
"Ya ampun Kira, rumah kamu kayak istana loh, sumpah gak bohong." Heboh Eka ketika berkeliling melihat-lihat rumah suami Kira.
Kira menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sahabatnya heboh begitu. Dia pun saat awal masuk kesini sama hebohnya dengan Eka cuman kalau tidak ada Nathan dirumah.
Eka duduk ditepi kolam, dia menyelupkan kedua kakinya di kolam renang. Sama halnya dengan Eka, Kira pun duduk ditepi kolam disebelah Eka.
"Beruntung banget kamu, Ra. Aku jadi iri. Bukan tentang kekayaan dan ketampanan aja, tapi juga cinta suami kamu ke kamu itu dalam, loh." Kata Eka.
Kira terdiam. Apa benar Nathan mencintainya sedalam itu? Kenapa dia belum percaya dengan Nathan? Tapi Kira mengakui ketika mengingat bagaimana Nathan menatapnya, menciumnya. Dia dapat merasakan cinta Nathan padanya.
Telujuk Eka mencolok pipi Kira membuat lamunan Kira buyar. Eka tertawa pelan. "Baru nyadar sekarang, ya? Cieee." Goda Eka.
"Iya, aku baru nyadar sekarang. Aku sempet ngeraguin cinta Nathan ke aku sampe kita berantem gak lama ini." Kira terkekeh pelan.
"Ngeraguin itu wajar, semua perempuan juga pernah ngeraguin cinta suaminya. Tapi Nathan itu bener-bener cinta banget sama kamu, walaupun aku baru pertama kali ngeliat dia, tapi dari sorot matanya yang selalu natap kamu, aku bisa ngerasainnya."
Kira tersenyum. "Makasih ya, Ka." Ucap Kira membuat Eka bingung.
"Lah kok makasih sama aku sih? Aneh kamu ya." Eka tertawa.
"Ya gak tau, makasih aja." Kira ikut tertawa.
"Btw, gimana keadaan kakek kamu, Eka? Aku kangen dibikinin kue lagi tau." Tanya Kira yang membuat raut wajah Eka berubah.
"Itu yang pengen aku ceritain sama kamu. Kakek udah meninggal, Ra. Dua bulan yang lalu." Jawab Eka, dia menatap ke air dengan tatapan kosong.
Kira terkejut dengan kabar itu. Kenapa dia baru mengetahui sekarang?
"Maaf ya, aku baru ngasih taunya sekarang." Ucap Eka, dia tersenyum pada Kira.
Kira diam saja. Dia tahu senyuman itu adalah senyuman palsu. Tentu saja dia tahu karna dia selalu berpura-pura baik-baik saja sebelum mengenal Nathan.
Kira langsung memeluk Eka, begitu Kira memeluk dirinya. Eka secara tiba-tiba mengeluarkan airmatanya.
Kira tahu betul bagaimana kita kehilangan seseorang yang kita sayangi selamanya. Itu sangat menyedihkan juga sangat menyakitkan.
"Yang sabar ya." Ujar Kira, menenangkan Eka sambil mengelus-elus punggung Eka.
Eka akhirnya mmeberhentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya pada Kira. Dia menghapus air matanya. "Maaf, aku jadi nangis gini."
"Gak papa kali." Kira tersenyum. "Oh iya, kamu masih ingat sekretaris Nathan tadi kan?"
__ADS_1
"Kira, aku belum tua. Ya, aku ingat lah."
Kira terkekeh. "Menurut kamu dia gimana?" Tanya Kira. Dia berniat ingin menjodohkan Eka dan Rendy. Sepertinya mereka berdua cocok.
Eka berpikir sebentar lalu membuka suaranya lagi. "Lumayan ganteng lah dan juga lumayan hot. Emang kenapa kamu mau selingkuh sama dia ya?" Mata Eka memicing.
Kira memukul pelan bahu Eka. "Gak lah. Maksud aku, dia termasuk kriteria suami idaman kamu gak?"
Eka berpikir sebentar lagi. "Gak tau, tapi keliatan dari mukanya kayaknya dia orang yang kurang normal."
"Maksud kamu abnormal begitu?" Kira tertawa.
Eka menganggukinya dan ikut tertawa.
"Tapi kayaknya Rendy itu suka kamu deh." Ucap Kira setelah memberhentikan tawanya.
Sebelah alis Eka terangkat. "Jangan ngada-ngada kamu ya! Aku sadar diri kok muka aku diatas rata-rata." Canda Eka.
"Tapi serius nih, ya. Pas dia datang itu, dia langsung memantung gitu pas liatin kamu."
Eka mendengus pelan. "Udah ya Kira. Mana mungkin ya ada pria yang hampir sepurna kayak Rendy itu suka sama wanita malam kayak aku. Gak mungkin, Ra." Eka menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kira sungguh tidak suka saat Eka bicara seperti itu. Ia tahu dalam ucapan Eka barusan sangat menyedihkan untuk dirinya sendiri tapi Kira benar-benar tidak suka itu.
Eka menatap kolam renang. Dan dia menganggukinya. "Iya, udah saatnya aku berhenti dari pekerjaan memalukan itu. Aku gak mau bikin Kakek sedih disana saat tahu cucunya masih menjadi wanita yang menjijikan."
Kira tersenyum. Dia memeluk Eka dari samping. Eka sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.
...****************...
"Sayang, aku pulang." Kata Nathan ketika dia membuka pintu kamarnya.
Kira yang tengah merias diri dimeja rias langsung mendekati Nathan sambil tersenyum manis pada Nathan yang baru saja pulang dari kantor.
Nathan merentang kedua tangannya ketika Kira mendekatinya. Senyuman tercetak dibibirnya ketika Kira merias wajahnya malam ini untuknya.
Kira mengecup bibir Nathan singkat lalu dia tersenyum pada Nathan. "Kok baru pulang?" Tanyanya dengan manja dia melingkarkan kedua tangannya dileher Nathan.
"Tadi ada urusan mendadak jadinya pulang jam segini. Kamu udah nunggu aku dari tadi?" Jawab Nathan, dia memeluk pinggang istrinya.
Mata Kira memicing. "Urusan? Jangan-jangan kamu ngurusin Mauren dulu?" Tuduh Kira membuat Nathan tertawa.
__ADS_1
"Gak kok, beb. Emang sih ngurusin masalah sama dia tapi bertiga sama Rendy kok. Tenang aja, ya sayang, honey, bebeb, aku gak bakal selingkuh kok. Toh aku udah punya istri sejelek kamu." Ucap Nathan.
Kira memutar bola matanya sambil berdecak. "Masalah apa?" Tanya Kira.
"Masalah yang bikin kita bertengkar, sayang."
"Seharusnya kamu gak usah berurusan lagi sama dia."
"Justru itu, dia makin gencar buat ngehancurin rumah tangga kita, Kira."
Kira semakin tidak habis pikir dengan Mauren. Sebegitu ambisiusnya dia mendapatkan Nathan sampai ingin menghancurkan rumah tangganya.
Melihat Kira diam menatap dirinya, Nathan jadi gemas. Dia mengecup bibir Kira sekilas sambil terkekeh.
"Tenang aja, hatiku hanya untuk Kirana seorang jadi jangan takut diambil ya?" Nathan mengedipkan sebelah matanya, menggoda Kira membuat pipi Kira memanas.
Pantas saja banyak wanita yang menganggumi Nathan, memang benar Nathan itu benar-benar mempesona.
"Ciee yang memer." Goda Nathan. (Memer: merah merona)
Kira memukul dada Nathan saking salah tingkahnya dengan suaminya itu. "Apasih!"
Nathan tertawa melihat pertama kalinya Istrinya salah tingkah dan itu sangat menggemaskan dimatanya.
Saking menggemaskannya Kira itu, Nathan langsung menggendong tubuh Kira ala brydal style. Dia berjalan kearah ranjang. Menidurkan Kira disana.
"Nathan, jangan bilang kamu mau..."
"Apa? Mau apa? Orang aku mau nyapa si kecebong."
Nathan menyibak lingerie Kira sampai keatas perutnya, dia mengusap perut Kira yang membesar itu. Dia mendekatkan bibir ke perut istrinya itu. Mencium perut istrinya seperti tengah mencium anaknya yang masih berada dikandungan Kira sebagai sapaan dari sang ayah.
Kira yang merasakan bibir Nathan menempel pada perutnya tersenyum. Dan tiba-tiba dia pun merasakan tendangan-tendangan dari dalam perutnya. "Liat tuh, kamu cium dia jadi kesenengan sampai nendang-nendang dari dalam." Kata Kira.
"Ah masa sih?"
Nathan mencium lagi perut Kira. Dia melihat dengan jelas kaki-kaki mungil anaknya yang menendang-nendang dari dalam perut Kira. "Sayang, jangan nendang-nendang dong. Kasian mamanya!" Nathan berdialog pada anaknya.
"Berhenti, kalau mau jadi pemain sepak bola nanti papa ajarin tapi tunggu kamu keluar dulu nanti juga papa ajarin cara mempermainkan wanita."
Kira tidak habis pikir.
__ADS_1
"Udah, jangan nendang-nendang nanti kamu mau papa suruh minum air sperm papa lagi?" Ancamnya.
"Nathan!"