
Ke esokan paginya. Kira membuka matanya dengan perlahan. Entah kenapa matanya terasa berat mungkin karna dia menangis kencang tadi malam.
Mengingat tadi malam, Kira tidak menyangka jika Nathan ikut menangis. Ia tahu Nathan hanya salah paham tapi mengingat bagaimana Nathan menangis dan tidak mau melepaskan pelukannya membuat Kira tersenyum sendiri.
Kira sudah memaafkan Nathan. Tentu saja. Dia mengetahui semuanya ketika Nathan menangis menyesali perbuatannya. Mereka hanya salah paham satu sama lain, itu kenyataannya.
"Udah bangun?" Suara berat Nathan langsung menyadarkan Kira yang tengah tersenyum sendiri.
Suara Nathan langsung menyadarkan Kira bahwa saat ini dia tengah berada didekapan Nathan. Jadi dari tadi malam Nathan tidak melepaskan pelukannya? Hati Kira menghangat seketika.
"Eumm," sahut Kira hanya bergumam didalam dekapan Nathan. Dia menyembunyikan wajahnya didada telanjang Nathan, menghirup aroma maskulin yang sangat ia sukai dari tubuh Nathan.
Nathan mencium puncuk kepala Kira. Dia masih menyesal tentang perihal tadi malam. Rasa sakit ditangannya tidak lah penting tapi terlukanya Kira yang ia berikan membuatnya merasa sangat sakit.
"Maaf soal tadi malam." Kata Nathan, yang sudah berpuluhan kali ia katakan sejak tadi malam.
Kira terkekeh. Lucu rasanya mendengar kata itu lagi dari mulut Nathan padahal Nathan berkali-kali mengatakan itu tadi malam.
"Kok malah ketawa?" Tegur Nathan. "Aku minta maaf, loh. Bukan ngelawak."
"Ya, abis lucu aja. Dari tadi malam ngomongnya begitu mulu. 'Aku minta maaf-aku minta maaf' bosen tau ngedengarnya." Jawab Kira sedikit dibumbui kekehan.
Nathan ikut terkekeh. "Abisnya cuma itu yang pengen aku ucapin. Gimana dong?"
"Yang lain dong. Nih, si dede aja bosen dengernya." Celetuk Kira.
"Gak dong. Suara papanya kan cetar membahana masa iya dia bosen." Ucap Nathan sembari memainkan rambut Kira.
"Hadeh, pede sekali papamu ini, sayang." Kira berdialog dengan kandungannya membuat Nathan tertawa mendengarnya.
"Btw, kok rambut kamu gak panjang-panjang ya? Masa iya, udah berbulan-bulan gak panjang-panjang rambut kamu." Tanya Nathan merasa heran dengan rambut istrinya itu.
"Panjang kok. Kan tadinya rambut aku itu panjangnya sebahu terus sekarang panjangnya sepunggung." Jawab Kira.
"Pantesan."
"Pantesan kenapa?"
"Kamu tambah jelek."
"Kamu mah ihh!" Rengek Kira sambil mencubit perut Nathan.
__ADS_1
Nathan tertawa lagi.
Kira mendongakan kepalanya, menatap wajah Nathan. Tangannya menyentuh pipi Nathan membuat Nathan sontak memberhentikan tawanya.
"Kenapa?" Tanya Nathan, memegang tangan Kira yang menyentuh pipinya.
Bukannya menjawab, Kira malah mendekatkan bibirnya ke bibir Nathan. Mengecup bibir Nathan lama membuat Nathan terpaku dan juga sangat senang.
Kira menjauhkan bibirnya dari bibir Nathan. Dia tersenyum pada Nathan. "Gimana morning kissnya?" Goda Kira.
Nathan tidak bisa menahan senyumannya lagi. Biasanya Nathan yang selalu memberikan morning kiss tapi pagi ini Kira malah memberikan morning kiss tanpa diminta. Gimana hatinya tidak jedag-jedug coba?
"Astaga, Kirana.. kamu barusan mencium kakanda?" Antusias Nathan dimana malah membuat Kira memutar bola matanya.
"Biasanya kamu yang minta jadi hari ini, aku pengen aja cium kamu." Sahut Kira, tangannya yang tadinya berada dipipi Nathan kini pindah ke bibir tipis Nathan.
"Cium lagi dong." Pinta Nathan.
"Udah dikasih malah minta nambah."
Nathan menceberutkan bibirnya terlihat menggemaskan dimata Kira. Astaga, Nathan saja menggemaskan ini bagaimana anaknya nanti. Kira tidak bisa membayangkannya.
Kira berdecak. Kebiasaan Nathan begitu, sudah dikasih malah minta lagi. Haduh.
Kira mendaratkan lagi bibirnya ke bibir Nathan. Kali ini dia meresapnya pelan-pelan. Matanya terpejam.
Nathan pun sama, dia memejamkan matanya menikmati ciuman dari istrinya yang tak lama kemudian ciuman itu dia balas.
Lum---atan lembut dan resapan membuat mereka berdua mabuk dalam ciuman yang mereka ciptakan. Nathan bahkan makin memeluk Kira erat tapi tenang saja, pelukan itu tidak membuat perut Kira terjepit kok.
Setelah sudah puas, Nathan melepaskan ciuman itu dan sempat-sempatnya dia mengecup bibir Kira lagi sebentar.
Tangan Nathan bergerak menghapus bibir Kira yang basah karnanya. Dan seketika Kira menyadari luka ditangan Nathan, dia bangun dan terduduk lalu dia menarik kedua tangan Nathan. Melihat luka ditangannya yang Nathan gunakan meninju tembok tadi malam seketika Kira menangis.
Melihat Kira menangis secara tiba-tiba membuat Nathan terkejut. Nathan ikut terduduk dihadapan Kira. Dia tidak mengerti kenapa Kira menangis tiba-tiba seperti itu.
"Hei, kenapa nangis?" Tanya Nathan heran.
"Aku lupa tadi malam gak ngobatin luka kamu dulu. Huhu. Pasti sakit ya?" Kata Kira masih menatap tangan Nathan yang terluka.
Nathan terkekeh. "Udah gak papa. Bagi lelaki luka kayak gini udah biasa, sayang."
__ADS_1
"Tetap aja. Pasti sakit." Kira menggeleng.
"Gak, sayang. Aku udah berkali-kali terluka begini pas mukulin orang. Tenang aja." Nathan mencoba menenangkan Kira.
"Kenapa sih, kalo kamu marah harusnya jangan ngelampi
asin mukulin tembok kayak gitu." Omel Kira.
"Ya, itu lebih baik dari pada nyakitin kamu." Nathan menghapus airmata Kira. "Udah jangan nangis terus, kasihan kan dedenya juga sedih. Terus malah benci papanya karna terus bikin mamanya nangis." Ucap Nathan lembut dan Kira berhenti menangis seketika.
"Dia kangen sama kamu katanya." Kata Kira.
Nathan sumringah. Dia menyibak lingerie Kira sampai keatas perutnya. Dia menundukkan kepalanya menciumĀ perut Kira yang sudah membuncit sedikit. "Hallo, sayang. Kamu kangen papa ya? Tenang kok, papa juga gak kangen sama kamu." Ucap Nathan berdialog dengan anaknya yang masih berada di kandungan Kira.
Kira mencubit pipi Nathan gemas. Mendengar celotehan Nathan dengan perutnya entah kenapa terasa menggemaskan.
"Aduh, mama kamu itu galak banget ya? Masa papa setiap hari dicubitin, digampar terus sih. Ya, walaupun dibikin nikmat juga sih sama mama kamu."
"Nathan!" Tegur Kira.
"Cepat-cepat keluar ya? Papa mau cium kamu tau! Bosen setiap hari nyiumin mama kamu mulu."
"Ehem?" Kira berdeham membuat Nathan menatap dirinya sebentar sambil menyengir.
"Papa nunggu kehadiran kamu, sayang. Pasti seru melihara tuyul."
Kira menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Nathan barusan. Dia tidak habis thingking. Masa Nathan nganggap anaknya itu tuyul sih? Yang benar aja.
"Udah ya. Papa mau mandi dulu, bareng mama kamu. Apa? Kamu iri ya? Mangkanya cepet keluar, nanti susu mama, papa yang habisin loh!"
"Udah, ngobrolnya dulu. Bye, tuyul papa." Setelah selesai mengobrol dengan anaknya, Nathan mencium perut Kira lagi. Kali ini dia menciumnya lama.
Nathan sangat menantikan kehadiran anaknya itu. Dia tidak akan membuat anaknya seperti dirinya dimasa lalu. Tidak akan.
Brak!
Tiba-tiba pintu kamar Nathan terbuka lebar menampakan sosok sekretaris sialan itu. Siapa lagi kalau bukan Rendy.
"Astagfirulloh! Pemandangan apa ini!" Teriak Rendy histeris, melihat pemandangan itu. Dia seperti tengah menggerebek seseorang yang melakukan hal yang tidak senonoh.
Teriakan Rendy sukses membuat Nathan dan Kira terkejut bukan main, mereka secara bersamaan menatap kearah ambang pintu dimana sekretaris sialan itu menutup matanya dengan kedua tangannya.
__ADS_1