Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
70. Episode Spesial


__ADS_3

"Kiraa, yuhhuuuu.." teriak Nathan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dimana Kira sekarang tengah mandi di dalam.


Kira yang berada di dalam berdecak kesal. Dia baru ingin merendamkan tubuhnya di dalam bak mandi tapi ketukan dan teriakan Nathan mengganggunya.


"Kira aku gak tahan nih!" teriak Nathan, mengetuk-ngetuk pintu Kira lagi agar Kira membukakan pintunya.


"Gak tahan apa?!" sahut Kira di dalam sana, nada terdengar sedang kesal. Ya, Nathan tahu sih dia menggemaskan sampai membuat orang kesal dengannya saking gemasnya.


"Gak tahan pengen ngunjungin si tuyul" jawab Nathan.


"Gak akan aku bukain!" teriak Kira.


Nathan mendesah kecewa. Harus bagaimana lagi agar Kira membukakan pintunya. Dia sungguh sudah tidak tahan, ingin melihat tubuh polos Kira dan tentunya memasukinya juga.


Nathan berpikir dengan mengetuk-ngetuk kepalanya, mencari cara agar Kira bisa membukakan pintu kamar mandi dan membuatkannya masuk ke dalam. Hingga akhirnya dia mempunyai ide yang cemerlang. Nathan menggesek-gesekkan tangannya sambil tertawa jahat.


"Kira, buka dulu dong sebentar, aku mau pipis, kebelet. Aku udah mau berangkat ke kantor ini." rengek Nathan berharap Kira membukakan pintunya dan akhirnya senyumannya mengembang ketika wajah Kira menyembul dari pintu kamar mandi dengan kedua alis terangkat.


Dengan cepat Nathan masuk ke dalamnya membuat Kira melotot horor ke arahnya.


Nathan belum memakai pakaian kerjanya, dia sengaja karna ingin ia merindukan sarang burungnya yang sejak tadi malam dia ingin masuki. Dia merindukannya.


Kira langsung menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya namun tangannya tidak bisa menutupi semuanya, dia hanya menutupi dadanya dan bagian bawahnya. "Kamu apaan sih! Asal masuk aja, aku kan belum ngizinin!" omel Kira.


Nathan tersenyum nakal. Dia mendekati Kira yang menempel di tembok kamar mandi. "Aku butuh kehangatan, adik kecilku kedinginan ingin memasuki rumahnya." Kira menelan slivanya susah payah.


Nathan menarik tangan Kira hingga dadanya dan dada Kira terbentur. Wajah Kira memerah seketika, dia melihat wajah Nathan yang begitu tampan, dia merasakan kedua gunungnya menempel pada dada bidang Nathan. Jujur, dia merasa hangat sampai sekujur tubuhnya.


"Kamu mau kan?" tanya Nathan.


Kira mengangguk dan kemudian dia merasakan bibirnya di lu--mat habis-habisan oleh Nathan. Ciuman panas yang juga membuat tubuh keduanya panas. Mereka melakukan hubungan di dalam kamar mandi untuk pertama kalinya. Suara des--ahan dan erangan mengisi keheningan kamar mandi.


"Hmphh, ahh.." de---sah Kira tidak karuan saat Nathan mengujaminya dengan liar sampai tidak ingat kalau Kira sedang mengandung sekarang.


Posisinya kini terduduk diatas disebelah wastafel. Tangannya melingkar dileher Nathan yang tidak henti-hentinya menggerakan pinggangnya.


"Agh," erang Nathan menatap wajah Kira sambil terus menggoyangkan pinggangnya.


"Kamuu.. terlalu liarrr, ahhhh.." de---sah Kira semakin menjadi ketika dia melepaskan orgas--me yang sudah keempat kalinya.


Nathan tersenyum dan itu membuatnya semakin terlihat hot dimata Kira. Dadanya yang mengkilap dengan air dan keringat, rambutnya yang basah membuatnya terlihat benar-benar sangat seksi.

__ADS_1


Nathan memajukan tubuhnya, dia menciumi bibir Kira yang terus mengeluarkan des---ahan indah. Tangannya pun tidak tinggal diam, dia tidak membiarkan dada Kira nganggur.


...****************...


Senyuman Nathan cerah secerah mentari. Saat Kira mengeringkan rambutnya dengan handuk dengan dia yang duduk di tepi ranjang. Sehabis melakukan hubungan panas di kamar mandi, Kira melayaninya dengan sangat baik seperti sekarang ini.


Dia bahkan tidak perlu susah-susah payah mengeringkan rambutnya karna Kira bersedia melakukannya. Ingin rasanya dia kembali menerkam Kira yang hanya memakai handuk di tubuhnya, tubuh Kira sangat seksi di matanya membuatnya tidak bosan mengagahinya.


Menyadari terus di tatap Nathan sambil tersenyum, Kira mengerutkan keningnya. "Kenapa? Ada yang salah?" tanyanya. Nathan menggeleng. Dia memeluk tubuh Kira yang berdiri di hadapannya, menaruh wajahnya di perut rata Kira.


Kira yang melihat itu terkekeh geli, dia gemas melihat tingkah suaminya yang seperti kucing kurang belaian itu. "Manja." cibir Kira gemas.


"Udah lepasin, aku mau pakai baju dulu." pinta Kira agar Nathan melepaskan pelukannya namun Nathan menggelengkan kepalanya.


"Tiba-tiba aku mau susu." katanya, tetap memeluk Kira, mencium perut rata Kira yang di tutupi handuk.


"Susu? Yaudah nanti aku buatin, tapi lepasin dulu dong!"


"Bukan susu itu."


"Lalu?"


"Susumu." Tangannya dengan nakal memeras dada Kira.


"Aku masih mau menyusu." rengek Nathan seperti anak kecil yang meminta susu pada Mamanya.


"Nathan, nanti aja ya susunya, kamu harus ke kantor, kasihan Sekretaris Rendy yang terus menghedel pekerjaan kamu." ucap Kira, selembut mungkin.


"Peduli setan!"


"Nathan, jangan buat aku marah, loh!"


"Emangnya aku takut. Gak keles. Aku gak takut sama sekali sama kamu."


"Beneran?" nada Kira seperti peringatan.


Nathan langsung menjauh dari Kira. Dia menceberutkan bibirnya membuat Kira tersenyum senang.


"Gitu dong, kan kalo gini aku gemes." Kira mengunyel-unyel pipi Nathan membuat pipi Nathan memanas karna perlakuan Istrinya itu.


"Emang aku gemesin."

__ADS_1


"Iya, gemesin sampai mau remes jantungnya saking gemasnya." Kira tertawa sendiri dengan perkataannya. Tidak dengan Nathan yang justru memanyunkan bibirnya bak seekor anak ayam. Tapi tenang, masih menggemaskan kok di mata Kira walau sedikit keinginan meninju wajah itu.


...****************...


"Vani!" teriak Raka ketika Vano sedang memakai helmnya, bersiap berangkat ke sekolah menggunakan motor besarnya.


Vano mengangkat sebelah alisnya saat Raka berdiri di depan motornya sambil menyengir lebar. "Apa?" ketus Vano.


"Nebeng dong gue, kita kan teman." Raka menaik-turunkan alisnya.


Hampir saja Vano tertawa mendengar kata teman dari mulut Raka, emangnya selama ini mereka pantas di sebut teman cuma berkelahi saja kerjaannya.


"Teman? Lo bercanda?"


Raka menyadari kesalahan kata-kata, dia menggaruk-garuk kepalanya. "Teman sekelas, beon. Walaupun kita musuh tapi harus berbaik hati dong!" kata Raka.


"Emang kemana motor lo?" tanya Vano. Dia tidak melihat motor Raka yang biasanya terparkir dimana-mana di Mension ini.


Raka tertawa sambil berkacak pinggang di depan motor Vano. Sebab itu dia meminta tumpangan pada Vano, begitu saja Vano tidak mengerti. "Gue di kejar-kejar gengstar kemarin malam, jadi itu motor gue tinggalin di jalanan. Hebat kan gue?"


Vano memutar bola matanya. "Hebat apanya, idiot iya, kenapa motor di tinggalin!"


"Ya, karna gue kaget di kejar gengstar, mana jumlahnya lumayan banyak lagi terus bawa senjata lagi. Lah gue sendirian, gila aja ngelawan mereka sendirian." cerita Raka sampai memoyong-moyongkan mulutnya.


Sejujurnya Vano ingin tertawa tapi dia gengsi. Jadi seberusaha mungkin dia masih mempertahankan wajah datarnya kepada Raka. "Kenapa gak lo lawan aja? Bukannya lo selalu pamer kemampuan bela diri lo sama gue?"


Raka berdecak. "Lo mau gue mati muda ngeladenin mereka. Mau lo gue mati trus gak ada lagi musuh seganteng dan seimut gue?"


Vano mau muntah. "Seterah, yang pasti gue gak mau ngasih tumpangan buat lo." Vano menyalahkan mesin motornya. "Minggir lo!" usir Vano agar menjauh dari motornya.


"Ya elah, nebeng doang pelit banget lo." melas Raka, dia masih berdiri di depan motor Vano.


"Sadar, lo baik gak? Gue minjem pulpen aja gak lo kasih." Vano memutar bola matanya.


Raka cengengesan. "Kan lo musuh gue masa iya gue pinjemin pulpen kesayangan ogut."


"Ya udah sama, kan lo musuh gue, buat apa gue kasih tumpangan buat lo?" balas Vano.


"Plis elah, nanti gue traktir makan gorengan kantin deh." bujuk Raka.


Vano menghebus nafasnya. "Yaudah iya, gue kasih tumpangan."

__ADS_1


Senyum Raka mengembang. Buru-buru dia naik ke jok belakang motor Vano. Saat dirinya sudah naik ke atas motor Vano, Raka menepuk bahu Vano bak seperti tukang ojek dan dia adalah penumpang. "Jalan bang." ucap Raka membuat Vano kesal.


"Gue bukan tukang ojek!" Raka cengengesan. Kemudian Vano mengeluarkan motornya dari Mension Nathan menuju sekolahnya.


__ADS_2