
"Jadi nona manis beneran hamil?" Tanya Rendy dengan wajah yang amat serius kepada Nathan.
Nathan mengangkat kakinya ke kakinya yang satu lagi, tangannya bersender disenderan sofa. Dia mengangguki pertanyaan Rendy sambil tersenyum lebar.
Rendy benar-benar terkejut juga ada sedikit perasaan iri karna Nathan yang modelannya kayak gini udah punya istri juga sebentar lagi akan punya anak sedangkan dia? Dia bahkan belum menemukan gadis yang cocok untuk ia nikahi. Semua gadis yang sering ia dekati hanya untuk kesenangan sesaat.
"Kok bisa?" Rendy masih ragu saja jika Nathan benar-benar bisa membuat istrinya hamil.
Nathan berdecak sebal karna diragukan sang sekretarisnya itu. "Ya jelaslah bisa, orang setiap hari tidak pernah bolong sehari pun kita bikin anak eh hasilnya tidak sia-sia." Nathan berbangga hati.
Rendy memutar bola matanya. "Gue gak percaya aja kalo denger dari omongan lo. Lo kan tukang boong." Ucap Rendy.
"Cih, perlu lo tau. Orang yang sering gue boongin itu cuma lo." Decih Nathan.
Entah kenapa saat mengatakan perkataan itu kepada Rendy, Nathan jadi teringat kembali kejadian tadi malam. Saat dia berbohong pada Kira tentang jejak berwarna merah didadanya.
Apakah Kira percaya akan kebohongannya itu? Tapi sepertinya Kira percaya, tadi saja sebelum pergi kekantor Kira melayaninya seperti biasa tidak ada perubahan apapun tapi hatinya sangat gelisah.
Melihat Nathan tiba-tiba terdiam seperti kambing congek, Rendy dengan jahilnya menendang kaki Nathan membuat Nathan tersentak. Memang sekretaris biadab Rendy itu baru kali ini menemukan sekretaris seperti Rendy. Sangat estetik bukan ada sekretaris seperti Rendy yang tidak punya akhlak sama sekali.
"Sialan!" Nathan membalas tendangan Rendy yang mungkin lebih kencang dari yanh Rendy lakukan padanya.
Tendangan Nathan malah membuat Rendy tertawa terbahak-bahak. Memang gak punya akhlak Rendy itu. Dasar.
"Hallo Nathan." Sapa seseorang yang dengan lancangnya masuk kedalam ruangan Nathan padahal Nathan dan Rendy sedang diskusi maaf maksudnya sedang berbincang-bincang.
Rendy langsung memberhentikan tawanya dan merubah ekspresinya menjadi muram ketika tahu siapa yang mengganggu moodnya yang tengah bahagia ini.
__ADS_1
Nathan pun sama, dia menatap tidak suka Mauren yang datang keruangannya dengan tidak sopan.
"Mauren, sudah berapa kali aku katakan, jangan masuk sembarangan keruangan ku!" Nathan berkata dengan nada yang masih ia kontrol.
"Maaf, aku kira kamu sendirian."
Permintaan maaf apa itu? Jadi jika Nathan sendirian, dia bisa seenak jidatnya masuk kedalam ruangan Nathan? Wahh, Rendy sekarang mulai gerah padahal AC menyala.
"Gue heran sama lo, Nat. Kenapa mengkerjakan manusia nurjana seperti dia? Gak habis thingking gue." Rendy membuka suaranya dimana membuat Mauren langsung melotot garang padanya.
Nathan memijat pelipisnya. Dia sendiri pun heran kenapa dia bisa menerima Mauren kerja dikantornya. Jelas-jelas kerjaan Mauren hanya mengganggunya saja setiap hari.
"Aduh, maaf ya sekretaris Rendy. Tapi saya memang pantas diperkerjakan kok. Tanya saja sendiri pada Nathan." Mauren meninggikan diri sembari mengibas rambutnya.
"Udahlah Nat. Pecat aja dia. Eneg juga ngeliat dia setiap hari disini." Ucap Rendy pedas.
"Yeeuuu, apalagi saya ngeliat anda. Setiap harinya diare." Balas Mauren tidak mau kalah.
Mauren hanya menatap sinis Rendy. Baginya percuma saja mengadu bacot dengan Rendy, dia tidak akan menang melawan Rendy.
Tatapan Mauren berpindah pada Nathan hanya hanya bersender disofa sambil memijit pelipisnya lalu dia mendekati Nathan. Duduk disofa Nathan duduk tepatnya disebelah Nathan.
"Nathan, gimana malam ini kita dinner? Udah lama kan kita gak dinner." Ajak Mauren kepada Nathan yang tidak minat sama sekali.
Rendy mendengar ajakan Mauren memutar bola matanya jengah. Dasar pelakor kenapa pelakor kayak dia gak kena azab aja sih? Kena sengatan listrik kek pasti seru.
"Aku gak bisa, Mau. Aku sibuk." Tolakan halus Nathan membuat Mauren cemberut.
__ADS_1
"Pasti karna istri kamu lagi ya? Tenang kok, aku gak punya maksud tertentu. Cuma pengen dinner sama kamu aja." Mauren berisikeras mengajak Nathan. Gak punya maksud tertentu? Tentu saja Mauren merencanakan sesuatu.
"Yaiyalah. Orang istrinya alias nona manis lagi hamil masa iya Nathan nerima ajakan anda." Sahut Rendy. Mulutnya gatal kalau tidak menyahut.
Mauren langsung terkejut bukan main. Matanya membulat ketika Rendy mengatakan Kira hamil. Kira mengandung anak Nathan? Oh, dia makin membenci Kira sekarang bahkan berlipat-lipat ganda dari yang kemarin-kemarin.
"Jadi istri buruk kamu itu hamil?" Tanya Mauren kepada Nathan untuk memastikan.
Nathan mengangguk. "Iya istriku hamil." Jawabnya dengan ogah-ogahan.
Kenapa bisa? Ah sial, kenapa harus perempuan kelas rendahan itu yang mengandung anak dari Nathan? Seharusnya kan dia. Aku gak terima.
Rendy menyeringai. Dia bisa membaca dari ekspresi Mauren sekarang. "Kenapa? Gak terima kalo wanita lain yang mengandung anak dari Nathan bukan anda?"
"Ah, enggak kok. Justru aku senang. Selamat ya Nathan atas kehamilan pertama istri kamu." Mauren terpaksa tersenyum dan mengucapkan selamat kepada Nathan walau didalam hatinya dia tidak ikhlas dan tidak rido.
"Makasih." Jawab Nathan singkat.
"Jadi kamu gak mau nerima ajakan aku?" Mauren bertanya lagi yang ke beribu-ribu kali.
"Maaf, Mau. Tapi aku tidak bisa meninggalkan istriku dikeadaan hamil seperti ini." Sekali lagi Nathan menolak.
Mauren menghebus nafas kecewa. "Yaudah kalo gitu aku keluar aja." Mauren keluar dari ruangan Nathan membuat Rendy gembira.
Rasain lo nyelekit (sakit) kan ditolak. Hahaha dasar pelakor yang gagal. Batin Rendy.
Ada yang pengen tau kenapa Rendy begitu benci dan kesel sama Mauren?
__ADS_1
Jawabannya...
Karna Rendy anti sama yang namanya pelakor. Jangan kan tergoda sama pelakor, rasanya kalo ketemu pelakor dijalan pengen Rendy jambak aja rambutnya tapi kan dia lelaki sejati jadi dia tidak pernah melakukan itu atau nanti reputasinya sebagai badboy berkelas tercoreng cuma karna dia menjambak rambut para pelakor.