TerSesat

TerSesat
PUTRI AYU CANDRANINGSIH


__ADS_3

RANGKAS Kini segera bertanya soal perempuan bernama PUTRI AYU CANDRANINGSIH Saat itu sedang berada dimana. Ranti hanya menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Aku tak bisa memberitahukan soal itu kepada mu Rangkas. Dia bilang nanti kau akan mengetahui nya suatu saat nanti."


"Hmm baiklah kalau begitu. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Pergilah ke hutan belantara dikaki gunung persik sana. Cari sebuah pohon yang memiliki tanda bintang segi enam yang ditengah nya ada lubang nya."


"Hah...!? Apa kau tak salah bicara...???"


"Kenapa kau..? Apa kau menyalahkan ucapan ku?"


"Bukan begitu maksud ku, aku hanya kaget saja ketika kau sebutkan sebuah pohon yang memiliki tanda seperti itu. Sebab aku pernah melihat sebuah pohon dengan tanda aneh seperti itu ketika aku sedang berburu burung."


"Baguslah jika kau sudah tahu dimana tempat pohon itu berada, semoga kau baik-baik saja ketika sedang berada di sana Rangkas." Rangkas membalas nya dengan anggukan kepala seraya berkata.


"Terima kasih atas doa nya, aku melakukan hal ini karena tanggung jawab ku untuk mengungkap kasus kematian mu yang melibatkan bapak ku sebagai tersangka nya."


"Semoga kasus ini yang telah mencoreng nama baik Bapak mu bisa terhapus setelah kau mengungkapkan kematian diriku kepada keluarga ku dan para warga semuanya Rangkas."


"Terimakasih Ranti, aku akan berusaha semampuku." Setelah Rangkas berkata begitu, tiba-tiba suasana ditempat itu langsung terang benderang dan Rangkas langsung terperanjat kaget karena telah dibangunkan oleh ibu nya.


"Bangun Nak sudah siang! Mau sampai kapan kamu tidur terus hah?" Rangkas seperti orang bingung dan pikirannya gelap berkunang-kunang.


"Jam berapa ini Mak?" Ucap Rangkas dengan suara sumbang nya.


"Sudah jam dua siang. Sekarang kamu makan siang sana, ibu sudah memasak daging kancil itu untuk mu."


"Baik Mak." Ujar Rangkas agak lemas untuk bangun dan lalu ia pergi ke ruangan meja makan dan ibu nya pergi ke dapur.

__ADS_1


Rangkas makan dengan sangat lahap nya dan ia lupa soal mimpinya bertemu dengan Ranti.


'Sudah lama sekali aku tak makan daging kancil, rasa-rasanya lebih enak daging kancil daripada daging kambing.' Ujar Rangkas dalam hati nya. Kemudian ibu nya memberikan segelas air minum kepada Rangkas sambil berkata,


"Ada yang ingin Emak bicarakan kepada mu Nak."


"Apa itu Mak???" Tanya Rangkas.


"Semalam ibu bermimpi bertemu dengan ayahmu." Rangkas menatap wajah ibu nya yang agak murung itu.


"Sudah lama sekali sejak meninggalnya Bapak mu, Emak sama sekali tak pernah memimpikan nya. Padahal Emak sangat merindukan Bapak mu semenjak Bapak mu tiada. Tetapi semalam ibu memimpikan bapak mu, Rangkas."


"Rangkas juga sama Mak, kemarin waktu Rangkas berburu. Rangkas istirahat dan akhirnya tertidur. Rangkas memimpikan bapak dan mengobrol juga dengan nya." Suminah Lalu bertanya soal apa yang diobrolan Rangkas dengan mendiang Ayah nya itu.


"Bapak hanya meminta maaf karena tak bisa bersama kita lagi dan Bapak pun menanyakan soal Emak. Rangkas bilang saja bahwa Emak baik-baik saja dirumah dan seringkali Emak merindukan bapak." Seketika Suminah menitikan air mata nya karena perasaan rindu terhadap suami nya yang telah lama meninggal dunia itu.


Rangkas hanya tertunduk saja melihat ibu nya menitikan air mata, kemudian Suminah berkata.


"Apakah arwah Ayah dan Ranti pernah bertemu dialam sana Mak...???"


"Seperti nya memang mereka pernah bertemu Nak. Bapak mu membicarakan bahwa Ranti meninggal karena ada yang membunuh nya dan memenggal kepala nya dengan tongkat berujung sabit tajam."


"Persis sekali!" Ucap Rangkas Tegas.


"Persis bagaimana maksudmu Rangkas...???" Rangkas menatap wajah ibu nya yang keheranan itu.


Rangkas masih berpikir soal mimpi nya itu yang bertemu dengan Ranti. Suminah menatap heran kepada Rangkas yang terdiam seperti orang melamun itu.


"Kau kenapa diam begitu Nak???"

__ADS_1


"Eh.., Tak apa-apa Mak." Ucap Rangkas cengengesan dan kemudian Ibunya Rangkas berkata.


"Yasudah kamu lanjut makan nya Nak, ibu mau pergi ke kebun dulu untuk memanen singkong. Setelah makan kamu kesana ya bantu Emak."


"Baik Mak, Nanti setelah makan Rangkas ke sana." Lalu Rangkas pun lanjut makan nya dan ibu nya pergi ke kebun singkong yang berada tak jauh dari belakang rumah nya.


Rangkas segera menyelesaikan makanan nya dan setelah selesai makan ia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil buah persik yang ia simpan didalam toples.


"Ada baik nya aku tanam saja biji buah ini dikebun, syukur-syukur bisa tumbuh subur dan berbuah." Ujar Rangkas sembari tersenyum dan ia segera pergi ke kebun untuk memanen singkong bersama ibu nya.


Setelah sampai kebun, Rangkas segera mendekati ibu nya yang sedang membersihkan batang singkong untuk ditanam kembali.


"Mak, kira-kira kalau biji buah persik ini ditanam bakal tumbuh tidak...???" Suminah menatap Rangkas yang memegang biji buah persik yang sebelumnya sudah ia buang daging buah nya.


"Hmm coba saja kau tanam Nak, siapa tahu bisa tumbuh subur dan berbuah."


"Baiklah Mak." Lalu Rangkas segera membuat lubang agak dalam untuk menanam biji buah persik itu dan setelah itu ia membantu ibu nya mencabut Singkong yang masih tertanam.


Cahaya Mega lembayung dilangit sore itu mulai terlihat membentang di ufuk barat langit gunung Persik. Rangkas memandang jauh ke atas puncak gunung sana dan ia baru saja selesai memanen singkong bersama ibu nya. Tanpa Rangkas ketahui, ternyata selama Rangkas memanen singkong ada sosok yang memperhatikan nya. Sosok itu berada di atas pohon rindang dikebun tempat Rangkas berada. Sosok itu berpakaian gaun putri raja dan paras nya sangat cantik jelita. Siapa lagi kalau bukan sosok wanita misterius yang bernama Putri Ayu Candraningsih itu. Perempuan itu sedang duduk didahan pohon yang doyong ke samping dan enak untuk dipakai duduk.


Sosok perempuan itu sudah jelas bukan berasal dari golongan manusia, melainkan dari golongan mahkluk gaib entah itu Jin atau Siluman. Karena mustahil bagi seorang wanita biasa untuk bisa memanjat pohon besar dan rindang itu, terkecuali wanita itu berasal dari golongan jin dan siluman. Wanita itu memperhatikan Rangkas seperti wanita yang sedang mengagumi lawan jenis nya. Rangkas menatap ke atas puncak gunung Persik dan ia membatin dalam hati nya.


'Sudah aku putuskan! Besok aku akan pergi ke atas puncak gunung sana untuk mengungkap kasus kematian Ranti dan membersihkan nama baik Bapak dihadapan pak kepada desa dan warga kampung Tegalsari.' Sosok Perempuan yang memperhatikan Rangkas itu bisa membaca isi hati Rangkas dan ia lalu tersenyum seraya mengirimkan telepati kepada Rangkas lewat getaran ucapan gaib nya.


'Kau tak perlu risau anak baik, aku akan membantu mu' Rangkas terperanjat kaget dan menjawab nya.


"Siapa kau...???" Suminah yang tak jauh dari anak nya itu mendengar ucapan Rangkas dan Rangkas langsung ditanya.


"Kau kenapa Rangkas...??? Siapa yang mengajakmu berbicara...???" Rangkas merasa malu ditanya seperti itu oleh ibu nya, lalu Rangkas menjawab nya dengan alasan.

__ADS_1


"Tak kenapa-kenapa Bu, tadi Rangkas melamun dan tak sadar bicara seperti itu. hehehe." Suminah hanya geleng-geleng kepala nya saja kepada anak nya yang cengengesan dan salah tingkah itu.


Putri Ayu Candraningsih hanya bisa mengikik geli melihat Rangkas malu sendiri didepan ibu nya dan tak lama perempuan itu menghilang setelah Rangkas dan ibu nya pulang ke rumah mereka kembali.


__ADS_2