
Kira berkacak pinggang sambil berdecak melihat Nathan belum kunjung bangun juga padahal sekarang sudah pukul sepuluh pagi tapi pria itu masih tertidur dengan posisi tengkurap.
Kira akhirnya bergegas membangunkan Nathan. Dia terduduk disebelah Nathan tengkurap. Kira mengelus perutnya yang sudah sebesar buah melon.
"Liat tuh, Papa kamu masa jam segini belum bangun? Kebo banget." Kira berdialog dengan perutnya sambil mengelus-ngelus perutntmya dengan lembut.
Sekarang tangan Kira beralih ke rambut Nathan. Mengelus rambut Nathan dengan kasih sayang. "Nathan, bangun udah jam sepuluh loh ini." Kira membangunkan Nathan dengan nada yang sangat amat lembut.
Tidak tahu, biasanya Kira membangunkan Nathan dengan cara menyiram pakai air kalau tidak menampar pipi Nathan supaya terbangun tapi kali ini entah kenapa Kira ingin bersikap lembut pada suaminya itu. Mungkin itu kemauan cabang bayi yang kasihan melihat sang ayah selalu di KDRT-in sama mamanya sendiri.
Nathan akhirnya terbangun walau masih menutup matanya. Dia bergumam pelan yang tidak dapat didengar oleh Kira sambil menaruh kepalanya dipaha Kira menjadikannya sebagai bantal, tangannya memeluk pinggang Kira erat dan bibirnya menyentuh perut Kira.
"Haduh, lihat tuh sayang, Papa kamu emang manja banget ya?" Kira berdialog lagi pada cabang bayinya namun kali ini membuat Nathan terkekeh pelan.
Mata Nathan terbuka. Dia menyium anaknya yang masih ada di perut Kira berkali-kali. "Good morning, anak Papa." Sapa Nathan.
Kira tersenyum hangat. "Selamat pagi, Papa bau.." sahut Kira dengan nada seperti anak kecil. Anggap saja itu sahutan dari anak yang ada dikandungannya.
"Bau apanya. Mama ngarang ya?"
"Siapa yang ngarang? Emang bau tau!" Kata Kira.
"Kamu juga bau." Nathan merasa tidak terima dikatai bau oleh ibu hamil.
"Enak aja! Aku udah mandi ya!" Kata Kira, dia mengembungkan pipinya. Menggemaskan.
Nathan terkekeh. "Masa? Coba sini aku cium." Ucap Nathan menggoda Kira.
"No, ya! Cium-cium nanti minta lebih." Kira menggerak-gerakan jari manisnya didepan wajah Kira.
Nathan tertawa mendengarnya. Memang istrinya itu mengerti betul tentang dirinya. Ah, jadi makin cintoy Nathan jadinya.
"Mandi sana." Suruh Kira sembari mengunyel-ngunyel pipi Nathan ketika Nathan sudah memberhentikan tawanya.
"Males. Mandiin dong mangkanya."
"Gak mau." Tolak Kira mentah-mentah. "Udah ah sana mandi. Jangan mentang-mentang hari ini hari libur kamu gak mandi ya! Pokoknya kalo kamu gak mandi, jangan harap deket-deket sama aku!"
"Kenapa emangnya?"
"Yaiyalah. Gak level deket-deket sama orang bau."
__ADS_1
Nathan tertawa lagi. Entah apa yang lucu namun bagi Nathan itu lucu.
"Mandi sana ih!" Kira mulai kesal dengan Kira. Entahlah akhir-akhir ini Kira sering cepat berubah mood mungkin itu karna hormon ibu hamil.
"Iya-iya." Jawab Nathan. Nathan bangun dengan malas. Dia terduduk menatap sang istri yang telihat sudah kesal.
Melihat leher jenjang Kira yang mulus membuat Nathan tidak tahan ingin mendaratkan bibirnya disana. Dan dia pun mendekati Kira, mencium leher Kira dengan bibir dan hidungnya membuat Kira tidak tahan menahan tawa karna gelinya.
"Nathan ihh, udahhhh. Geli hahaha." Tawa Kira, tangannya mendorong kepala Nathan yang berada dilehernya.
Tak lama kemudian Nathan berhenti menciumi leher Kira, dia langsung loncat dari ranjang dan berlari ke kamar mandi karna dia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah Nathan melakukan itu. Apalagi kalau bukan kemarahan Kira.
"NATHANNN IHHH! AKU BENCI KAMU YA!" teriak Kira kencang. Namanya juga ibu hamil emosinya tidak stabil.
Nathan yang berada dikamar mandi tertawa geli mendengar teriakan Kira. Akh, menjahili ibu hamil seru juga. Sepertinya Nathan punya hobi lain selain membuat Kira marah, yaitu mengganggu Kira walau hobi itu memang ada sejak lama.
...****************...
"Oiya, aku lupa ngucapin selamat sama kalian. Selamat atas kelulusan kalian ya!" Kira mengucapkan selamat kepada Raka dan Vano yang tengah menikmati makannya di meja makan.
Vano tersenyum mendengar ucapan selamat dari Kira walau terlambat. Tapi dia senang Kira mengucapkannya.
Berbeda dengan Vano, Raka justru membuang pandangannya. Raka merasa dirinya dilupakan Kakaknya jadi dia kesal dan sedikit marah. Masa kelulusannya saja Kira lupa, benar-benar.
"Kamu kenapa, Ka?" Tanya Kira seolah-olah merasa tidak tahu.
Raka berdecih, dia akhirnya menatap Kakaknya yang memasang wajah polos. "Cih, kimi kinipi, ki?" Raka cemberut.
"Serius kamu kenapa, Raka?" Ulang Kira, dia masih berpura-pura tidak tahu.
"Mikirlah kenapa. Masa aku yang harus jawab!" Ketus Raka.
"Lah kok? Aku kan gak tau kamu kenapa?"
Raka geram dengan Kakaknya itu. "Kakak ngelupain aku ya? Parah banget." Sorot mata Raka tajam.
"Gak kok. Cuma lupa satu hari aja." Ucap Kira.
"Cih! Bilang aja emang lupa iya kan? Parah banget kelulusan adiknya sampe lupa padahal kan itu sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu!"
"Yaudah, iya ai'em soli." Sesal Kira.
__ADS_1
"Ketara banget minta maafnya gak sungguh-sungguh."
"Lah terus aku harus ngapain Rakaa?"
"Minta maaf dong yang bener."
"Oke, aku minta maaf karna udah lupa sama kelulusan adik aku sendiri." Sesal Kira dengan sedikit kesal.
Raka tersenyum merasa dirinya menang. Dia pun melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda
"Cih, lebay!" Cibir Vano kepada Raka. Kebetulan Vano sudah menyelesaikan makannya dan dia pun bangkit kursi.
Raka menatap Vano tajam. "Bodo, anda iri?" Balas Raka, sengit.
"Cih!" Decih Vano lalu dia beranjak pergi.
"Kamu udah makannya, Vano?" Tanya Kira melihat Vano pergi dari meja makan.
"Udah, kak." Jawab Vano tanpa memberhentikan langkahnya.
Tak lama kemudian Nathan menghampiri Kira, menarik kursi disebelah istrinya lalu duduk disana.
Nathan sempat menguap, dia masih mengantuk dan Kira malah membangunkannya tadi. Ini kan hari libur, dia ingin tertidur sepanjang hari diranjang.
Setelah Nathan duduk dikursi, Kira menyendokki nasi kepiring Nathan dan juga lauk-laukannya lalu menghindangkannya dihadapan Nathan.
"Kamu ngapain aja sih dikamar mandi? Lama banget perasaan." Kata Kira.
"Wahh, ngapain tuch dikamar mandi lama-lama." Raka mengompori. Dia suka saat Nathan yang menyedihkan itu kena omel Kira.
"Diem lo, bocah tengik!" Balas Nathan kepada Raka yang malah membuat Raka tersenyum meledek sambil melambaikan tangannya seperti banci.
Nathan menatap Kira yang menyipitkan matanya kearahnya. "Tadi aku gak langsung mandi." Jawab Nathan.
"Jangan-jangan.... jangan-jangan lagi." Raka masih mengompori lalu dia tertawa kencang.
"Udah ah. Aku males ngeliat muka kamu. Aku langsung ke kamar aja." Ujar Kira, dia bangun dari kursi. Entah kenapa hari ini dia tidak ingin melihat wajah Nathan. Memang sih ini bukan pertama kalinya dia merasa eneg melihat wajah Nathan.
Ucapan Kira seakan menusuk ulu hatinya. Nathan yang tengah melahap makanannya langsung menatap Kira yang menjauh darinya. Sial, kenapa terjadi lagi sih! Gerutu Nathan.
Raka tertawa makin kencang. Menertawakan Nathan. Bahkan dia sampai hampir terjatuh terjungkal kebelakang.
__ADS_1
Nathan menatap Raka tanpa ekspresi lalu kemudian sendok ditangannya melayang ke wajah Raka yang dimana membuat Raka memegangi wajah tampannya.
"Babi! Muka ganteng gue, omaygot!" Histeris Raka.