
Setelah memberitahu Nathan bahwa Kira saat ini tengah hamil dengan usia kandungan baru memasuki tiga minggu tadi malam, keesokan harinya Nathan langsung membawa Kira kerumah sakit untuk memastikannya sendiri.
Bukannya tidak percaya dengan Kira yang mengatakan dirinya hamil, namun Nathan hanya memastikan saja kalau memang Kira benar-benar tengah mengandung anaknya dan juga sekalian periksa karna dia betul-betul antusias.
Mendengar Kira hamil, dia tidak bisa menutupi rasa bahagianya bahkan sedari tadi jantungnya berdekup lebih kencang dari biasanya.
Seperti saat ini Kira berbaring dibangkar, tengah diperiksa oleh sang dokter. Nathan memegang tangan Kira erat, dia menunggu pemeriksaan dengan tidak sabar. Anehnya Kira yang diperiksa tapi Nathan yang tegang.
Setelah sudah memeriksa dokter berkerudung itu menjauhkan stetoskop dari perut Kira, dokter berkerudung itu tersenyum pada Kira dan Nathan.
"Mari ke meja saya." Dokter itu berjalan ke mejanya. Nathan dan Kira mengikutinya lalu duduk disebrang dokter itu.
"Selamat ya bu, Pak, usia kandungan anda sudah masuk tiga minggu." Kata Dokter bernama Emma itu.
Nathan melotot kearah dokter itu. "Beneran kan dok istri saya hamil? Gak diprank kan?" Tanya Nathan seperti orang yang mengajak ribut.
Kira mencubit lengan Nathan. Dia melotot kearah Nathan. Dokter pun ingin ia ajak ribut. Mashaallah suami Kira itu.
Dokter Emma tersenyum. "Apa bapak masih kurang percaya? Atau mau saya periksa ulang?"
"E-nggak usah dok. Suami saya memang sedikit bodoh. Gak usah ditanggapi." Sahut Kira, dia menggerak-gerakan tangannya.
"Beri tahu saya dok. Apa saja yang yang tidak boleh dilakukan istri saya selama kehamilannya?" Tanya Nathan. Dia betul-betul bahagia sampai seantusias begitu.
"Sebaiknya istri bapak jangan melakukan aktifitas yang berat, tidak boleh terlalu kelelahan karna akan mempengaruhi janin dikandungannya. Lakukan pola sehat dan juga makan-makanan sehat karna akan baik pada janin." Ucap Dokter itu sambil tersenyum pada Kira dan Nathan.
"Kalau begitu doang saya juga tau kali dok." Nathan memutar bola matanya. "Yang lain dong, masa jawaban dokter kandungan semuanya begitu."
"Sering-serimg cek up kedokter ya, bu. Harus rajin memeriksa kandungannya." Sekarang dokter itu tidak menghiraukan Nathan.
"Woi dok, saya sedang berbicara! Harus sopan dong sama pasien. Mau ini rumah sakit saya tutup!" Nathan marah seceritanya.
Kira menepuk jidatnya tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya itu. Seharusnya dia menolak saja saat Nathan mengajaknya periksa jika jadinya begini. Dia malu sumpah.
"Lantas jawaban apa yang bapak inginkan?" Dokter itu mulai jengah dengan Nathan bagaimana tidak baru kali ini ada pasien seperti Nathan.
"Ya apa kek gitu." Nathan melipat kedua tangannya didada.
__ADS_1
Sang dokter menghela nafas panjang. "Sebaiknya ibu dan bapak jangan melakukan hubungan dulu jika mau janinnya baik-baik saja."
Mata Nathan membulat. Apa-apaan dokter ini seenaknya melarang orang melakukan hubungan. Nathan tidak terima.
"Mana bisa begitu, dok? Malah yang saya denger kalo kita tidak sering melakukannya wajahnya akan menjadi setengah dok! Saya tidak mau wajah anak saya jadi setengah!" Bantah Nathan. "Emang dokter mau tanggung jawab kalau anak saya wajahnya cuma setengah? Enggak kan? Jangan asal melarang-larang saja dong!" Protes Nathan.
Apa-apaan Nathan itu? Dari mana dia mendengar itu? Akhh, rasanya Kira ingin memukul kepala Nathan sekarang juga.
Dokter Emma itu memijat pelipisnya. Baru kali ini dia mendapat pasien yang banyak bacot seperti ini.
"Nathan kamu apa-apaan sih! Dengerin dulu kata dokter, jangan asal motong aja!" Omel Kira.
"Lah kok nyalahin aku? Ini nih dokternya masa ngelarang kita berhubungan yang bener aja?"
"Dengerin dulu kata dokter Nathan!" Kira menggertakan gigi-giginya saking kesalnya.
Dan Nathan langsung patuh. Dia terdiam seketika mendengar lanjutan perkataan sang dokter.
"Maaf ya, dok." Sesal Kira kepada dokter Emma lalu melirik tajam Nathan yang tidak bergeming.
"Tidak apa-apa bu, sepertinya Bapak salah mengartikan perkataan saya, maksud saya jangan melakukan hubungan dahulu sebelum umur kandungannya sudah memasuki 12 minggu. Karna itu akan mengganggu proses sang janin." Ujar dokter Emma. Dia ingin buru-buru selesai agar pasiennya itu cepat-cepat pergi. Pusing soalnya.
Nathan menunduk. "Iya-iya."
...****************...
E P I L O G.
Sepulang dari rumah sakit, mereka mampir dahulu ke super market untuk membeli susu ibu hamil. Sebenarnya Kira bisa membelinya sendiri. Nathan pasti sangat kelelahan apalagi tadi malam dia tidur padahal baru pulang dari rumah sakit tapi mau gimana lagi Nathan ngotot.
Nathan terus memperhatikan Kira yang memilih susu ibu hamil. Dia sangat bahagia tidak terhingga, mengetahui istrinya yang ia cintai itu tengah mengandung anaknya. Malah saat mengetahui Kira hamil, Nathan makin mencintai istrinya itu.
Menyadari terus diperhatikan Nathan, Kira menoleh kearah Nathan sambil mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?" Tanyanya heran.
Nathan menggeleng. Dia mendekati Kira dan menemplok dari belakang seperti cicak yang menemplok di dindin, bedanya Nathan neplok dibelakang Kira lebih tepatnya memeluknya dari belakang.
"Nathan, ini tempat umum. Malu ih." Kata Kira, dia merasa semua pasang mata tengah menatap kearah mereka.
__ADS_1
"Masa bodo. Gak peduli." Acuh Nathan.
"Nathan, lepasin, jangan disini ya. Nanti dirumah aja." Bujuk Kira supaya Nathan melepaskan pelukannya itu.
"Bener ya? Peluk sepuasnya."
"Iya-iya, tapi sekarang lepasin dulu." Ucap Kira.
Nathan melepaskan pelukannya lalu memandangi Kira lagi yang menghela nafasnya.
"Susu yang ini bagus gak ya?" Tanya Kira sambil memberi tahu susu ibu hamil yang ia pegang kepada Nathan.
"Kamu tanya sama aku emang aku udah pernah hamil apa?" Jawab Nathan.
Kira menatap Nathan kesal. Bukan itu jawaban yang ia inginkan, astaga. "Tau ah, nanya sama kamu gak pernah bener."
Nathan tertawa kecil. "Lagian siapa suruh kamu nanya sama aku." Nathan memegang susu ibu hamil yang Kira pilih lalu memanggil karyawan disuper market itu.
"Saya ingin bertanya apakah susu ini sangat bagus untuk ibu hamil?" Tanya Nathan kepada Karyawan super market itu.
"Oh iya, Pak. Ini juga direkomendasikan dokter luar negri jadi kualitasnya sangat bagus, Pak." Jawab Pemuda yang berkerja menjadi karyawan itu.
"Oke. Terimakasih."
Karyawan itu mengangguk lalu kembali berkerja.
Kira menatap Nathan sambil tersenyum geli. "Gimana bagus gak?" Tanya Kira padahal dia sudah mendengar jawaban karyawan tadi.
"Bagus kok. Kata orang tadi." Jawab Nathan. "Terus kamu mau beli apa lagi, sayang?"
Kira berpikir. "Gak ada. Udah yang aku butuhin untuk sekarang cuma itu. Lagipun makanan dan buah-buahan dirumah juga pasti udah dibeli pelayan kan?"
"Gak mau morotin aku gitu? Aku suka tau kamu habisin uang aku." Kata Nathan.
"Heleh. Gak minat." Jawab Kira. "Yaudah langsung bayar yuk, aku mau langsung pulang."
"Iya-iya, sayang."
__ADS_1
Setelah membayar susu ibu hamil itu dikasir, Kira dan Nathan memutuskan langsung pulang kerumah.