Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
[17] Sekolah Raka (2)


__ADS_3

Suasana kantin yang tadinya tenang tentram malah menjadi riuh karna Raka datang ke kantin dengan seorang Gadis di sebelahnya dan lagi Raka menggenggam tangan Gadis itu.


Raka menelisir seisi kantin, mencari meja yang kosong dan dia berhasil mendapatkannya di meja yang paling pojok dekat tembok yang masih kosong. Jika pun semua meja sudah terisi, Raka akan mengusir mereka pergi dari sana.


Kira yang berada di sebelah Raka menjadi bingung. Kenapa mereka semua menatapnya? Apa ada yang salah darinya?


Kira mencolek pinggang Raka membuat Raka menatapnya dengan satu alis terangkat. "Ada yang salah gak sama aku? Kenapa mereka natap aku begitu?" tanya Kira.


"Mungkin karna Kakak jelek mereka jadi ngeliatin Kakak. Kalau cantik mana mungkin di liatin begitu."  ucap asal Raka.


"Emangnya kamu ganteng?!" Kira tidak terima di bilang jelek walau emang kenyataannya sih.


"Ganteng lah, kloning aku lebih bagus dari Kakak mangkanya Kakak jelek aku ganteng."


"Siapa yang bilang kamu ganteng? Coba kasih tau aku?"


"Banyak yang ngomong kok. Kenapa Kakak gak terima? Mau baku hantam?"


"Berani kamu sama aku?" Kira berkacak pinggang.


"Ouhhh tentunya.... Gak berani, hehe." Raka menyengir kuda.


"Jadi makan gak sih kamu? Nanti keburu bel masuk, loh!"


"Jadi lah, kebetulan ada Kakak istri Presdir kaya raya aku mau makan sepuasnya di sini." kata Raka menarik tangan Kira duduk di meja kosong di pojok dekat tembok.


"Aku mau mesen dulu, Kakak tunggu di sini ya?" Kira mengangguk. Dia menunggu Raka yang sedang memesan makanan ke ibu kantin. Dia menatap sekeliling kantin.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang menyiram es teh ke baju Kira membuat Kira langsung berdiri dan menatap orang yang sudah menumpahkan es teh ke bajunya.


"Eh, maaf ya se-nga-ja." kata perempuan yang sudah menumpahkan es tehnya ke baju Kira tanpa merasa bersalah.


Kira menghebus nafasnya. Dia membersihkan bajunya dengan tisu yang ada di meja kantin.


"Btw, lo pake pelet apa sampe Raka mau sama lo?" kata Perempuan itu dengan tidak sopan.


Walaupun umur Kira baru dua puluh tahun tetap saja dia tidak sepatutnya berbicara tidak sopan pada Kira.


"Pelet?" beo Kira. Tidak mengerti maksud dari Perempuan cantik berambut pirang itu.


Perempuan itu bernyibak rambut pirangnya ke belakang. "Iya lah, mana ada cewek sejelek lo bisa buat Raka kepincut sama lo?"


"Hah?" Kira menganga tidak mengerti.


Justru membuat Perempuan itu tidak senang. Baginya Kira menjawabnya begitu berarti Kira menentangnya. Perempuan itu secara tiba-tiba menjambak rambut Kira dengan kencang membuat seisi kantin menjadi gaduh karna aksi Perempuan itu.


"Kakak?!" Raka mendekati perempuan yang sudah berani menjambak Kakaknya, tanpa segan-segan Raka mendaratkan tamparan di pipi Perempuan cantik itu membuat seisi kantin yang tadinya gaduh menjadi hening.


Kira menangis, dia tidak mengerti kenapa dia bisa di perlakukan seperti itu. Dan kepalanya sekarang pusing karna jambakan Perempuan itu sangat-sangat kencang.


"Berani lo sentuh dia!" bentak Raka.


Perempuan itu menatap Raka dengan mata memerah. "Kenapa? Emang dia siapa lo?" tanya Perempuan itu.


"Dia siapa bukan urusan lo!"

__ADS_1


"Oh, jadi dia cewek lo? Cih, dia ngasih tubuhnya ke lo secara cuma-cuma mangkanya lo mau sama dia?" perempuan itu menatap Kira hina.


Raka benar-benar marah saat Perempuan itu berani menghina Kira seperti itu. Rahang Raka mengeras. "BERANI LO J*ALANG!" bentak Raka semakin kencang.


Kira menenangkan Raka dengan menarik tangan Raka yang mau menampar perempuan itu lagi. "Udah, Ka. Jangan main kasar sama perempuan, aku gak suka."


Raka menahan emosinya, dia menatap Kira yang menangis. Dia pun langsung menarik tangan Kira meninggalkan kantin.


"Eh, Raka! Ini makanannya gak jadi?" teriak Ibu kantin ketika Raka pergi begitu saja.


"Kakak pulang aja sana. Pulang sekolah, aku main ke rumah Kakak." kata Raka, dia menghantarkan Kira sampai depan gerbang sekolah.


Kira mengangguk. Dia tersenyum pada Raka yang terlihat masih sedikit marah karna perlakuan perempuan itu kepada Kakaknya. Dia berjanji setelah ini akan memberi pelajaran pada Perempuan itu.


"Yaudah, aku pulang tapi jangan apa-apain perempuan tadi ya? Dia itu gak salah, mungkin dia suka sama kamu mangkanya ngira kalo aku ini pacar kamu."


"Tetap aja kak, dia udah nyakitin Kakak masa iya sebagai adik yang baik hati aku diam aja?"


"Udah lah, kalo kamu nyakitin perempuan itu sama aja kamu nyakitin aku! Pokoknya jangan sakitin perempuan itu, nanti aku tanya sama Vano kalo kamu apa-apain Perempuan itu. Liat aja apa yang bakal aku lakuin." ancam Kira.


Raka menghebus nafasnya. "Iya-iya, yaudah Kakak pulang sana." usir Raka.


"Yaudah aku pulang."


"Dari tadi ngomong, yaudah aku pulang mulu, tapi gak pergi-pergi."


Kira menjewer telinga Raka membuat sang empu mengaduh kesakitan. "Songong kamu ya?!"

__ADS_1


"Sakit Kakak?!" Kira melepaskan jewerannya dan tersenyum lebar lalu berjalan menjauh dari gerbang sekolah Raka.


Raka menatap punggung mungil Kakaknya sampai benar-benar menghilang. Dia tersenyum, rasa rindunya pada Kira sudah berkurang walau cuma sedikit. Bel masuk berbunyi, Raka yang masih berdiri di depan gerbang langsung masuk ketika mendengarnya.


__ADS_2