Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
34. Aku tunggu kamu


__ADS_3

"Aku maafin kamu," kata Kira membuat Nathan mendonggakan kepalanya lagi.


"Beneran di maafin?" Nathan tersenyum lebar.


Kira berdecak dan mengangguk. "Iya, karna kamu lagi sakit sekarang, aku maafin kamu."


Haruskah Nathan berterimakasih pada penyakitnya yang kambuh karna telah berjasa dalam rumah tangganya?


"Dan aku gak mau kamu minum-minuman haram itu lagi, aku gak suka." larang Kira.


"Iya, aku janji gak minum-minum lagi."


"Oiya, kamu harus minum obat." Kira baru ingat kalau Nathan harus meminum obat.


"Udah gak sakit lagi kok." Nathan mesem-mesem pada Kira.


Dahi Kira mengkerut. "Yakin?" tanya Kira.


Nathan mengangguk seperti anak kecil. "Iya, yakin kan sebentar lagi mau di kiss sama kamu." ucap Nathan membuat pipi Kira memanas. Dia lupa dia ada janji pada Nathan akan menciumnya setelah makan bubur tadi.


"Emm, nanti aja ya? Kamu harus istirahat dulu."


"No no no, setelah kiss baru aku istirahat."


"Nanti aja ya? Kamu istirahat dulu aja ya?" bujuk Kira tapi Nathan menggeleng bersikeras.


"Gak Kira jelek, aku mau Sekarang! Titik, gak boleh di bantah!"


"Iya-iya sekarang tapi tutup mata dulu." akhirnya Kira mengalah lagi pun itu janjinya pada Nathan tadi dan dia harus mengabulkannya.


Senyuman Nathan sumringah, dia menutup matanya, mendekatkan wajah pada Kira yang siap akan menciumnya.


Dengan gugup dan malu, Kira mendekatkan bibirnya pada bibir Nathan yang pucat itu. Setelah bibirnya menyatuh pada bibir Nathan, Kira tidak menggerakan atau ******* seperti yang biasa Nathan lakukan padanya, dia hanya diam menempelkan bibirnya saja dengan mata tertutup seakan menikmatinya.


Merasakan bibir Kira menempel di bibirnya, Nathan. Gemas karna tidak ada pergerkaan dari Kira, dia langsung menarik tekuk Kira dan dia l*mat bibir Kira.


L*matan dan kecapan dari Nathan membuat Kira tidak berdaya. Dia tidak bisa bohong karna dia menikmatinya, sangat-sangat menikmatinya.


Merasa tidak puas, Nathan mengangkat tubuh Kira ke pangkuannya walau dia sedang sakit tapi dia masih punya tenaga untuk melakukan itu apalagi tubuh Kira mungil yang dengan gampang dia angkat.


Kedua tangan Kira terangkat melingkar di leher Nathan, seberusaha mungkin dia membalas ciuman Nathan walau masih kaku. Kepalanya miring ke kanan-kiri seperti yang di lakukan Nathan untuk mengambil oksigen.


Merasa ada balasan dari Kira, Nathan tersenyum disela ciuman mereka. Ciuman itu yang tadinya berjalan dengan lembut menjadi panas. Tangan Nathan yang tadinya berada di tekuk Kira turun ke punggung Kira, mengelus-elus punggung Kira. Begitu pun dengan Kira yang menjambak-jambak pelan rambut Nathan.

__ADS_1


Nathan melepaskan ciumannya ketika menyadari Kira yang belum berpengalaman berciuman panas kehabisan oksigen. Nafas keduanya tersengal-sengal tapi yang paling tersengal-sengal adalah Kira karna dia baru bisa menandingi ciuman Nathan walau belum seberapa.


"Kamu hebat." kata Nathan di barengi dengan senyuman. Lalu Nathan membawa kepala Kira ke dadanya. "Kapan kamu mau melayani ku, Kira?" pertanyaan Nathan langsung membuat Kira menatapnya dengan kedua alis terangkat.


"Maksud kamu?" tanya Kira kurang mengerti.


"Kapan aku bisa menjamah tubuh mu?" ulang Nathan membuat Kira membulatkan matanya.


"A-aku belum siap." Kira memalingkan wajah.


Nathan mendengus pelan. "Aku selalu tersiksa loh! Kamu gak kasihan?" tangannya menyentuh dagu Kira agar Kira menatapnya lagi.


Pipi Kira memerah. Dia memainkan jarinya di dada bidang Nathan membuat garis abstrak di sana. "T-tapi aku belum siap."


"Dan sekarang aku makin tersiksa."


Dahi Kira mengkerut. "Kenapa emangnya?" tanya Kira polos.


"Kamu tega ngeliat suami kamu tersiksa begini? Setiap hari ada kamu di kamarku, kamu istri ku tapi belum aku apa-apain. Ku menangis membayangkan betapa--" ucap Nathan di akhiri dengan nyanyian.


"Kamu beneran tersiksa ya?" Nathan mengangguk sambil memasang wajah melas. Kira mengigit bibir bawahnya. "T-tunggu aku siap ya? Aku mau nyiapin diri dulu." kata Kira membuat Nathan tersenyum senang.


"Oke, aku tunggu kamu."


...****************...


Raka menghebus nafasnya gusar. Rindu itu memang berat ya, lebih berat dari dilan. Raka menidurkan kepalanya di meja, menatap keluar jendela kelas. Padahal sekarang guru sedang menjelaskan pelajaran di papan tulis tapi Raka tidak mendengarkannya, dia terlalu memikirkan kedua orang yang di rindukannya.


Namun lamunan itu tidak bertahan lama, karna Vano yang bernotabe sebagai ketua kelas plus musuh abadi Raka mengebrak meja Raka kencang sampai hampir saja Raka kehilangan jantungnya karna terkejut.


"Jangan bengong! Gue tau lo b*go tapi Kakak lo pengen lo jadi orang sukses!" tegur Vano membuat Raka menatapnya tajam.


"Wah, ngajak baku hantam lo!" teriak Raka membuat seisi kelas menatap ke arahnya terutama guru yang tengah menjelaskan pelajaran.


"Raka, Vano, kamu keluar dari kelas saya! Kamu membuat semuanya tidak fokus karna kalian berisik!" ucap guru berkacamata tebal itu, mengusir Raka dan Vano keluar dari kelas.


"Tapi kan, Bu. Dia duluan yang nyari ribut, bukan saya." Raka membela diri, toh memang Vano duluan yang mencari ribut padanya karna mengebrak mejanya di saat dia sedang melamun tadi.


Sedangkan Vano diam saja, tidak berniat membela diri atau menyalahkan Raka. dia pun beranjak dari bangkunya dan berjalan keluar kelas dengan wajah datarnya.


"KELUAR RAKA!" bentak guru itu lagi membuat Raka mau tidak mau ikut Vano keluar kelas.


Raka keluar kelas, mencari keberadaan Vano dan matanya langsung memicing ketika melihat Vano sedang bermain bola basket di lapangan. Dia langsung menghampiri Vano, dengan secepat kilat dia mengambil alih bola basket dari tangan Vano.

__ADS_1


"Gara-gara lo ya, gue di keluarin dari kelas! Kalo aja Kak Kira gak ngancam gue, udah gue habisin lo!" ucap Raka sambil mendribble bola basket di tangannya.


Secepat kilat Vano mengambil lagi bola basket dari tangan Raka. Dia langsung memasukkan bola itu ke ring. Ya, memang Vano jagonya bermain bola basket, dia bahkan menjadi kapten bola basket di sekolah ini karna kemampuannya.


"Lo pikir gue peduli? Malah lo yang gue habisin!" balas Vano membuat Raka menyeringai.


"Ck, ck, ckk, gak tau diri kau ya! Setiap pertempuran sama gue kalah mulu juga!"


"Lebih tepatnya mengalah."


"Apaan ngalah, kalah-kalah aja udah." Raka tersenyum meledek.


Vano memutar bola matanya malas, dia melempar bola basket itu ke wajah Raka untungnya Raka dengan cepat mengambilnya. "Lawan gue main basket." Vano tersenyum menantang.


"Oke, yang kalah harus macarin Kesih."


Wajah Vano langsung berubah. "Kenapa harus Kasih yang jadi taruhannya?"


"Kenapa? Lo gak suka? Apa jangan-jangan lo suka sama Kesih?"


"Kalo iya kenapa?" jawaban Vano membuat Raka menatapnya jahil.


"Gue rebut lo," ancam Raka.


"Gue habisin lo!" ancam Vano juga.


"Gue rebut ah." ledek Raka.


"Gue rebut juga Widia."


Wajah Raka berubah ketika mendengar nama ittu, dia terdiam sejenak lalu membuka suara lagi. "Oke-oke, yang kalah harus traktir yang menang, deal gak?"


Vano mengambil bola dari tangan Raka, dia mendribble bola itu lalu memasukkannya ke ring lagi.


"Curang lo, nyet!"


...****************...


ada yang penasaran siapa itu Widia?


Vote, like dan komen jangan lupa ya!


dukung karyaku!

__ADS_1


__ADS_2