
"Gimana keadaan lo? Udah bisa ke kantor lagi gak?" tanya Rendy pada Nathan yang berduduk menyender di ranjang sambil bermain game online. Memang ya, tuan muda nurjana, Sekretarisnya yang tampan datang malah asik-asik bermain game.
"Besok, gue balik ke kantor lagi." jawab Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Si*l gue kalah!" umpat Nathan melempar ponselnya ke sembarang arah. Tidak peduli ponselnya rusak atau retak karna dia bisa membelinya lagi dengan mudah, Nathan kan super rich man.
Rendy menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Nathan.
Nathan menatap Rendy. "Lo sekarang jarang ya kesini." ucap Nathan.
"Ngapain? Sekarang lo kan udah ada Kira kenapa masih menginginkan gue ada di sini padahal gue punya rumah sendiri?" sahut Rendy.
"Emang tugas lo cuma di kantor doang? Lo sekretaris gue cuy! Di novel-novel sekretaris itu selalu ngingilin atasannya kemana aja dia pergi, lah lo apaan." cibir Nathan.
"Itu sih sekretaris di novel-novel. Kan gue beda, gue lebih berkualitas. Lagian ngapain gue ngintilin lo, emang gue penguntit lo?" balas Rendy, tidak ada rasa takut pun kalau berhadapan dengan Nathan. Toh, dia teman oroknya sampai akhirnya menjadi sekretaris sekaligus kaki-tangan Nathan.
"Ada ya, Sekretaris ngelawan sama atasannya." sindir Nathan malah membuat Rendy tertawa.
"Hahaha, ya ada lah, gue contohnya."
Nathan menatap datar Rendy. Kalau saja dia bukan sahabat Nathan, sudah Nathan tendang Rendy itu sampai ke gunung fuji yang ada di negara sakura.
"Btw, gimana tadi malam?" tanya Rendy sambil menaik-turunkan alisnya.
Sekretaris lain mah kalau bertemu atasannya akan membicarakan masalah kantor atau sebagainya, lah ini apa? Nathan curiga kalau Rendy tidak bisa mengerjakan tugasnya menjadi sekretaris karna setiap dia bertemu, Rendy malah membicarakan hal yang tidak berguna. Contohnya sekarang.
__ADS_1
"Gimana apanya?" Nathan pura-pura lupa.
Rendy berdecak. "Nona muda pakai lingerie itu gak?" tanya Rendy.
Nathan menggaruk-garuk kepalanya. "Di pakai. Cuma ya gitu, gue gak bisa nyentuh dia." jawab Nathan dengan wajah melas membuat Rendy menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak.
"Ckk, ck ck, kasian banget Presdir b*go ini, kenapa gak bisa?"
"Dia udah janji ngebolehin gue sentuh dia kalo dia udah siap, gue harus nunggu dulu. Tapi tadi malam ada kemajuan sih, dia mau tidur satu ranjang sama gue, peluk-pelukan lagi. Ahayyy." kata Nathan tersenyum-senyum membayangkan Kira tertidur bersamanya tadi malam sambil peluk-pelukan.
"Kasihan nona manis." gumam Rendy tapi masih bisa di dengar Nathan.
Nathan melotot mendengar itu. "Gue yang seharusnya di kasihanin, bodoh! Gue gak bisa nyentuh istri gue sendiri."
Nathan terdiam. Benar juga ucapan Rendy. Tak lama kemudian dia membuka suara lagi merasa ada kejanggalan di ucapan Rendy tadi. "Tapi kan lo bukan Istri gue."
"Kan perumpamaan. Haduh capek juga ngomong sama orang yang otaknya cuma setengah." gerutu Rendy.
Nathan menceberutkan bibirnya. "Punya Sekretaris juga kayak binatang!" cibir Nathan.
Rendy tertawa. Entahlah, NathanĀ mengatainya begitu malah membuatnya ingin tertawa.
"Ekhem," tiba-tiba Kira datang ke kamar dan berdeham membuat kedua orang itu langsung menoleh ke arahnya.
Rendy tersenyum-senyum melihat Kira. "Hallo nona manis." sapanya tersenyum lebar pada Kira yang justru mendapat jitakan di kepalanya dari Nathan.
__ADS_1
Kira menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Sekretaris dan tuan muda itu, dia menghampiri Nathan dan begitu Kira berdiri dekat dengannya, dengan sengaja Nathan meletakan kepalanya di perut Kira.
Kira sebenarnya agak risih karna sekarang ada Rendy di kamarnya. dia pun hanya tersenyum-senyum saja pada Rendy yang mengangkat sudut bibirnya ke atas kepada Nathan.
"Hadeh, pamer nih ceritanya?" cibir Rendy menatap malas Nathan.
"Hehe, pamer dikit ke orang jomblo gak papa kali." Nathan menampilkan giginya pada Rendy yang memutar bola matanya jengah dengan tingkah tuan muda itu.
"Pimir dikit Ki iring jimli gik pipi kiri." ucap Rendy mengikuti cara bicara Nathan. Kira yang melihatnya tertawa terbahak-bahak apalagi saat Nathan ingin memukul Rendy tapi Rendy sudah terlebih dahulu menghindar.
Benar-benar lucu.
"Btw, nona manis, gak batin punya suami kayak dia?" Tanya Rendy menunjuk Nathan yang melototinya.
"Gak lah. Istri gue itu sabar. Enak aja batin, batin!" Sahut Nathan membuat Rendy mengangkat sudut bibirnya keatas.
"Kata siapa. Batin kok. Malah rasanya, ya pengen banget nikah lagi sama suami yang pengertian, gak banyak tingkah terus gak bikin orang gedek mulu." Jawab Kira melirik Nathan yang menatapnya tidak percaya.
"Bagus itu nona, kalo butuh suami baru, saya siap kok jadi calonnya. Saya baik, pengertian, ganteng, soleh, juga rajin menabung." Ucap Rendy.
Kira tersenyum manis kepada Rendy. Dia ingin memanas-manasi Nathan. "Oh, saya tersanjung sekretaris Rendy." Kira dengan sengaja menepuk bahu Rendy.
Dan Rendy memegangi bahunya. Entah kenapa tepukan Kira dibahunya terasa sakit. Apa Kira punya tenaga gajah? Yang hanya menepuk saja bisa terasa sakit begini?
Nathan memasang wajah marah. Bagaimana tidak, dengan beraninya Kira bilang ingin punya suami baru. Di depan sekretaris sialan itu lagi. Nathan marah pokoknya sekarang. Titik gak bisa di ganggu gugat!
__ADS_1