoda iman Nathan malam ini.


Kira duduk pangkuan Nathan dengan wajah cemberut sontak Nathan membuang pandangannya kesembarang arah. Lima minggu tidak melihat wajah Kira sedekat ini, membuat Nathan berdebar tidak karuan.


"Kenapa kamu ngehindarin aku akhir-akhir ini?" Tanya Kira, to the point.


"Y-ya karna gak mau nyerang kamu lah." Jawab Nathan, dia masih memalingkan wajahnya.


"Shh, berhenti sayang. Kamu membangunkannya." Desis Nathan ketika merasakan kejant-anannya sudah mengeras karna istrinya itu.


"Emang kenapa kalo dia bangun?" Kira memasang wajah tidak berdosa. Dia masih menggerak-gerakan pinggulnya dengan gerakan menggoda.


Wajah Nathan mendonggak keatas. "Berhenti sayang. Aku gak mau nyerang kamu sekarang."


Kira berhenti menggerakan pinggulnya. "Nathan, aku denger gak papa kok ngelakuin itu. Asal jangan terlalu beruntal nanti janinnya bisa terganggu."


Nathan menatap Kira dengan mata yang dipenuhi nafsu yang ia tahan selama ini. "Kata siapa? Aku gak mau bikin anak kita keganggu."


"Seharusnya aku yang ngomong begitu. Seharusnya aku yang khawatir sama anak kita. Kok malah kebalik sih, aneh. Kamu yang ngerasa terlalu khawatir, kamu yang selalu mual dipagi hari, juga kamu yang ngidam gak jelas. Aneh banget." Ucap Kira.


Kira tidak habis pikir dengan anaknya yang didalam perutnya itu. Segitu sayangnya kah anaknya pada Kira sampai semuanya Nathan yang nanggung?

__ADS_1


"Itu karna anak kita lebih sayang sama bapaknya, sayang." Kata Nathan sambil mengusap perut Kira. Kira memutar bola matanya.


"Kemarin kan kamu udah ngidam makan semen. Sekarang gantian aku yang ngidam."


"Ngidam apa?" Tanya Nathan.


Tangan Kira bergerak membuka kancing kemeja Nathan satu persatu, dia menatap mata Nathan dalam. "Aku ngidam mau layanin kamu." Ujar Kira membuat Nathan meneguk slivanya.


Memang benar ya, hormon ibu hamil itu meningkat. Lihat saja Kira yang mengindam ingin melayani suaminya itu.


Perlahan-lahan Kira mendekatkan bibirnya ke bibir Nathan. Meresap bibir Nathan dengan lembut juga dengan penuh perasaan. Tangannya berhasil membuka semua kancing kemeja Nathan lalu tangannya dengan nakal membelai dada bidang dan perut kotak-kotak Nathan.


Nathan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia membalas ciuman Kira dengan buas. Tangannya juga berkerja merobek lingerie yang dipakai istrinya itu.


Tak lama kemudian....


Seperti yang dikatakan Kira beberapa menit lalu, Kira ingin melayani Nathan. Dengan masih posisi di pangkuan Nathan, Kira sekarang menggerakan-gerakan pinggulnya keatas kebawah dengan pelan. Dia yang memimpin permainan sekarang.


De--sahan demi de--sahan keluar dari mulut Kira. Juga Nathan yang terus menggerang keenakan sambil menonggakan kepalanya keatas. Menikmati pelayanan yang diberikan istrinya itu.


Walau ritmenya sedang tapi tetap membuat keduanya saling mende--sah tidak karuan.


"Emm, ahhh, ahhh," de--sah Kira, dia masih bergerak naik turun dengan bantuan Nathan tentunya.


"Kamu lelah?" Tanya Nathan.


Kira mengangguk sambil mendesah.


Nathan tersenyum miring. Dia mengangkat tubuh Kira keatas meja dengan keduanya masih menyatu. Sekarang waktunya Nathan yang memimpin permaianan.


Nathan mengoyangkan pinggulnya dengan perlahan dengan posisi berdiri dan Kira yang terduduk diatas meja yang dipenuhi berkas-berkas yang sudah berserakan kemana-mana.


Kira menggalungkan tangannya dileher Nathan sambil mende--sah lebih kencang. "Akuuuu mauuuu... ahhh.." de--sahnya.

__ADS_1


"Aku akan menerimanya dengan sepenuh hati, sayang." Nathan menyeringai tipis.


__ADS_2