
Di SMA Merdeka, Raka melewati koridor dengan santai, bajunya yang tidak di masukkan ke celana dan dasi yang seharusnya di lingkarkan di kera baju seragamnya malah di gantungkan di bahu kirinya. Raka memang di kenal sebagai preman sekolah yang suka berbuat ulah.
Namun preman-preman begitu, banyak Gadis-gadis yang terpesona dengannya contohnya Gadis-gadis yang berada di koridor sekolah saat melihat Raka mereka langsung teriak histeris.
Raka masuk ke dalam kelasnya dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana abu-abunya. Tidak peduli dengan teriakan Gadis-gadis yang memanggil namanya.
Mata Raka menajam melihat Vano, musuh bebuyutannya duduk di tempatnya. Dalam hati Raka bertanya, itu anak kenapa tidak kapok-kapoknya mencari masalah dengannya padahal dia selalu bonyok (luka-luka maksudnya).
"Ngapain lo di tempat duduk gue?!" sengit Raka.
Vano tersenyum miring, dia bangun dari tempat duduk Raka dan memberikan sekotak bekal yang di berikan Kira tadi padanya.
Dahi Raka mengkerut. "Ngapain lo ngasih bekal ke gue? Lo naksir gue ya?!" tuduh Raka membuat Vano mengidik ngeri.
Vano berdecak pelan. "Dari kakak lo!"
"Kakak gue yang ngasih ini kan? Bukan lo?" mata Raka memicing.
Vano berdecak lagi, dia menaruh bekal itu di atas meja Raka dan berjalan ke tempat duduknya yang berada di depan tempat duduk Raka. Tuduhan yang Raka berikan membuatnya emosi, bagaimana bisa Raka berpikir kalau dia yang memberikan bekal itu? Vano masih normal, gak belok!
"Eh, gue nanya?!" nada bicara Raka meninggi. Dia tidak suka saat Vano sok-sok an mengabaikannya begitu.
Vano menoleh ke Raka dengan sudut bibir terangkat sebelah. "Trus gue peduli?" sinis Vano membuat Raka emosi.
Raka menarik kerah baju seragam Vano membuat seisi kelas menahan nafas karna kedua sejoli itu akan berseteru lagi.
"Sampah!" sinis Vano lagi.
Dan kali ini Raka langsung mendaratkan pukulan kepada Vano membuat sudut bibir Vano robek. Tidak terima di pukul Raka, Vano berdiri dari duduknya dan membalas pukulan Raka.
Seisi kelas di buat ribut oleh kedua sejoli itu. Ini bukan pertama kalinya mereka berkelahi, mereka berkelahi setiap hari namun seisi kelas meneguk ludahnya susah payah karna pertengkaran mereka tidak ada yang berani memisahkan kecuali para guru dan guru BK.
Raka tersenyum sinis, dia menyentuh sudut bibirnya yang berdarah lalu ingin memukul Vano lagi namun teriakan seseorang membuatnya terhenti.
__ADS_1
"Berhenti!" suara cempreng itu menggelegar tepat di tengah-tengah mereka berdua.
Orang-orang yang berada di kelas itu berdecak kagum melihat baru kali ini ada seseorang yang berani melerai perkelahian mereka berdua dan lagi orang itu seorang Gadis mungil.
Vano dan Raka sama-sama menatap Gadis itu dengan alis menyatu.
Gadis mungil itu tersengal-sengal. Dia merentangkan kedua tangannya di depan mereka berdua.
"Eh, bocil (bocah kecil) ngapain lo di situ? Nyari mati?" tegur Raka.
Gadis mungil itu menatap Raka dengan kedua alis terangkat. "Kenapa melerai orang berkelahi itu nyari mati?"
"Ya iyalah, lo berdiri tiba-tiba di situ. Kalo kena bogeman gimana?"
"Lo siapa?" kali ini Vano membuka suara. Dia tidak pernah melihat Gadis itu di sekolah ini sebelumya.
Gadis itu menatap Vano dan tersenyum. "Saya murid baru, salam kenal ya?"
Raka menatap sengit Gadis itu. Saat berbicara dengannya Gadis itu ketus tapi saat berbicara dengan Vano Gadis itu jadi sok baik. Fiks, Gadis itu cari masalah dengannya.
Gadis itu beralih menatap Raka. "Apa?" tanyanya sengit.
"Lo sekarang musuh gue ya!" ucapnya menunjuk-nunjuk wajah Gadis mungil itu lalu beralih menatap Vano tajam. "Minggir, gue mau ke toilet!" serunya.
Gadis itu menyingkir sedikit dan Raka langsung berjalan melewatinya dengan mata menatap tajam Gadis itu. Gadis mungil itu pun sama, memberikan tatapan tajam kepada Raka yang melewatinya.
...****************...
"Diam bisa gak sih!" kesal Kira saat ini mereka berdua sedang menikmati makan malam di meja makan. Kira di buat gila karna Nathan seharian ini dan sekarang Pria itu malah menjahili Kira dengan mencolek-colek paha Kira.
Nathan menggeleng polos sambil menyengir.
Ampun deh, punya suami gini amat?
__ADS_1
Kira menodong garpu di depan wajah Nathan. "Diam, atau saya beneran buat wajah anda rusak!" ancamnya membuat Nathan kicep.
Nathan langsung melahap hidangan makan malamnya, dia takut kalau Kira benar-benar melakukannya sesuai perkataannya. Btw, Nathan tadi habis-habisan di jambak Kira karna kebohongannya yang ia buat tadi siang untung saja ada bi Tati penyelamatnya kalau tidak sudah habis dia dengan Kira.
Nathan menoleh lagi ke Kira yang duduk di kursi sebelah kirinya, dia menatap Kira yang tengah menyantap makanannya. Melihat pipi Kira bergerak karna mengunyah makanan membuat Nathan ingin mengigit pipi itu.
"Lucu." katanya membuat Kira menatapnya.
"Hah?" sudut bibir Kira terangkat sebelah.
"Tadi, kolor Pink kamu lucu, wangi lagi." ucap Nathan tanpa dosa.
Kira mulai emosi lagi saat Nathan membicarakan tentang celanadalam-nya, dia ingin menampar pipi Nathan namun dia mengurungkan niatnya karna melihat Vano menarik kursi di seberangnya dan duduk di sana.
Tatapan Kira langsung teralih ke Vano yang menyendoki nasi dan lauk ke piringnya sendiri tanpa bicara. "Vano, gimana tadi udah di kasih ke Raka?" tanya Kira membuat kedua makhluk itu menatapnya. Vano menatapnya dengan kedua alis terangkat dan Nathan menatapnya dengan tatapan penasaran.
"Emang apa yang kamu titipin sama Vabo?" tanya Nathan penasaran.
Kira tidak menjawab pertanyaan Nathan, dia menunggu jawaban dari Vano apakah Vano sudah memberikan bekal itu kepada Raka atau tidak karna yang ia sudah memasak makanan kesukaan Raka di dalamnya.
Vano menjawab dengan mengangguk pelan lalu menyantap makanan di hadapannya.
"Apa yang di titipin dia sama kamu?" tanya Nathan ke Vano, dingin.
"Bekal." jawab Vano singkat tanpa menatap Nathan.
Kira menatap Nathan dan Vano bergantian. Entah kenapa dia merasa hubungan mereka kurang baik, melihat betapa dinginnya Nathan dengan Adiknya dan Vano yang tidak mau menatap wajah Nathan. Sebenarnya mereka punya masalah apa sih? Kan Kira jadi penasaran.
"Vano, itu sudut bibir kamu kenapa? Berantem lagi sama Raka, ya?" tegur Kira ketika melihat darah kering di sudut bibir Vano.
Vano menyentuh sudut bibirnya sendiri. "Gak," jawabnya singkat.
"Bener-bener ya si Raka itu! Kalo dia ngapa-ngapain kamu, bilang sama aku ya!"
__ADS_1
"Denger!" timbal Nathan, nadanya masih dingin.
Vano mengangguk, dia tersenyum singkat pada Kira. Senyuman yang hanya dia berikan ke Kira bukan kepada Nathan.