
"Pfft, hahahaha." suara tawa Rendy kencang sampai Kira yang berada di dalam kamar, menyelimuti tubuh setengah telanjang dengan selimut heran dengan suara tawaan Rendy.
Nathan berdecak. Emang ada yang lucu sehingga membuat Rendy tertawa?. "Berisik lo!" ketus Nathan.
Rendy memberhentikan tawanya. "Sori, sori. Lo mimpi ya? Miris gue sama lo, Nat, gak dapat layanan Istri tapi menghalusinasi, hadeh."
"Udah lah, lo cuma ganggu, balik sono lo!" usir Nathan, menutup pintu kamarnya dengan kencang sampai di depan sana Rendy terkejut dengan suara itu.
Nathan mendengus, dia berjalan menghampiri Kira lagi yang menutupi tubuh setengah telanjangnya dengan selimut. Kedua alis Kira terangkat melihat wajah Nathan yang tertekuk seperti kanebo kering.
"Kenapa?" tanya Kira ketika Nathan merebahkan tubuhnya di sebelahnya.
"Gak papa." jawab Nathan singkat.
"Jadi, gak mau lanjutin yang tadi nih?" tanya Kira menggoda Nathan.
Wajah Nathan manjadi cerah seperti sebelumnya. Dia bangun dan menatap Kira yang tersenyum-senyum padanya. "Serius boleh di lanjutin?"
Kira berpikir dahulu kemudian dia menganggukan kepalanya. "Iya," jawabnya singkat.
Nathan langsung mencium bibir Kira lagi dengan panas. Dia tidak mau membuang kesempatan yang ada. Bisa saja sedetik kemudian Kira merubah pikirannya. Dia menekan dada bidangnya menempel dengan dada polos Kira.
Kira refleks mengalungkan tangannya di leher Nathan. Nathan kali ini benar-benar ganas. Dia bahkan sudah berada di bawah tubuh Nathan, dia hanya bisa pasrah dengan perlakuan Nathan.
Ciuman Nathan turun ke gunung kembar yang sempat ia tinggalkan tadi karna Sekretaris sialannya itu. Dia mengemut dan menyedot puncuk gunung Kira sesekali dia gigit pelan hingga membuat Kira tidak bisa menahan des*hannya. tangan kirinya ia gunakan untuk memeras gunung Kira yang satunya dan tangan kanannya mencoba meraba-raba paha Kira.
Lidah Nathan menari-nari dipuncuk gunung Kira sesekali dia gigit sampai Kira merasa nyeri karna itu.
"Aww, jangan di gigit dong!" Kira mencubit pinggang Nathan membuat Nathan tertawa pelan tapi tidak memberhentikan aksi menyusunya pada gunung kembar Kira.
Sudah puas dengan gunung Kira sebelah kanan, Nathan beralih ke gunung kiri Kira. Dia juga menyusu pada dada kiri Kira padahal tidak ada cairan yang keluar tapi membuat Nathan ketagihan. Tangan Nathan menyelonong masuk ke dalam CD Kira, dia mencolek-colek dan bermain di inti kewanitaan milik Kira membuat Kira menggeliat kenikmatan. Bagian inti Kira sudah basah dan sepertinya siap untuk gagahi.
__ADS_1
Akhirnya Nathan menjauh dari Kira, dia membuka lilitan handuk di pinggangnya. Kira heran dari tadi handuk itu kenapa tidak lepas-lepas. Saat Nathan membuka lilitan handuknya terpampanglah senjata pusakanya yang siap akan bertempur membuat Kira meneguk ludah susah payah.
Nathan menyeringai mengetahui Kira menatap senjata sambil meneguk ludah. "Kenapa? Kamu gak sabar?" tanya Nathan menggoda.
"Apa itu akan masuk?" tanya Kira. Ukuran senjata Nathan lumayan besar dan panjang dan dia tidak yakin itu akan masuk ke dalam tubuhnya.
"Tentu, kamu meragukannya?"
"Gak, aku cuma takut."
Nathan terkekeh kecil. "Jangan takut, kamu akan segera berteman dengannya." Nathan tidak sabar lagi, dia membuka CD Kira dan melebarkan kedua kaki Kira lebar-lebar.
"Aku takut." cicit Kira ketika Nathan bersiap memasukkan senjatanya ke sangkarnya.
"Aku akan pelan-pelan. Gigit aku atau cakar aku, kamu bisa menyalurkan rasa sakitmu padaku, mengerti?" kata-kata Nathan membuat Kira menganggukan kepalanya.
Dengan perlahan Nathan memasukkan senjata pusakanya kedalam inti kewanitaan Kira walau sangat sempit, Nathan berusaha memasukkannya bahkan senjatanya belum sampai setengah masuk ke dalam tubuh Kira membuat selaput darah Kira robek dan mengeluarkan darah dari sangkarnya.
Nathan yang melihat Kira kesakitan tidak tega, dia mendekatkan wajahnya dan mencium kedua kelopak mata Kira yang terpejam menahan rasa sakit lalu mencium bibir Kira lembut untuk mengalihkan rasa sakit Kira di bawah sana, kedua tangannya *******-***** pelan gunung kembar Kira.
Perlahan-lahan, Nathan mulai memasukkan senjatanya lagi. Dia menatap Kira yang sepertinya sudah agak tenang.
"Boleh aku gerakin?" tanya Nathan pada Kira.
Kira menganggukan kepalanya dengan lemah. Setelah Kira mulai terbiasa dengan kehadiran senjatanya ditubuhnya, Nathan mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan.
Kira yang baru merasakan itu langsung mendesah tidak karuan, dia merasa beribu kupu-kupu terbang di dalam perutnya. "Ahh, mmphhhh, Nathan.." des*hnya.
Nathan tersenyum melihat Kira menikmatinya, dia makin menaikkan ritme goyangannya. Dia pun mengerang nikmat ketika otot-otot Kira memijit-mijit senjatanya dari dalam.
Sampai dua jam kemudian, Nathan masih menggoyankan tubuhnya menusuk-nusuk tubuh Kira, dia belum mencapai puncaknya walaupun Kita sudah keluar lima kali.
__ADS_1
"Aku mau pipis lagi, ahh," desah Kira.
"Bersama, sayang." Nathan makin mempercepat gerakannya, dia mencium bibir Kira lagi yang terus mengeluarkan ******* yang sangat merdu di telinga Nathan.
Sampai akhirnya Nathan mengeluarkan hajatnya bersama dengan Kira yang mengeluarkan puncaknya untuk keenam kalinya. Nathan pun ambruk di atas tubuh Kira, nafas keduanya tidak beraturan.
"Berat," lirihnya dengan nafas masih tersengal-sengal dan tenaga yang ia punya dia mencoba mendorong dada Nathan dari tubuhnya.
Nathan tertawa kecil mendengarnya, dia mencium kening Kira sebelum dia menjauh dari tubuh Istrinya. Dia memejamkan matanya ketika mencium kening Kira dengan penuh perasaan lalu setelah itu dia menatap wajah Kira yang memerah seperti kepiting rebus.
"Terimakasih kamu sudah memberikan mahkotamu kepadaku." ucapnya tersenyum pada Kira lalu dia merebahkan tubuhnya di sebelah Kira lalu memeluk tubuh Kira, dada bidangnya dan gunung kembar Kira bersentuhan.
Nathan memberikan kecupan lagi dikening Kira. Dia tahu sekarang Kira sudah terlelap karna kelelahan. Dia pun memejamkan matanya dengan memeluk perut rata Kira erat.
...****************...
VISUAL TOKOH.
Kirana Larasati.
Nathan Alberic Melio.
Mauren Selena alias Plakor.
__ADS_1