Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
40. Eka


__ADS_3

Siang ini Kira pergi jalan-jalan sendirian. Nathan sudah pergi ke kantor pagi tadi jadi dia bebas pergi sendirian tanpa adanya pengganggu. Seperti sekarang, dia berjalan di trotoar kota Jakarta sendirian.


Sampai di pertengahan jalan dia melihat seorang Kakek tua sedang di bentak-bentak anak muda. Entah apa salahnya sampai dia di bentak-bentak begitu tapi yang membuat Kira sedih adalah, Kakek itu menangis sambil memunguti dagangannya yang berserakan karna anak muda itu.


Hati Kira teriris, dia mengingat Ayahnya saat melihat Kakek tua itu. Tidak tega melihat Kakek itu terus di bentak-bentak, Kira memberanikan diri mendekati Kakek itu dan berjongkok di sebelah Kakek itu untuk memunguti dagangannya di atas trotoar.


Awalnya Kakek itu terkejut dengan hadiran Kira yang tiba-tiba membantunya namun akhirnya Kakek itu membiarkan Kira membantunya. Ia tahu Gadis itu baik, terlihat bagaimana Gadis itu menatapnya dan tersenyum tulus padanya.


"Eh, cucunya datang, bilang tuh ya ke Kakek lo, kalo jalan liat-liat! Baju mahal gue jadi kotor karna dia!" omel Gadis muda itu yang tidak ada sopan santunnya sama sekali.


Kira membantu Kakek itu berdiri setelah sudah memunguti semua dagangannya. Dia menatap Gadis muda itu yang melipat tangannya di dada.


"Cih, dasar gak punya sopan santun!" cibir Kira membuat Gadis muda itu tertawa sinis.


"Apa lo bilang?! Lo pikir lo siapa berani ngomong gitu sama gue, hah?!" bentak Gadis itu.


Kira mengangkat sudut bibirnya ke atas, menatap sinis Gadis di hadapannya. "Jangan karna kamu anak orang kaya bisa menindas orang lemah!" balas Kira tak kalah lantang.


"Emang seharusnya orang miskin harus di ijek-ijek." balas Gadis itu lagi, mengibas rambut gelombangnya.


"Hah?? Kayaknya saya harus memberi kamu pelajaran ya biar tahu cara menghormati orang yang lebih tua."


"Sori, sori aja ya, gue gak level di ajarin sama lo!" sinis Gadis itu.


"Udah-udah, neng. Jangan bertengkar, Kakek yang salah udah nabrak dia." lerai Kakek ketika Gadis itu ingin menjambak rambut Kira.


Kira menatap sang Kakek, dahinya mengkerut. Bisa-bisanya Kakek ini malah menyalahkan diri sendiri. Padahal Gadis muda itu yang kurang sopan padanya.


"Denger tuh! Gue gak salah, Kakek lo aja ngakuin kalo dia salah." senyum kemenangan tercetak di bibir Gadis itu.


"Eh, ada apa ini?" suara seseorang yang menghampiri mereka.


Orang yang baru saja menghampiri mereka, melototkan matanya melihat sang Kakek-nya menangis di sana. "Apa yang lo lakuin sama Kakek gue, hah?!" bentak orang itu kepada Gadis muda.


"Udah, jangan bertengkar, Eka." lerai sang Kakek, dia menarik Eka yang ingin menjambak Gadis muda itu dan dengan cepat Gadis muda itu berlari menjauh karna dia merasa dirinya di kroyok.


Seperginya Gadis muda itu, Eka menatap Kakeknya. Baju dan wajah Kakeknya kotor, dia menebak Gadis tadi berani menjoroki Kakeknya sampai Kakeknya terjatuh tadi.


"Kakek gak papa kan? Aku kan udah bilang, jangan dagang lagi, Kakek gak mau dengerin aku sih." mata Eka memancarkan kekhawatiran. Perempuan penghibur itu mempunyai sisi kelembutannya pada sang Kakek membuat Kira terharu.


"Eka?"


Eka menoleh ke Kira, dan dia terkejut. Ternyata yang sudah membantunya adalah teman seperjuangannya, Kira yang tidak lama ini berhenti berkerja dari bar.


"Kira? Kamu yang nolongin Kakek aku? Makasih ya." Eka tersenyum kepada Kira yang juga tersenyum padanya.

__ADS_1


"Kalian udah saling kenal?" tanya Kakek Eka.


Keduanya mengangguk secara bersamaan. "Dia teman kerja aku, Kek." jawab Eka.


"Makasih ya, neng. Kalo aja neng tidak, Kakek tidak tahu apa yang akan terjadi."


Kira mengangguk lagi, tersenyum. "Iya, Kek, sama-sama."


"Gimana kalo kamu ke rumah aku, aku kangen tau sama Kira yang polos ini." ajak Eka.


"Iya, main aja ke rumah yuk, nanti Kakek buatkan kue yang enak." ajak Kakek Eka juga.


Kira tersenyum kikuk, dia menggaruk-garuk kepalanya kemudian dia menganggukan kepala sebagai mengiyakan ajakan Eka dan Kakeknya.


...****************...


"Maaf ya, rumah aku kecil dan kurang nyaman." kata Eka, tidak mau Kira merasa kurang nyaman dengan kediamannya yang sangat kecil dan sempit ini.


Kira yang duduk di bangku kayu di depan rumah Eka, menggelengkan kepalanya. Dia juga pernah tinggal di rumah seperti ini sebelum dia menikah dengan Nathan. "Gak kok, aku nyaman." sahut Kira merasa Eka kurang enak.


Eka menghela nafas. "Syukurlah, kebanyakan teman-teman ku yang main ke sini langsung buru-buru pulang katanya tempatnya sempit lah, bau lah." Eka duduk di sebelah Kira di bangku kayu, dia membawakan beberapa kue buatan Kakeknya dan dua gelas es teh manis, dia menyedihkannya untuk Kira.


"Maaf ya cuma ini yang bisa di hidangin, maklumlah, dompet aku lagi tipis." Eka tertawa canggung.


Eka tersenyum senang mendengar pujian Kira. Setidaknya Kira mau memakan kue buatan Kakeknya karna kebanyakan temannya tidak mau memakannya karna bagi mereka kue buatan Kakeknya jorok, tidak higienis padahal Kakeknya orangnya sangat resik.


"Kakek, kue nya enak banget, Kira sukaa." teriak Kira kepada Kakek Eka yang berada di dalam rumahnya.


"Gak usah lebay deh." Eka tertawa melihat Kira terus memakan kue sambil menyengir kepadanya.


"Oiya, kenapa kamu berhenti kerja di bar?" tanya Eka pelan-pelan karna takut Kakeknya mendengarnya karna dia tidak pernah cerita ke Kakeknya kalau dia berkerja di bar malam.


Kira mengunyah kue di mulutnya dan menelannya sebelum menjawab pertanyaan Eka. "Aku udah nikah." jawabnya, juga pelan.


"Hah? Nikah?" Eka terkejut dengan jawaban Kira.


Kira mengangguk. "Aku udah menikah, sebulan lalu."


"Kok bisa? Kenapa dadakan? Kamu kan belum ada pasangan." Eka merasa ada keganjalan di pernikahan Kira.


"Aku menikah karna melunasi hutang Ayahku." jawab Kira, lemas. Dia kembali teringat pada masa itu.


Eka menatap Kira sedih, dia tidak tega melihat Kira harus menikahi Pria yang tidak di cintainya dan lagi itu karna melunasi hutang. Kamu melewati masa-masa yang menyakitkan Kira, dan kamu bisa melewatinya. Aku salut dengan kamu, Kira.


"Apa pernikahan kamu selalu di siksa? Atau di campakan seperti FTV-FTV?"

__ADS_1


Kira terkekeh dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Eka membuat Eka bingung. "Kok makan ketawa sih?" bingung Eka dengan temannya itu.


"Abisnya kamu lucu sih, aku itu bukan pemeran FTV, Eka. Aku gak pernah di perlakukan seperti itu, malah ya, dia selalu membuatku naik darah setiap hari dan yang lebih menyebalkannya dari dia, dia suka mengganggu aku dimana pun tempatnya." cerita Kira.


"Aku Kira kayak di FTV gitu."


Kira memukul pelan bahu Eka. "Ih, amit-amit." Eka dan Kira tertawa bersamaan.


"Btw, kamu masih kerja di sana?" tanya Kira setelah memberhentikan tawanya.


Eka mengangguk pelan. "Masih." jawabnya singkat. "Jujur ya, aku gak suka kerja jadi penghibur dengan memakai baju ketat dan seksi setiap malamnya dan menemani Pria hidung belang yang kurang ajar menyentuh tubuh aku tapi ya gimana aku terpaksa." Eka tersenyum pahit.


Kira menatap Eka sedih, dia pun memeluk Eka dari samping. "Sabar ya," Kira mengelus-elus punggung Eka.


"Aghhh, Kiraaaa..." Eka membalas pelukan Kira, tidak pernah ada yang menyemangatinya selama ini dan dia bersyukur karna datangnya Kira dalam hidupnya yang menyemangatinya melewati hari-hari yang begitu menyakitkan.


Eka melepaskan pelukannya ketika suara dering telepon ponsel Kira terdengar jelas. Dia menyengitkan dahinya bertanya kepada Kira siapa yang menghubunginya.


"Suami aku," jawabnya. "Aku angkat dulu ya." lanjut Kira dan Eka menganggukinya.


Kira mengangkat telpon dari Nathan lalu menempelkannya ke telinganya. Dia langsung mendengar suara Nathan.


"Hallo, istri yang paling jelek." suara Nathan yang membuat Kira kesal di sebrang sana.


Kira mendengus kesal. "Ada apa?" ketusnya.


"Kok kamu senang begitu aku telpon? Kangen ya?"


Gak lihat apa Kira udah jengkel dengannya malah di bilang senang karna di hubunginya. Oiya, kan Nathan jauh jadi tidak bisa melihat ekspresi kesalnya.


"Seneng, seneng apanya?! Jangan bikin orang kesel ya!"


Nathan terkekeh dan itu membuat Kira makin kesal karna kekehan Nathan di buat seperti berirama seperti lagu Roma irama sang raja dangdut itu. "Jangan kesel gitu dong, inget tadi malam kita ngapain?"


"Kalo cuma mau nelpon hal yang gak penting aku matiin nih!" ancam Kira.


"Eh jangan-jangan." serka Nathan.


"Mangkanya mau ngomong apa?" geram Kira.


"Cuma mau bilang, kamu membuatku jedag jedug aw aw aw, kamu sangat jelek dan burik sampai memenuhi otak ku u u u..." terdengar di seberang sana Nathan bernyanyi asal.


Karna sangat kesal dengan suaminya itu, Kira mematikan sambungan. Dia menaruh lagi ponselnya ke dalam tas selingnya.


Eka yang hanya mendengarkan Kira marah-marah dari tadi mulai mengumpulkan sesuatu, suami Kira benar-benar gila melihat bagaimana kesalnya Kira menghadapi suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2