
Perang diam-diaman masih melanjut, Nathan dan Rendy tidak berbicara sepatah kata pun, mereka saling diam-diaman. Ketika mereka saling pandang satu-sama lain, sedetik kemudian mereka membuang pandangan mereka ke sembarang arah. Seperti anak kecil yang sedang bermusuhan.
Begitu pun sekarang, selesai meeting, Rendy tidak menegur atau bercakap dengan Nathan. Dia berjalan di belakang Nathan sambil melipatkan tangannya di dada dan sudut bibir terangkat.
Begitu pun dengan Nathan, dia berjalan di depan Rendy dengan gaya sombongnya dan songongnya membuat Rendy ingin sekali mencibirnya namun dia teringat, kan mereka masih bermusuhan.
Saat berada di depan lift, menunggu lift terbuka, mereka saling melempar tatapan tajam dan langsung mengalihkan pandangannya sambil mendengus.
"Selamat pagi tuan muda," sapa seseorang membuat mereka berdua kompak menoleh ke arah orang itu.
Ada dua macam ekspresi ketika melihat orang yang menyapa itu. Nathan yang berekspresi tenang tapi tersenyum pada orang itu dan Rendy yang berekspresi malas dan menatap sinis orang itu.
"Ada apa, Mauren?" tanya Nathan dengan senyuman di bibirnya membuat Mauren semakin yakin kalau Nathan masih mempunyai perasaan padanya.
Mauren tersenyum manis dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan manja yang dimana membuat Rendy ingin muntah melihatnya. "Ada yang perlu aku bicarakan." kata Mauren lembut.
"Yang sopan bicara dengan atasan, nona." bukan Nathan yang menyahut, tapi Rendy yang menyahut dengan nada kesal.
Mauren menatap sinis Rendy. Kenapa sih Sekretaris itu selalu mencari gara-gara padanya. "Maaf ya, tapi saya tidak bicara dengan kamu." sinis Mauren kepada Rendy yang mengangkat sebelah sudut bibirnya keatas, mencibir.
"Nona, perlu anda tahu, saya itu juga atasan anda, loh. Harus yang sopan ya," kata Rendy membuat Mauren naik darah.
"Berisik!" Nathan melerai pertengkaran Rendy dan Mauren yang semakin sengit.
"Hadeh, kekasihnya di belain nih?" kata Rendy pada Nathan yang langsung di tatap tajam oleh Nathan. Memang ya, Rendy kalau ngomong itu tidak pernah di saring dulu.
"Ingat, kita masih musuhan!" Nathan mengingatkan bahwa mereka masih bermusuhan.
Rendy memutar bola matanya malas. "Siapa juga yang mau baikan, hihhh gak mau ya." nada bicara Rendy di buat seperti banci.
Mengetahui Nathan dan Sekretarisnya bermusuhan membuat Mauren senang. Dia punya ide untuk datang menggoda Nathan di ruangannya tanpa adanya gangguan dari Sekretarisnya itu.
"Siapa juga yang mau baikan! Sampai dunia runtuh pun, saya tidak akan mau baikan!" balas Nathan.
__ADS_1
"Hello, emang saya peduli."
Nathan menatap kesal Sekretarisnya itu. Ada ya, Sekretaris modelannya kayak Rendy. Aneh, kenapa dia mengkerjakan Rendy menjadi Sekretarisnya kalau dia tahu akan begini.
"Tuan muda, bisakah kita berbicara? Sebentar saja." kata Mauren, dia mulai mendekati Nathan dan memeluk lengannya. Seperti tidak punya malu.
"Dasar tidak tahu malu!" cibir Rendy tidak di pedulikan Mauren.
"Baiklah, kita akan bicara saat jam makan siang datanglah ke ruanganku." kata Nathan, dia melirik Rendy yang menatapnya gedek.
"Pelakor ohh pelakor.." senandung Rendy membuat Mauren tersenyum penuh kemenangan kepadanya.
...****************...
Jam makan siang.
Mauren merias wajah dahulu di depan pintu ruangan Nathan yang masih tertutup. Dia menatap wajahnya di cermin bedak kecilnya, tersenyum pada dirinya sendiri. "Tetap cantik." pujinya lalu menutup bedak kotak kecilnya (gak tau namanya apa).
Setelah sudah puas dengan penampilannya sekarang, dengan perlahan Mauren membuka pintu ruangan Nathan. Terlihat Nathan tengah berbaring di sofa. Sepertinya Pria itu terlalu lelah sampai ketiduran, anehnya dia tertidur di sofa jelas-jelas ada kamar pribadi di ruangannya.
"Istriku, jelekku, kesayanganku, muach." Mauren mengeja nama yang tertera di sana. Entah kenapa dia merasa aneh. Kenapa bisa Nathan sealay ini? Apa karna menikah dengan manusia jelatah itu Nathan jadi berubah seperti ini?
Dengan senyuman licik, Mauren mengangkat panggilan dari Istri Nathan itu. Dia melirik Nathan dahulu sebelum menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"NATHAN, DIMANA SEMUA BEHA AKU! KAMU SEMBUNYIIN DIMANA?" Mauren terkejut bukan main. Teriakan istri Nathan itu benar-benar kencang, untung saja tidak memecahkan gendang telinganya.
Mauren menyimpulkan sesuatu dari Kira itu. Sudah buruk rupa terus suaranya cempreng lagi, apa yang menarik darinya sampai membuat Nathan menikahinya? Seharusnya dia yang menjadi Istri Nathan bukan Gadis itu.
"Hallo, Nathan?" suara Kira tidak berteriak seperti tadi.
"Hallo?" sahut Mauren membuat Kira di sembarang sana terkejut. Kira mengetahui suara itu, suara mantan pacar suaminya, ia itu si wanita itu. Tapi kenapa ponsel Nathan di pegangnya? Kemana Nathan? Apa yang dilakukan Nathan dengan Wanita itu? Semua pertanyaan berada di dalam otaknya dengan perasaannya yang sulit di jelaskan.
"Ada apa ya?" Mauren membuka suara lagi saat tidak ada sahutan lagi dari Kira.
__ADS_1
"Kenapa ponsel suami saya ada di kamu?" tanya Kira, nadanya ketus.
"Oh, jangan ketus-ketus gitu dong. Aku cuma ngangkat telpon dari kamu, terus Nathan lagi tidur tuh, di pangkuan aku."
"Jangan bercanda! Dimana Nathan sekarang?!" bentak Kira.
"Aku kan sudah bilang, dia tidur." jawab Mauren tidak kalah lantang. "Butuh bukti?"
"Gak usah! Saya gak butuh! Makasih!" Kira memutuskan sambungan.
Mauren menaruh lagi ponsel itu di atas meja lalu dia mendekati Nathan yang masih memejamkan matanya. Mauren berjongkok di depan wajah Nathan yang terlelap itu. Nathan sangat tampan.
Bibir tipis merah muda itu sangat menggoda Mauren. Dulu, dia sering bercumbu dengan bibir itu. Senyuman pahit tercetak di bibir Mauren. Dia menyesal meninggalkan Nathan sekarang.
Tak lama kemudian Nathan membuka matanya, dia memegang kepalanya yang nyeri lalu dia mendudukkan dirinya di sofa membuat Mauren ikut berdiri dan duduk di sebelahnya.
Nathan menatap Mauren yang duduk di sebelahnya. Sejak kapan Mauren ada di ruangannya? Itu pertanyaan yang ingin ia lontarkan tapi sakit di kepalanya tidak mendukungnya.
"Mauren, bisakah kamu mengambil obatku?" pinta Nathan, dia tidak tahan lagi dengan sakit di kepalanya.
Mauren menyerngitkan dahinya. "Dimana?" tanya Mauren bersiap mengambil obat yang di perintahkan Nathan.
"Di laci meja kerjaku." jawab Nathan.
Mauren mengambil obat itu di dalam laci meja kerja Nathan dan dia kembali duduk di sofa sambil memberikan obat itu yang langsung di telan oleh Nathan.
Setelah rasa sakit di kepalanya berkurang, dia menatap Mauren lagi. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Nathan to the point.
"Ayolah Nathan, tidak perlu terburu-buru." Mauren menyenderkan kepalanya di bahu Nathan. Yang anehnya Nathan tidak merasa risih sama sekali. Atau mungkin sudah terbiasa?
"Mau, aku banyak pekerjaan dan kamu juga harus kembali bekerja. Jangan membuang waktu." ucap Nathan.
Mauren tersenyum ketika Nathan masih memanggilnya dengan nama panggilan sayangnya. "Baiklah, aku akan bicara." tangan Mauren menggerayang ke selakangan Nathan membuat Nathan terkejut. "Aku merindukanmu." katanya dengan sensual.
__ADS_1
"Cuma itu yang ingin kamu bicarakan, Mau?" Mauren mengangguk. "Tidak penting sekali." cibir Nathan sambil tertawa kecil.
"Memang, tapi aku sangat merindukanmu itu kenyataannya."