
"Den Nathan, kenapa baru pulang?" tegur Bi Tati ketika melihat Nathan baru pulang dengan mengendap-endap membuat Nathan terkejut dan langsung menyengir ke arah Bi Tati yang berkacak pinggang.
Akh, memang Bi Tati selalu memperegokinya kalau Nathan pulang terlambat. Ibu Nathan itu memang terbaik.
Nathan menggaruk-garuk kepalanya menghampiri wanita paruh baya itu yang masih berkacak pinggang kepadanya. "Aduh, kok Ibu belum tidur jam segini? Ini kan udah larut, bu." kata Nathan.
"Seharusnya bibi yang ngomong begitu! Kenapa aden baru pulang jam segini?"
Wajah Nathan langsung berubah menjadi masam. "Bu, udah Nathan bilang berkali-kali, kalo kita lagi berdua jangan panggil aku aden. Aku gak suka." ngambek Nathan membuat Bi Tati menyumbingkan senyumannya.
"Maaf ya, Nathan. Ibu lupa kalo gak ada siapa-siapa di sini."
Kedua sudut bibir Nathan terangkat. Dia mendekati Bi Tati dan memeluk Bi Tati. Dia merasa rindu pada Ibu angkatnya itu. "Tadi aku capek banget bu. Mau tau gak, si Sekretaris sialan itu masih mau musuhan sama aku. Kurang ngajar kan bu? Seharusnya sekretaris patuh pada perintah atasannya, dia malah nolak semua perintah aku, nyebelin." cerita Nathan sambil terkekeh kecil.
Bi Tati tersenyum pahit. Sudah lama Nathan tidak bercerita-cerita padanya dan kalau Nathan bercerita seperti ini berarti itu artinya Nathan sangat terpukul sekarang. Mungkin bukan Sekretaris Rendy yang membuat Nathan terpukul, Nathan tapi ada perihal lain.
"Jangan bilang, tadi kamu pergi minum-minum?"
Nathan tertawa pelan. "Gak kok Bu. Aku udah janji sama istri aku gak akan minum lagi." jawab Nathan.
"Bagus lah, jangan banyak pikiran. Nathan harus minum obat yang teratur kalau tidak nanti--" Nathan langsung memberhentikan ucapan Bi Tati dengan menempelkan satu jarinya di bibir wanita paruh baya itu.
"Jangan ngomong itu lagi. Aku baik-baik aja. Gak udah khawatir, ok?"
"Den, aden harus jaga kesehatan dan minum obat yang teratur nanti kambuh lagi."
Nathan berdecak. Dia menjauh dari Bi Tati, dia memasang wajah kesal. "Udah berapa kali sih, bu Nathan bilang. Jangan panggil aden lagi. Aku kan anak ibu."
Ucapan Nathan membuat Bi Tati sedih. Semoga dia bisa. Karna Nathan pun sudah di anggap anak kandungnya sendiri.
"Apa sekarang kamu tidak mimpi buruk lagi?" tanya Bi Tati.
Nathan menggeleng. "Gak kok Bu. Karna adanya Kira, aku gak mimpi buruk lagi." Bi Tati tersenyum. "Oiya, Bu, tadi Kira nanyain aku gak? Dia ngamuk gak pas tau aku belum pulang?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Iya kayaknya. Dia dari tadi maki-maki kamu sambil jalan-jalan di depan pintu. Dia kayaknya marah sama kamu."
Nathan meringis pelan. "Ibu tau, istri aku galaknya minta ampun sebelas-duabelas lah sama ibu. Aku yakin nanti aku di timpuk barang atau di kunciin dari dalam."
Bi Tati terkekeh. "Yaudah sana ke kamar biar nanti non Kira tidak sangat marah sama kamu."
"Yaudah, aku ke kamar dulu ya, bu. Ibu juga tidur setelah ini. Aku gak mau ibu kenapa-kenapa, kalo itu tenjadi aku bisa nyalahin Pak Yayat, loh."
"Iya-iya, ibu ke kamar. Yaudah sana ke kamar, non Kira nunggu tuh."
Nathan mengangguk. Sebelum beranjak pergi dari sana, Nathan mendaratkan kecupan di pipi Bi Tati dan setelah itu dia berlari ke arah tangga menuju kamarnya.
Bi Tati menggelengkan kepalanya. Padahal Nathan sudah punya istri tapi tetap saja berperilaku seperti anak kecil dan Bi Tati menyukai itu. Setidaknya Nathan tidak pernah melupakannya.
Sesampai di depan pintu kamarnya, dengan hati-hati Nathan mengayunkan kenop pintunya. Dia takut membangunkan Kira kalau Kira memang sudah tidur.
Dan benar saja dugaannya. Kira sudah tertidur nyenyak di ranjang. Nathan menutup kembali pintu kamarnya dengan hati-hati lalu berjalan mendekati ranjang dimana Kira tertidur dengan nyenyak disana.
"Aku mencintaimu." gumam Nathan sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Kira.
Tak lama kemudian Kira membuka matanya perlahan, dia merasa terusik dan ketika mata cantik itu terbuka, Kira langsung mendapati Nathan yang tersenyum padanya.
"Nathan, kenapa kamu baru pulang?" suara Kira khas orang bangun tidur yang sangat lembut dan itu sukses membuat jantung Nathan berdisko disana.
"Kamu nungguin aku dari tadi?" tanya Nathan, tangannya masih mengelus-elus rambut Istrinya.
Kira mengangguk. "Dari tadi aku nungguin kamu malah niatnya mau nimpuk muka kamu pakai panci saking lamanya nungguin kamu pulang."
Nathan terkekeh. "Kenapa gak jadi?"
"Malas. Udah gak mood. Yang penting kamu pulang kerumah bukan ke rumah mantan kamu."
"Mantan? Mauren maksud kamu?" Kira mengangguk. "Tadi aku mampir sebentar sih ke rumahnya."
__ADS_1
Kira membuka matanya dengan lebar mendengar itu. Dia langsung terduduk dan bersiap memukul Nathan. "KAMU KE RUMAH MAUREN TADI?!" teriak Kira.
Nathan tertawa kencang membuat Kira menyengitkan dahinya. "Kok malah ketawa? Kamu benaran ke rumah Mauren tadi?!"
Nathan memberhentikan tawanya dan mendekati Kira di atas ranjang. Sebelum ke kamar, Nathan sudah membuka jas dan sepatunya tadi.
"Gak lah, sayang kuhhh cinta kuh, muachh."
"Benaran gak kerumah Mauren?" mata Kira memicing, mengintimidasi Nathan.
Nathan memeluk Kira dan mendaratkan kecupan-kecupan di sekujur xangguk sambil tetap tertawa geli. "Iyaa, hahahaha, udah Nathan, ahahhahah.."
Nathan memberhentikan aksinya, menidurkan tubuhnya dan juga membawa Kira tertidur di atas tubuhnya, memeluk erat pinggang Kira agar tidak meronta.
"Kamu gak ganti baju dulu?" tanya Kira.
"Kenapa? Aku wangi dan tetap hot kok, sayang."
"Cih, percaya diri." decih Kira.
"Ya karna itu harus. Karna kata Raka, kita gak boleh insinyur."
"Insinyur, insicure, Nathan." koreksi Kira.
"Kata Raka kamu kok yang ngajarin."
"Ih kapan, ngada-ngada."
Nathan tertawa terbahak-bahak. Malam sudah larut tapi kedua pasangan itu malah hanyut dalam candaan tertawa. Mereka saling melempar cibiran walau Kira berulang kali menggerutu.
...****************...
Selamat tahun baru... Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik. tetap dukung karyaku ya! kawal terus..
__ADS_1