Terpaksa Menikah Karna Hutang

Terpaksa Menikah Karna Hutang
28. Plakor Merajalela


__ADS_3

Di kantor pusat MelCorp


"Baik, sampai di sini meeting kita kali ini." ucap Nathan menutup Meeting hari ini. Setelah Nathan mengatakan itu, semua karyawan bubaran setelah menundukkan badannya kepada Nathan.


Nathan berdiri dari kursinya, merapikan jas hitamnya lalu berjalan keluar dari ruang meeting dengan memasukkan kedua tangannya di saku celananya.


"Permisi, tuan muda." kata seseorang memberhentikan langkah Nathan yang berjalan menuju lift.


Nathan menoleh ke Orang itu, dia mengangkat sebelah alisnya menatap Mauren yang berpakaian seksi itu. Mauren tersenyum-senyum kepada Nathan.


"Ada apa?" tanya Nathan, dingin. Mood-nya hari ini buruk jadi jangan berbuat kesalahan yang membuatnya marah jika sedang dalam keadaan bad mood atau Orang itu akan dibuat tersiksa olehnya.


Mauren berdecak manja. "Kok nada bicara kamu jadi begitu sih sama aku?" Mauren memainkan jari-jarinya.


Nathan mendengus. "Iya ada apa?" kali ini Nathan mengubah nada bicaranya seperti biasa dia berbicara dengan sang mantan kekasihnya itu.


"Gak apa-apa sih, cuma mau ketemu kamu aja, abisnya kangen banget." Mauren mendekati Nathan dan melingkarkan tangannya di lengan Nathan.


Nathan berdecak. Dasar Wanita tidak tahu malu! Setelah melukai hatinya, dia berani bilang rindu padanya?


Nathan melepaskan tangan Mauren yang melingkar di tangannya. "Aku udah punya Istri, Mauren." Nathan seberusaha mungkin bersabar.


Mauren menceberutkan bibirnya. "Emangnya kenapa kalo kamu udah punya Istri?" kata Mauren, mendekati Nathan kembali. "Kita bisa kok berhubungan tanpa diketahui istrimu." goda Mauren dengan tersenyum penuh arti.


"Cih!" decih Nathan. "Apa kau tidak punya rasa bersalah setelah kamu menyakitiku, Mauren Selena? Aku harap kamu tidak lupa ingatan bagaimana kamu meninggalkan ku saat itu." Nada bicara Nathan sedingin kutub es.


Mauren menatap Nathan senduh lalu kemudian menunduk. "Maaf, sudah meninggalkan mu. Aku menyesal Nathan, sungguh. tapi bisakah kita memulai dari awal mulai sekarang?" pintanya.

__ADS_1


Nathan tertawa sinis. Apa? Wanita itu meminta memulai hubungan dari awal? Yang benar saja.


"Apa? Apa aku tidak salah mendengarnya, Mauren? Kamu ingin kita kembali seperti dulu?" Mauren mengangguk. Wajah Nathan berubah menjadi datar. "Tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi." dinginnya membuat Mauren meneteskan air mata. Air mata buaya maksudnya.


"Kenapa? Apa karna istri buruk mu itu kamu menolak berhubungan dengan ku lagi?" emosi Mauren menjadi naik ketika mengatakannya.


Sebelah alis Nathan terangkat ketika mendengar kata 'istri burukmu' dari mulut Mauren. Tentu dia tidak suka dengan itu. "Kenapa dengan Istri buruk ku, hm?"


"Apa yang buat kamu mau menikahinya dan menolak ku? Katakan Nathan apa alasannya! Apa dia memakai pelet kepadamu sampai kamu berubah secepat ini seperti ini, Nathan?"


Nathan tersenyum miring. Dia menyelipkan rambut Mauren ke belakang telinga lalu Nathan mendekatkan bibirnya ke telinga Mauren dan membisikkan sesuatu. "Jawabannya, karna aku mencintainya." bisik Nathan kemudian menjauhkan wajahnya.


"Kamu bohong, Nathan! Aku adalah cinta pertamamu dan akan menjadi cinta terakhir mu bukan begitu yang kamu katakan dulu kepadaku? Kamu masih mencintaiku Nathan, aku percaya itu. Tidak ada seorang pun yang boleh menggantikan ku dihatimu!" teriak Mauren dengan air mata mengalir deras.


"Setiap perasaan orang berubah, Mauren." Kata Nathan dengan malas.


"Berubah? Perasaan kamu tidak mungkin berubah Nathan. Kamu masih mencintaiku kan? Kamu masih mencintai, Nathan.."


"Kamu bisa menceraikannya!"


"Aku tidak bisa!"


"KAMU BISA! AKU AKAN MEREBUT KAMU KEMBALI!" ujar Mauren dengan percaya dirinya.


"Apa yang kamu inginkan, Mauren? Kamu mau berjuang agar aku menceraikannya dan menikahimu?" Nathan mengangkat satu alisnya.


Mauren mengangguk. "Iya, aku akan merebut kembali cinta yang seharusnya menjadi milikku."

__ADS_1


Nathan tersenyum miring. "Berjuanglah!" ucap Nathan lalu kembali melangkah kakinya ke dalam lift yang sempat tertunda karna mantan kekasihnya itu.


Mauren menghapus air matanya, dia tersenyum penuh arti. Dia akan merebut Nathan kembali bagaimana pun caranya, itu janjinya.


"Hadeh, pelakor benar-benar merajalela ya, nek." kata Rendy di belakang Mauren.


Rendy sudah tahu kalau Mauren kembali ke Indonesia dan mencoba ingin merebut Nathan dari Kira yang sudah sah menjadi istrinya. Dia bahkan menyaksikan semuanya di sana.


Mauren membalik badan dan langsung mendapati Rendy menatapnya dengan tatapan tajam dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana.


"Siapa yang pelakor?" tanya Mauren seperti tidak terima di bilang pelakor oleh Rendy.


Rendy memutar bola matanya. "Orang yang ingin merebut suami orang lah." jawabnya ketus.


Mauren menatap tajam Rendy. "Aku bukan pelakor." bantah Mauren.


"Lah terus? Kalau wanita ingin merebut seseorang yang jelas-jelas sudah beristri itu apa?" Rendy menaikkan alisnya.


"Aku bukan pelakor, itu fatal! Aku cuma ingin merebut kembali cinta yang seharusnya menjadi milikku apa itu salah?"


Lagi-lagi Rendy memutar bola matanya. "Hadeh, kebanyakan makan micin jadi gini nih." gumam Rendy namun masih bisa di dengar Mauren. "Saya jelaskan sekali lagi ya, Nyonya Mauren yang terhormat. Itu sama aja pelakor, mau dibilang apa juga kalau orang yang ingin merebut suami orang lain itu namanya Pe-la-kor, sampai sini mengerti?" ujar Rendy.


"Aku bukan pelakor!" bantah Mauren.


"Cantik-cantik otaknya setengah ya? Terus anda mau di panggil apa?"


"Yang penting saya bukan pelakor! Saya tegaskan lagi, saya bukan pelakor!"

__ADS_1


"Cepek deh ngomong sama orang setres. Udahlah, mau ngopi aja dari pada ngeladenin orang setres." Rendy mendorong tubuh sintal Mauren dengan bahunya sampai Mauren hampir terjatuh.


Dengan wajah meledek, Rendy melewekan lidahnya di depan Mauren yang mengerang marah di tempatnya. Dia menekan tombol angka tujuh di dalam lift sambil melambai-lambaikan tangannya kepada Mauren.


__ADS_2