
Kira baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Dia memakai jubah mandinya. Tadi sebelum mandi dia harus berdebat dahulu dengan Nathan yang tidak memperbolehkannya mandi sendirian dengan alasan bagaimana kalau Kira terpeleset didalam.
Ayolah Kira tidak seceroboh itu sampai akhirnya Nathan membiarkan Kira mandi sendiri tapi dengan ancaman kalau terjadi apa-apa, Nathan tidak akan memperbolehkan Kira beranjak dari kasur sedikit pun.
Kira keluar dari kamar mandi, dia menatap Nathan yang duduk disofa yang juga menatapnya dengan tajam. Mungkin Nathan masih kesal dengan Kira yang tidak sulit diatur.
Kira melengos begitu saja. Dia berjalan ke ruang ganti, Nathan bisa marah kenapa dia tidak bisa bahkan Kira akan lebih marah ke Nathan karna melarangnya melakukan apapun dengan alasan tidak jelas. Heh, memang Nathan doang yang bisa marah begitu? Kira juga bisa keles.
Melihat Kira melengos begitu saja, Nathan menghebus nafasnya gusar. "Kira," panggilnya membuat Kira memberhentikan langkahnya yang selangkah lagi menuju ruang ganti.
"Apa?" Ketus Kira.
Nathan menjetikkan jarinya menyuruh Kira mendekat. Dan Kira menurutinya dengan cepat namun Kira masih memasang wajah cemberut kepada Nathan.
"Kesini, sayang." Nathan menepuk-nepuk pahanya agar Kira duduk disana dan Kira pun menurutinya lagi bahkan Kira tidak komplen sedikit pun.
Kira naik kepangkuan Nathan dengan wajah masam tanpa kompen dan juga tanpa protes.
Nathan membelakangi rambut Kira yang basih basah dengan tangannya lalu menatap intens wajah Kira. "Gak kenapa-kenapa kan tadi dikamar mandi?" Tanya Nathan dengan wajah tegas.
"Gak." Jawab Kira singkat. Dia melipat kedua tangannya didada.
Nathan menghela nafas lega. "Jangan ngeyel kalo dibilangin suami. Nurut aja napa sih. Ini tuh demi kebaikan kamu dan juga anak kita." Ucap Nathan.
"Ya gimana mau nurut kalo larangannya gak masuk akal. Masa iya mandi gak boleh, turun dari ranjang gak boleh. Ngotak dikit napa sih." Bantah Kira.
"Aku gak mau anak kita kenapa-kenapa sayang. Aku pernah baca artikel kalo perempuan yang lagi hamil muda jatuh dikamar mandi dan bayi dikandungannya keguguran. Aku gak mau itu terjadi."
Kira menghela nafasnya. "Kamu itu terlalu proktektif. Aku gak seceroboh itu kok. Lagi pun gak baik kalo gak dibuat gerak. Nanti kamu mau anak kita jadi malas?"
__ADS_1
"Oke aku izinin kamu ngelakuin hal yang kayak biasanya tapi harus janji jangan ceroboh dan juga harus tetap hati-hati."
Kira tersenyum. "Iya, tenang aja. Aku janji kok."
"Aghhhh sial. Kenapa harus nunda sampai tiga bulan sih. Bikin nyiksa!" Nathan menggerang kesal. Sekarang yang dibawah sana sudah aktif dibalik celana boxingnya karna bersentuhan langsung dengan sarang burung Kira yang tidak memakai apapun.
Kira mengangkat kedua alisnya. "Kenapa?" Tanya Kira tidak menyadari penderitaan yang tengah Nathan hadapi. Kira pun sebenarnya merasakan benda menonjol yang menusuk kem*luannya.
"Aku gak kuat. Dua hari gak dapat jatah dan lagi aku harus nunggu sampai tiga bulan. Aku gak kuat sayang.." gerang Nathan tersiksa.
Kira baru menyadari Nathan tersiksa. Agak kasihan juga sih melihat Nathan tersiksa begitu tapi kan dokter bilang tidak boleh berhubungan intim dulu sampai usia kandungannya minimal tiga bulan.
"Tapi kata dokter kita gak boleh dulu, Nathan. Tahan sampai tiga bulan ya?"
Nathan makin tersiksa merasakan kem*luan Kira berdenyut-denyut dibawah sana. Dia merebahkan kepalanya disenderan sofa, menggerang seperti orang kesetanan.
"Maaf ya." Kira merasa menyesal tidak bisa melayani Nathan yang tersiksa seperti itu.
"Pengalihan gimana?" Tanya Kira dengan kening mengkerut.
Bukannya menjawab pertanyaan Kira berusan, Nathan langsung menyerang bibir Kira dengan bruntal. Refleks Kira langsung mere-mas kedua bahu Nathan.
Setelah cukup puas menciumi bibir Kira, Nathan menatap Kira lagi. Matanya menggelap karna nafsu. Tapi Nathan sekuat tenaga menahannya, dia pun tidak ingin terjadi apa-apa pada anaknya didalam perut Kira.
Nafas Kira tidak beraturan karna Nathan barusan menciumnya dengan sangat beruntal bahkan dia tidak bersekempatan bernafas saat ciuman itu berlangsung. Kira pun juga merasa tubuhnya panas, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia sekarang tergoda dengan Nathan.
"Sana pake baju." Suruh Nathan. Nathan tidak ingin menyerang Kira sekarang. Dia sudah berjanji dalam hati tidak akan mengagahi Kira sebelum usia kandungan Kira tiga bulan.
Kira mengangguk. Dia bangun dari pangkuan Nathan namun matanya tidak sengaja melihat sesuatu didada Nathan yang keadaannya sekarang telanjang dada tepatnya disebelah kiri dada. Ada bekas sesuatu yang berwarna merah kebiruan yang sering dia lihat ditubuhnya sendiri setelah bercinta dengan Nathan. Tapi sejauh ini dia tidak pernah melakukan itu lalu bagaimana Nathan mendapatkan itu?
__ADS_1
Nathan menatap Kira yang masih tidak bergeming. Dia mengangkat alisnya dengan heran. "Kenapa?" Tanyanya.
Kira dengan ragu menyentuh bekas kemerahan itu didada sebelah kiri Nathan. "Ini kenapa?" Tanyanya.
Nathan memegang dadanya sendiri lalu dia bangun dari sofa dan berlari kecermin melihat ada sesuatu apa didadanya sampai Kira terkejut begitu.
Matanya membulat ketika melihat bekas kemerahan didadanya. Tunggu, kenapa Nathan tidak menyadarinya? Pasti ini ulah Mauren saat dihotel pagi itu. Astaga, kenapa dia bisa seceroboh ini. Bagaimana dia menjelaskannya kepada Kira sekarang?
"Itu sama yang sering aku liat ditubuh aku pas berhubungan sama kamu. Itu kenapa?" Tanya Kira sekali lagi, dia mendekati Nathan yang sangat syok.
Nathan harus menjawab apa sekarang? Apakah Kira akan percaya jika dia mengatakan sejujurnya? Dia tahu Kira malah akan memburuk sangka padanya. Jadi apa yang harus Nathan jawab sekarang?
"I-itu, a-aku.." gugup Nathan.
Kedua alis Kira terangkat. "Itu apa?"
Haruskah Nathan berbohong? Tapi sepertinya keadaan seperti ini membuatnya harus berbohong pada Kira. "I-itu, aku digigit tawon pas dihotel, iya digigit tawon." Jawab Nathan berbohong.
"Dihotel ada tawon? Kok aku baru tahu."
"Iya, soalnya hotelnya itu dekat hutan jadi aku selalu buka jendela eh malah digigit tawon liar begini. Tapi tenang gak bahaya kok."
Kira menatap Nathan yang gelagapan dan akhirnya dia menghela nafasnya panjang. "Yaudah lah. Gak bahaya ginikan? Mangkanya lebih hati-hati. Kalo gitu aku mau pake baju dulu."
Setelah mengatakan itu Kira berjalan keruang ganti membuat Nathan menghela nafas lega dalam hatinya dia terus meminta maaf karna sudah membohongi Kira.
Kira menutup pintu ruang ganti. Dia merosot terduduk. Air matanya mengalir ke pipinya dengan begitu saja. Dia menyadari bahwa Nathan berbohong, dia bukan orang yang bodoh dan gampang untuk dibohongi. Dia tahu itu bukan gigitan tawon. Dia kecewa dengan Nathan, kenapa bisa-bisanya dia berbohong pada Kira?
Kira menggelamkan kepalanya diantara kedua tangannya. Dia menangis dalam diam didalam ruang ganti.
__ADS_1
Siapa wanita yang ditiduri Nathan saat diluar kota? Kenapa Nathan berani menghiyanatinya begini? Padahal hari ini adalah hari bahagia tapi disatu sisi hari ini juga begitu sangat menyakitkan untuk Kira.