TerSesat

TerSesat
OBROLAN CERITA RANGKAS


__ADS_3

RANGKAS Kemudian lanjut menceritakan apa yang ia alami sebelumnya itu kepada ibu nya. Keadaan Rangkas sudah mulai membaik setelah kening Rangkas ditaruh beberapa lembar sirih yang dicampur dengan air hangat dan juga garam.


"Setelah Rangkas mengikuti kata hati untuk pergi mencari jalan keluar dari kabut tersebut, tiba-tiba ada angin kencang berhembus menerpa tubuh Rangkas. Setelah itu nampaklah sosok tinggi besar dan tak jelas wujud nya."


"Sosok tinggi besar?" Gumam Suminah mengernyitkan dahi nya.


"Iya Mak, besar dan tinggi sekali wujud nya. Seluruh tubuhnya hitam dan hanya terlihat mata nya saja yang bulat merah menyala. Sangat mengerikan sekali Mak, Rangkas pun tak berdaya untuk menggerakkan tubuh hingga pada akhirnya Rangkas pun tahu-tahu sudah pingsan dan dibangunkan oleh Emak." Suminah menatap wajah anak nya dan bertanya,


"Lalu apa yang dilakukan sosok tinggi besar itu kepada mu Nak?"


"Mana Rangkas tahu Mak, tiba-tiba saja Rangkas pingsan setelah menatap bola mata sosok itu."


"Hmm seperti nya itu adalah sosok penguasa dari gunung persik ini." Gumam Suminah dan membuat Rangkas menatap ibu nya dengan heran seraya bertanya.


"Maksud Emak? sosok yang Rangkas temui itu adalah sosok penguasa gunung persik itu?" Suminah pun angkat bahu dan berkata,


"Entahlah Nak, Seingat ibu dahulu seringkali ada kejadian aneh dengan muncul nya kabut misterius itu dimalam hari. Persis waktu itu kala ibu masih anak-anak, kejadian seperti ini seringkali menghantui malam kami dikampung Tegalsari."


"Jika Memang dahulu kabut aneh itu sering muncul, lantas apa maksud ada nya kabut aneh itu dikampung kita Mak?" Pertanyaan Rangkas itu membuat Suminah gelisah.


Rangkas pun mengulang pertanyaan nya lagi dan ibu nya menjawab.


"Penguasa gunung persik itu minta Tumbal!" Ujar Suminah berkata berbisik kepada anak nya dan seketika itu juga Rangkas terdiam dengan tatapan aneh kepada ibu nya.


"Maksud Emak, kabut aneh itu berarti tanda bahwa penguasa gunung persik itu minta Tumbal begitu?"


"Benar Nak dan tumbal nya itu bukan hewan seperti kambing atau ayam, melainkan manusia!" Rangkas tersentak kaget dan ibu nya berkata lagi.


"Dulu banyak sekali orang-orang yang menghilang ketika kabut datang menerpa kampung Tegalsari dan beberapa ada yang ditemukan sudah tak bernyawa dengan leher terputus." Rangkas merenungkan ucapan ibu nya itu dan ia pun mempunyai pikiran lain.


"Apakah meninggal nya anak pak kades itu termasuk dalam kasus kabut misterius itu Mak?"


"Ya memang itulah penyebab meninggalnya anak pak kades. Sebab ketika larut malam, anak itu malah keluar rumah dan pas sekali waktu itu ada kabut aneh tersebut. Setelah itu....huek..,hoeeekk!" Ucapan Suminah terhenti karena tiba-tiba ia mual-mual tapi tak sampai muntah-muntah.


Rangkas panik melihat ibu nya yang duduk ditepi ranjang nya itu mual-mual seperti itu dan Rangkas segera pergi ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Setiba Rangkas masuk kembali ke dalam kamar nya, ia melihat ibu nya terbaring diranjang miliknya.

__ADS_1


"Emak?!" Ucap Rangkas panik karena tiba-tiba saja ia melihat ibu nya tergeletak diranjang.


"Mak Bangun Mak! Mak kenapa tiba-tiba pingsan begini?" Ucap Rangkas dalam kepanikan nya dan ia mencoba terus membangunkan ibu nya. Tak lama ibu nya mulai siuman lagi dan Rangkas mulai mengurangi kepanikan nya.


"Ini Mak minum dulu." Ucap Rangkas seraya menyodorkan segelas air minum kepada ibu nya.


Setelah Suminah meminum air tersebut, Ia berkata.


"Kamu sudah baikan Nak? Bukan nya tadi kamu sedang menggigil kedinginan?"


"Rangkas sudah baikan semenjak dikompres pakai daun sirih oleh Emak."


"Oh begitu ya? Emak agak lupa soal nya Nak. Yasudah kalau begitu kamu istirahat ya, Emak mau beres-beres rumah dulu." Lalu Suminah pergi keluar kamar Rangkas dan Rangkas segera berkata.


"Tunggu Mak!"


"Ada apa lagi Nak???" Tanya Suminah kepada anak nya.


"Cerita Emak yang tadi belum selesai, Rangkas masih penasaran Mak."


Rangkas juga ikut bingung dan balik bertanya.


"Soal kabut aneh yang merenggut nyawa anak pak kades itu Mak."


"Itukan cerita sudah lama Nak, lagipula anak pak kades meninggal bukan karena perbuatan Bapak mu."


"Iya Mak Rangkas juga tahu akan soal itu, tadi kan Emak bilang bahwa penyebab meninggalnya anak pak kades itu karena kabut aneh itu."


"Sejak kapan Emak bicara begitu? Emak tak merasa bicara begitu Nak." Ucap Suminah seperti orang linglung.


Rangkas memperhatikan bola mata ibu nya dan menatap dengan pandangan aneh.


"Tadi Emak ingat tidak kita sedang mengobrol apa?"


"Hmm kalau tak salah tadi kita mengobrol soal buah Persik itu saja. Oh iya ibu mau bertanya kepada mu soal buah Persik ini. Darimana kau mendapatkan buah ini Nak???" Rangkas semakin bingung dan ia pun membatin.

__ADS_1


'Sepertinya ada yang aneh dari Emak. Ketika dia mengobrol tadi pun pandangan nya kosong dan nada bicara nya datar-datar saja.'


"Nak!? Kamu sedang melamuni apa?" Tanya Suminah dan mengagetkan Rangkas.


Rangkas hanya tersenyum tawar saja dan menjawab pertanyaan ibu nya yang sebelumnya nya itu.


"Oh buah Persik itu Rangkas temukan ketika sedang berburu kancil dihutan. Awal nya Rangkas tak menyadari bahwa itu adalah buah langka yang saat itu sedang di makan oleh Kancil. Setelah dilihat-lihat itu adalah buah Persik, Rangkas membawa nya ke rumah untuk membicarakan hal ini kepada Emak. Tapi Rangkas lupa, hehe."


"Hmm begitu rupa nya. Seperti nya ada pohon Persik yang masih hidup dan sedang berbuah dihutan sana Nak. Apakah kamu tak menemukan pohon buah ini?" Rangkas menggelengkan kepalanya seraya berkata.


"Sudah Rangkas cari-cari disekitaran tempat itu, tapi tak satupun Rangkas menemukan pohon yang sedang berbuah."


"Seperti nya pohon ini ada dipuncak tertinggi digunung Persik." Ujar Suminah berceloteh sendiri.


"Maksud Emak?" Suminah terdiam dengan tatapan kosong seraya menjawab pertanyaan anak nya.


"Apa kamu ingat ketika kamu ikut berburu dengan bapak mu dan pulang dengan membawa kambing besar dan juga buah persik?"


"Iya Rangkas masih ingat Mak. Tapi Bapak waktu itu tak menceritakan darimana bapak menemukan buah itu."


"Dengarkan baik-baik Nak." Ujar Suminah mulai serius


"Baik Mak." Dan Rangkas pun mulai ikut serius juga.


Kemudian Suminah melanjutkan ucapan nya lagi.


"Bapak mu pernah bilang kepada Emak waktu dia menemukan buah ini. Katanya di puncak tertinggi ada satu pohon besar dan lebar. Hanya itu saja pohon yang tumbuh dan tak ada pohon lain lagi yang ada didekat nya. Pohon itu ternyata pohon Persik yang sudah sangat langka sekali. Ada kemungkinan buah ini jatuh sampai jauh turun ke lereng gunung entah itu karena terbawa angin atau burung atau hewan lain nya. Mungkin kancil yang kau buru itu yang menemukan nya dan memakan nya ditempat kau memburu nya." Rangkas mendengarkan ucapan ibu nya itu dengan serius dan mencoba memahami nya.


"Bisa jadi memang begitu Mak. Rangkas menjadi penasaran untuk menemukan pohon langka itu."


"Jangan memaksakan diri untuk hal yang tidak penting Nak. Lebih baik kamu lebih berhati-hati ketika berada dihutan sana. Ibu hanya takut akan keselamatan mu Nak. Ibu tak mau kau mengalami hal serupa seperti ayah mu Nak. Ingat, kita belum bisa memberikan bukti bahwa Ayahmu tak bersalah atas tuduhan meninggal nya anak nya pak kades itu."


"Baiklah Mak, Rangkas akan berusaha mencari tahu soal hal itu nanti dihutan sana." Ucap Rangkas menurut dan kini mereka menyelesaikan OBROLAN CERITA RANGKAS Itu. Setelah itu Suminah pergi ke dapur untuk membereskan daging kancil yang masih berada dikamar mandi dan setelah itu istirahat tidur malam. Tapi Rangkas masih belum bisa tidur karena pikiran nya masih terngiang-ngiang akan sosok tinggi besar yang ia lihat sebelumnya itu.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2