Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
58. Berapa Ronde?


__ADS_3

Anak lelaki berumur tujuh tahun itu tengah duduk dikursi taman. Sendirian. Tidak ada yang menemaninya padahal hari sudah mulai gelap.


Dia meremas celana pendeknya sambil menangis kencang disana. Disisi pipinya terdapat luka pukulan dan dikeningnya terdapat darah yang sudah mengering.


Anak lelaki tidak boleh menangis. Itu yang selalu dikatakan orang-orang ketika dia bersedih. Apakah tidak boleh seorang anak lelaki menangis kala dia kesakitan, kesepian, dan sendirian? Kenapa semua orang tidak mengerti?


"Den Nathan," panggil seorang wanita berumur tiga puluh tahun itu yang entah darikapan sudah berada disana. Menyaksikan anak itu . Dia duduk disebelah anak itu yang masih menangis kencang.


Hati wanita itu bagai teriris melihat seorang anak yang tidak berdosa ini diperlakukan seperti ini oleh orangtuanya sendiri.


"Ibu, huhu, kenapa Papa gak mau ketemu Nathan? Padahal kan aku cuma mau kasih tau nilai ulanganku hari ini, padahal nilaiku bagus bu kata bu guru, kenapa dia malah pukulin aku begini, huhu, sakit bu.." Anak bernama Nathan itu memegangi dadanya sendiri.


Pantas kah seorang anak yang tidak berdosa ini menderita seperti ini? Dari bayi, bahkan sejak dia lahir didunia ini, anak itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Siapa yang tidak teriris melihat anak malang itu?


Tidak tahan lagi menahan kesedihannya, wanita itu memeluk anak itu erat. Sangat erat. Wanita itu juga menangis menemani tangisan anak itu.


"Aden, jangan sedih ada ibu disini, ya?" Wanita itu mencoba menenangi anak itu.


"Ibu, dada aku sakit bu, huhu." Kata anak itu memegangi dadanya terus.


Wanita itu tidak bisa berkata-kata lagi dia hanya bisa memeluk anak itu erat-erat.


Setelah tangis anak itu mereda, wanita itu melepaskan pelukannya, menatap anak itu yang wajahnya dipenuhi luka. Ibu jarinya menghapus airmata dipipi tembam anak itu lalu wanita itu menampilkan senyuman hangat kepada anak itu.


"Aden, sekarang pulang ya? Pasti tuan besar khawatir sama aden. Sekalian kita obatin luka aden biar sembuh." Ucap Wanita itu dengan lembut sambil membelai pipi cubby anak itu.


"Oh iya, pasti Kakek tua itu khawatir sama aku. Kalo gitu ayo deh, bu, kita pulang. Aku mau nunjukin nilai aku sama Kakek. Pasti Kakek senang dan bakal kasih aku hadiah." Senyum anak itu mengembang.


Senyuman anak itu justru membuat Wanita itu mengeluarkan airmata. Seadainya, anak ini anak kandungnya. Dia tidak akan membiarkan anak itu seperti ini.


"Oh iya, aku belum kasih tau ibu sesuatu."


"Apa?" Tanya wanita itu.


Anak itu tersenyum lebar. "Aku sayang banget sama ibu. Ibu mau kan jadi ibu aku?" Kata anak itu.


Bi Tati meletakkan bingkai foto Nathan yang berumur tujuh tahun itu ke laci. Dia ingat betul difoto itu, Nathan tengah tersenyum padanya karna mendapatkan nilai bagus disekolah. Tak disadar setetes airmata jatuh dari pipinya.


Nathan sudah banyak menderita. Anak itu sudah cukup lama merasa kesepian, sendirian. Dan semoga kehadiran Kira dihidupnya merubah semuanya. Dia berharap suatu saat nanti Nathan akan menemukan kebahagiannya yang selalu dia impikan saat masih kecil. Dia berdoa akan hal itu.


...****************...

__ADS_1


"Kira sayang... where are you? Yuhuuu..." teriak Nathan. Dia berjalan kearah dapur. Dia sudah tahu dimana keberadaan istrinya sekarang.


Kedua sudut bibir Nathan terangkat begitu saja ketika dia melihat Kira ada disana tengah tertawa bersama para pelayan yang sedang menyiapkan makan malam. Tawa Kira lebar sampai kedua matanya berbentuk bukat sabit. Sangat cantik membuat Nathan terpesona untuk kesejuta kalinya pada istrinya itu.


Tawa Kira berubah menjadi senyuman hangat ketika matanya menangkap Nathan berdiri disana, memperhatikannya. Para pelayan pun langsung menyibukkan dirinya ketika menyadari keberadaan sang tuan muda di dapur.


Nathan menghampiri Kira yang berdiri di pantri,. Baginya Kira benar-benar menggoda menggunakan celemek ditubuhnya. Nathan langsung memeluk Kira dari belakang, mengecup pipi sang istri dengan manja. Tidak peduli adanya para pelayan disana kalau kata Nathan anggap saja mahluk tak kasat mata.


"Tumben pulang awal." Kata Kira. Dia merasa tidak enak pada para pelayan yang juga temannya dengan sikap Nathan.  It's ok, kalau mereka sedang berdua saja tapi ini? Walaupun para pelayan tidak mempedulikannya tetap saja dia risih.


Nathan terkekeh. Dia tahu Kira risih dengan tingkahnya tapi bukannya berhenti atau menjauh, Nathan makin merapatkan dadanya dengan punggung Kira. Bibirnya pun terus mengecup pipi dan leher jenjang Kira berulang kali.


"Nathan ih.. aku malu!" Bisik Kira namun tidak memberhentikan aksi Nathan. Kira jadi geram sendiri dengan tingkah Nathan dengan sengaja Kira me-remas kejantan-an Nathan sampai membuat Nathan menjerit dan menjauh.


Wajah Nathan semerah tomat. Dia memegangi kejantan-annya yang terasa sangat nyeri dan Kira yang melihat Nathan kesakitan tersenyum. Ada rasa kasihan juga sih melihat wajah Nathan semerah itu pasti re-masannya terlalu kuat.


Sedangkan para pelayan yang mendengar jeritan Nathan menoleh beberapa saat lalu kembali fokus pada masakan mereka karna tidak mau dipecat sang majikan.


"Ouh, maaf ya sayang.." sesal Kira sedikit cekikikan.


Wajah Nathan yang merah makin memerah kala Kira memanggilnya dengan sebutan 'sayang'. Jantung Nathan seperti akan meledak karna saking jedag-jedugnya.


"Semua pergi dari sini!" Perintah Nathan tiba-tiba.


"Saya bilang pergi dari sini!" Titah Nathan sekali lagi dan para pelayan pun patuh, semuanya berjalan pergi dari dapur setelah menundukkan badannya kepada Nathan.


"Kamu apa-apaan sih? Kalo mereka gak masak trus gimana pada makan?" Omel Kira, dia berkacak pinggang kepada Nathan.


"Buat apa? Malam ini kita pergi akan berkencan, sayang." Ujar Nathan, santai sambil mendekati Kira lagi, mengangkat tubuh Kira keatas pantri. Sekarang tinggi mereka sejajar.


"Berkencan? Kenapa kamu baru ngomong sekarang? Dadakan banget."


Nathan makin mendekatkan tubuhnya. Dia berdiri ditengah-tengah antara kedua paha Kira. Tangannya mengelus-elus paha mulus Kira lembut. "Dadakan gimana? Emang kamu punya urusan lain?" Tanya Nathan.


"Ya, enggak ada. Cuma aku kan belum nyari pakaiannya, kalo diingat-ingat juga kayaknya aku gak punya dress yang bagus buat kencan."


"Tenang aja, sayang. Semua udah diurus Rendy."


"Sekretaris Rendy?" Nathan menggangguk. "Kamu udah baikan sama dia?" Tanya Kira, dia tersenyum lebar.


Nathan memutar bola matanya. "Yah, gitulah, tapi baikan atau gak tetep aja sifat nyebelinnya gak hilang." Jawab Nathan.

__ADS_1


Kira tertawa. "Gak sadar diri, kamu juga nyebelinnya gak hilang-hilang malah nyebelin pake banget."


"Enak aja! Kamunya aja yang terlalu jelek!" Tidak terima.


"Kenapa sih apapun permasalahannya, kamu selalu aja ngatain aku jelek? Segitu jeleknya emang aku, hah?!" mata Kira melotot galak.


Nathan tertawa. Entah kenapa membuat Kira marah membuatnya senang. Nathan memberhentikan tawanya, dia mengecup bibir Kira lalu menatap Kira lagi. "Gak kok, sayang. Kamu cantik kalau dilihat dari lubang sedotan."


Wajah Kira cemberut dan itu malah membuat Nathan tertawa lagi. "Sekali aja puji aku, gak bisa apa?" Kesal Kira.


"Gak bisa." Jawab Nathan yang langsung kena pukul dari Kira.


Nathan tertawa pelan. "Sakit sayang." Ucapnya lembut.


"Biarin!"


"Kiraa,"


"Apa?!" Sahut Kira galak. Sedetik kemudian bibir itu langsung disambar oleh Nathan.


Tangan Nathan melingkar dipinggang Kira membuat tubuh keduanya makin menempel. Bibir keduanya terus berkutik, saling me-*****, meresap dengan lembut menjadikan dunia milik berdua. Tangan Kira pun refleks melingkar dileher Nathan.


Namun ciuman itu tidak berselang lama karna tiba-tiba Vano berdeham cukup keras. Nathan dan Kira kompak menoleh kearah Vano berdiri dengan kedua tangan masing-masing masih melingkar.


Ada dua ekspresi yang berbeda. Nathan tampak santai-santai saja sedangkan Kira tersenyun kikuk kepada Vano.


Vano masih memasang wajah datar. Dia berjalan ke kulkas melewati kedua pasangan itu. Dia mengambil air dingin dari lemari es lalu meneguknya hingga habis setelah itu dia pergi dari sana.


"Vano, kamu butuh sesuatu lagi?" Tanya Kira berusaha menghilangka rasa canggung.


"Gak ada. Tenang aja, setelah ini, aku gak kesini lagi. Lanjutin aja yang tadi." Kata Vano lalu berlalu pergi.


Nathan tersenyum mendengar kata Adiknya. "Awas jangan kemari lagi!" Ancam Nathan.


"Iya!" Teriak Vano.


"Mau lanjutin dikamar?" Goda Nathan ketika Vano sudah benar-benar pergi.


Kira tersenyum, jari jentiknya menyentuh rahang Nathan dengan gerakan nakal. "Mau gak ya?" Ledek Kira.


"Kiraaa," erang Nathan.

__ADS_1


Kira tertawa kecil. "Mau berapa?" Tanya Kira yang hanya bisa dimengerti oleh Nathan sendiri.


"4 ronde." Jawab Nathan sambil menggendong tubuh Kira. Dia sudah tidak tahan melihat Kira. Adik kecilnya merindukan kehangatan tubuh Kira.


__ADS_2