
"Non, gimana keadaan den Nathan, udah baikan?" tanya Bi Tati kepada Kira yang sedang mengambil beberapa cemilan ringan di lemari es, dia berencana akan menonton film di kamar berhubung Nathan minta terus di temani.
Kira menoleh ke Bi Tati, di tangannya sudah banyak cemilan yang akan dia bawa ke kamarnya. "Udah kok Bu, udah minum obat juga tadi tapi ya gitu Bu, lagi sakit gitu manjanya kebangetan." jawab Kira.
Bi Tati tertawa kecil mendengarnya. "Aduh, den Nathan itu gak berubah ya. Dulu aja kalo sakit itu, den Nathan nyuruh bibi tetap di sebelahnya, langkah sedikit aja dia pasti langsung merengek seperti anak kecil."
"Emangnya Nathan dari kecil gak dekat sama orangtuanya ya, bu?" tanya Kira.
"Gak dekat, mereka sibuk dengan perkejaan mereka masing-masing sampai tidak peduli sama den Nathan yang kekurangan kasih sayang." Bi Tati tersenyum sedih saat mengingat masa kecil Nathan yang begitu menyakitkan.
Kira yang mendengarnya ikut sedih. Dia merasakan apa yang di rasakan Nathan, bagaimana rasa sakit Nathan.
Melihat raut wajah Kira begitu, Bi Tati menepuk bahu Kira pelan membuat Kira terkejut. "Jangan bengong atuh, non. Emangnya den Nathan belum cerita apa-apa sana non?"
Kira menggelengkan kepalanya. "Bukannya gak cerita sih bu, akunya aja yang kurang peka sama dia."
Bi Tati tersenyum lagi. "Den Nathan itu orangnya rapuh, non. Dia cepat setresnya, apalagi saat tidak ada siapapun yang menemaninya, mentalnya langsung kambuh." kata Bi Tati.
Kira hanya terdiam.
"Non tau, den Nathan itu punya penyakit Thanatophobia alias takut akan berpisah dengan orang-orang yang dia sayangi."
Kira terkejut. Tentu saja. Pantas saja tadi Nathan takut sekali ditinggalnya. Kira sangat terkejut mendengarnya, terlitas dikepalanya saat Nathan bermimpi seperti orang ketakutan pada malam itu.
Bibi Tati mengela nafas berat. Dia merasa sedih saat mengingat Nathan sering depresi ketika sebelum mengenal Kira. Walaupun dia bukan ibu kandungnya, tapi bi Tati juga bisa merasakan apa yang dirasakan Nathan.
"Mending sekarang non kembali ke kamar, den Nathan pasti udah nungguin non lama. Dia gak suka ditinggal sendirian." lanjut Bi Tati.
"Ah, iya bu, kalo gitu aku kembali ke kamar dulu ya." pamit Kira, dia melenggang pergi setelah mendapati anggukan dari Bi Tati. Walau Bi Tati hanya pelayan tapi wanita paruh baya itu sangat di sayangi Nathan dan di anggap seperti ibu kandung oleh Nathan.
__ADS_1
Nathan mengidap penyakit thanatophobia? Kenapa bisa? apa penyebabnya?
Kira menggeleng. Dia tidak boleh menanyakan itu langsung pada Nathan. Dia tidak mau depresinya kambuh dan untuk sekarang, dia bertekat untuk menyebuhkan depresi Nathan. Iya, dia harus melakukannya.
Kira kembali ke kamarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Saat Kira membuka pintu, dia melihat Nathan tengah beristirahat di ranjang. Dengan langkah pelan Kira mendekati ranjang dan duduk di sebelah Nathan berbaring.
Di tatapnya wajah suaminya yang tertidur pulas, wajahnya begitu damai membuat hati Kira tenang. Walau kalau dia terbangun sifat menyebalkannya keluar, tapi melihat wajah Nathan tertidur seperti ini membuat hatinya menghangat.
Tangan Kira terangkat ke surai rambut Nathan, dia mengelus nya lembut sambil tersenyum hangat. "Maaf, aku belum bisa nerima kamu sebagai suamiku, maaf aku belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan.
Dan maaf, jika aku meragukan mu, mencap kamu sebagai Pria yang paling menyebalkan yang ku kenal, dan yang aku benci hanya karna aku menikah dengan mu karna hutang Ayah ku padamu."
Nathan yang cuma pura-pura tidur, bibirnya berkedut menahan senyumnya mendengar perkataan Kira yang menyentuh itu.
"Tapi aku masih ragu, memberikan hak yang seharusnya kamu dapatkan dariku. Pasti udah banyak Wanita yang kamu tiduri berhubung kamu itu Playboy yang suka ganti-ganti wanita. Aku takut kamu bekasan mereka." ucap Kira lagi.
Ucapan Kira barusan membuat Nathan menggerutu dalam hati. Dari mana Kira tahu dia suka memainkan wanita-wanita? Dan dari mana Kira tahu dia sering meniduri wanita lain? Itu Hoax, Kira, Hoax!
Dahi Kira mengkerut dia menatap Nathan yang masih memejamkan matanya. Dia memicingkan matanya, ternyata dia pura-pura tidur toh! Pantesan dari tadi mesem-mesem gak jelas, masa iya dia ngingau di siang hari?
Dengan kesal dan malu karna Nathan berpura-pura tidur dan mendengar semua perkataannya tadi, Kira mencubit lengan Nathan membuat Nathan membuka matanya dan mengaduh kesakitan.
"Kamu kok kejam banget sih, suami lagi enak-enak tidur malah di cubit." gerutu Nathan.
"Lagian kamu pura-pura tidur! Kamu sengaja ya Mau mempermainkan aku?"
"Gak, aku tadi sedang mimpi indah, ingat aku lagi sakit loh!" Nathan mengingatkan Kira kalau dirinya sedang sakit walau hanya sebagai alibi karna dia takut kemarahan Kira.
Kira menghela nafas lega. Untung saja Nathan tidak mendengar ucapannya tadi. "Yaudah tidur lagi aja." suruh Kira.
__ADS_1
"Mana bisa? Udah bangun begini mana bisa tidur lagi, dan itu semua gara-gara kamu!"
"Lah kok nyalahin aku? Aku kan tadi gak sengaja mangkanya aku cubit kamu." Kira membela diri.
"Lah terus aku harus nyalahin siapa?"
"Yah, gak tau, bukan salah aku!" bela Kira seperti emak-emak yang tidak ingin di salahkan.
Nathan akhirnya mengalah, dia takut Kira marah padanya dan bisa saja Kira menghajarnya habis-habisan. Walau dia tengil dan banyak gaya, Nathan kan juga takut istri, hehehe.
"Yaudah iya, aku yang salah." Memang Pria selalu salah di mata Wanita. Nathan mengubah posisi tidurnya membelakangi Kira yang masih duduk di sebelahnya. Drama apa lagi ini?
Melihat Nathan membelakanginya, Kira langsung mengangkat kedua alisnya. "Kamu marah?" tanyanya.
"Gak," jawab Nathan seperti wanita yang sedang datang bulan.
"Aku mau nanya sama kamu loh!" kata Kira, memainkan jari-jarinya.
"Nanya apa?" ketus Nathan, dia tidak menoleh sama sekali pada Kira.
"Mangkanya madep sini dulu dong." pintanya, mengguncang tubuh Nathan agar menghadap ke arahnya lagi.
Dengan wajah datar, Nathan menghadap ke Kira lagi. "Mau tanya apa?" tanyanya ketus.
"Kamu sering tidur bareng wanita lain, ya?" tanya Kira hati-hati. Kalau saja Nathan tidak sedang sakit dia akan menanyakan hal tersebut dengan nada mengajak berantem.
Nathan terdiam dengan memasang wajah datarnya lalu tak lama kemudian membuka suara lagi. "Kenapa kamu nanya begitu?"
"Ya, pengen tau aja. Kalo gak mau jawab juga gak papa."
__ADS_1
Kira bangun dari ranjang dan berjalan ke televisi yang besar menempel di dinding kamar Nathan lalu menyalahkan televisi itu kemudian dia duduk di sofa dimana bisa melihat jelas televisi itu.
Nathan menatap Kira yang menonton televisi di sofa, dia tersenyum geli melihat Kira seperti itu. Entah mengapa dia sangat gemas melihatnya.