Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
52. Pertengkaran (2)


__ADS_3

Nathan langsung frustasi melihat Kira menangis begitu. Dari mana kesalahannya sampai membuat Kira menangis seperti ini?


"Kamu ini kenapa sih, Kira?" tanya Nathan kepada Kira yang masih menangis menatap dirinya.


"Aku kenapa? Kamu tanya aku kenapa? SEHARUSNYA KAMU TANYAKAN SENDIRI PADA DIRI KAMU!" Kira menunjuk Nathan.


"Apa salah aku?" Nathan mencoba bersabar menghadapi istrinya itu.


"KAMU TANYA APA SALAH KAMU? DASAR BRENGSEK KAMU, NATHAN!"


Sumpah demi apapun, Nathan tidak tahu dimana kesalahannya. Dia hanya berbicara dengan Mauren tadi siang, tidak lebih dan kenapa sikap Kira seperti ini?


"JELASIN KE AKU, APA SALAH AKU?"


"KAMU BERDUAAN SAMA MAUREN DI RUANGAN KAMU DAN KAMU TANYA SEOLAH-OLAH ITU BUKAN MASALAH?"


"AKU GAK NGAPA-NGAPAIN KIRA, KENAPA KAMU GAK PERCAYA SAMA AKU?"


"PERCAYA SAMA KAMU? KAMU BERCANDA NATHAN?"


"YA, AKU BERCANDA. ITU BUKAN MASALAH YANG HARUS DI PERTENGKARKAN SEPERTI INI, KIRA!" bentak Nathan begitu kencang sampai membuat Kira makin menangis. Rahang Nathan mengeras menandakan dia sangat marah pada Istrinya itu.


"Bukan masalah?" lirih Kira, dia tersenyum walau air mata terus mengalir dari matanya. "Oke, itu bukan masalah yang perlu di pertengkarkan seperti ini. Itu bukan masalah yang besar, bukan?" tatapan yang di berikan Kira ke Nathan membuat Nathan sakit.


"Kira,," Nathan mencoba meraih kedua tangan Kira dan Kira langsung menepisnya.


"Aku benci kamu, Nathan!" ucap Kira membuat Nathan benar-benar sakit.


Kira menjauh dari ranjang, dia berencana akan tidur di kamar Raka namun tangannya langsung di tarik Nathan ke dekapannya.


"Aku salah, aku minta maaf." lirih Nathan.


Kira melepaskan pelukan itu dengan kasar dan menatap tajam Nathan. "Jangan sentuh aku!"


Nathan frustrasi. Dia mengacak-acak rambutnya dengan geram. "Aku minta maaf, Kira." permintaan maaf Nathan


"Oke, aku maafin kamu sesuai keinginan kamu, tapi aku gak mau tidur bareng kamu." jawab Kira.

__ADS_1


"Tolong jangan begini, Kira. Kamu egois." frustasi Nathan. Dia tidak mengerti bagaimana lagi harus menghadapi Kira.


"Egois? egois kata kamu?" cicit Kira. "Apa salah kalo aku takut kehilangan kamu dan kamu kembali ke dia? Salah?" air mata Kira kini kembali deras.


Nathan mematung. Dia tidak bisa bicara apa-apa lagi. Jadi itu yang membuat Kira bersikap begini? Kenapa dia tidak peka sekali?!


"Aku takut kamu kembali ke pelukan dia. Aku takut kamu akan ninggalin aku demi dia, salah?"


Nathan langsung membawa Kira ke dalam dekapannya. Membiarkan Kira menangis di dadanya sejadi-jadinya. Hatinya sakit melihat Kira menangis seperti itu. "Maaf," hanya itu yang bisa di katakan Nathan untuk saat ini.


"Aku takut kehilangan kamu, Nathan.." cicit Kira di dekapan Nathan.


"Maafin aku, sayang. Aku gak bakal ninggalin kamu." ucap Nathan, memberi kecupan di puncuk kepala Kira.


Perlahan-lahan tangisan Kira mereda dan hanya dengkuran halus dari mulutnya. Nathan yakin Kira sudah tertidur di dalam dekapannya. Kebiasaan Kira adalah kalau sehabis nangis kejer dia akan langsung tertidur.


Nathan langsung menggendong Kira ala brydal style dan membawa Kira ke atas ranjang, menidurkannya dengan hati-hati di sana. Sebelum tidur di sebelah Kira, Nathan mencium kening Kira dahulu lama dan menatap wajah Kira yang membuatnya tergila-gila. "Aku mencintaimu." ungkapnya lalu dia berjalan memutari ranjang dan tidur di sebelah Kira.


Nathan menatap wajah Istrinya yang tertidur lelap, dia tersenyum kemudian dia memejamkan matanya hingga pagi tiba.


Keesokan paginya, Kira mengerjab-ngerjabkan matanya sesekali, menjelaskan penglihatannya. Tangannya menyentuh kasur yang ia tiduri, tapi kenapa kasur ini hangat dan lagi lebih terasa kulit seseorang.


Melihat Istrinya tersipu, Nathan tersenyum gemas, dia mengusap-usap pipi Kira yang memerah dengan ibu jarinya. "Kenapa malu karna nibani suami semalaman?" kata Nathan membuat Kira makin malu.


Kira langsung menyembunyikan wajahnya di leher Nathan. Seketika mereka melupakan kejadian tadi malam. "Malu," cicit Kira.


"Udah gak usah malu, biasanya juga malu-maluin." Kira langsung mencubit pinggang Nathan malah membuat Nathan terkekeh geli.


"Kenapa bisa aku ada di atas kamu?" tanya Kira, menatap mata coklat sang suami yang membuatnya berdebar tak karuan.


Nathan berpura-pura berpikir. "Hmm, kenapa ya? Aku juga gak tau, tiba-tiba kamu naik ke atas aku, trus tadi malam juga kamu cium-cium dada aku sambil bilang 'kamu seksi' kepadaku." jawab Nathan membuat Kira semakin tersipu malu.


"Nathannnnn, ihhh!" rengek Kira.


Nathan tertawa. Menggemaskan sekali Istrinya itu. Di peluk erat pinggang Kira membuat wajah keduanya sangat berdekatan bahkan keduanya merasakan nafas mereka yang menerpa wajah masing-masing.


"Nafas aku bau, tau." kata Kira, berusaha terlepas dari kurungan Nathan.

__ADS_1


"Emang kenapa? Aku suka bau mulut kamu."


Dasar bucin akut.


"Tetap aja, aku mau mandi, kamu juga kan mau ke kantor." rengek Kira.


"Sekarang hari apa?" tanya Nathan.


"Jum'at, emangnya kenapa?"


Nathan mengusap-usap rambut Kira lembut. "Nanti kita berkunjung ke rumah Ayah setelah solat Jum'at." kata Nathan membuat Kira terdiam sejenak.


"Emang kamu gak ke kantor?"


"Gak, malas. Lagi pun udah lama aku gak ngunjungin Ayah."


"Makasih,"


"Buat?"


"Gak tau, ya makasih aja."


"Boleh minta ehem lagi gak?"


"Kenapa kamu mintanya setiap hari sih?"


"Karna itu juga kebutuhan, Kira."


"Gak, aku lagi halangan." bohong Kira, padahal sudah lewat satu Minggu Kira belum datang bulan. Kira hanya ingin menolak bercinta dengan Nathan saja. Masa iya, setiap hari.


"Kamu bohong ya?" mata Nathan memicing.


"Gak, yaudah awas, aku mau mandi."


"Kalo kamu halangan, berarti gak bisa ke pemakaman Ayah dong?"


Kira menyengir. "Iya, aku bohong."

__ADS_1


Seketika senyum nakal tercetak di bibir Nathan. "Sebelum ke pemakaman Ayah, ayo bikin tuyul dulu."


"Akhhhh!" pekik Kira ketika posisinya berubah menjadi di bawah Nathan.


__ADS_2