
GUNDALINI Memutar tubuh nya ke belakang dan sentakan tenaga dalam dari tangan nya mengeluarkan sinar perak memanjang seperti lidi. Lima pasukan itu mampu menangkis nya memakai ilmu tenaga dalam sinar juga dan ledakan kecil pun terjadi.
Tar...Tar...Tar...!! Lalu kelima pasukan itu menyerbu Gundalini dengan gerakan silat bercampur tebasan pedang yang membabi buta.
Samiri semakin jengkel kepada Gundalini karena ia terlalu lelet mengalahkan lima orang lawan nya itu.
"Hei Gundalini!! Tolong dulu aku!!" Gundalini mendengar Samiri memaki dirinya seperti itu dan Gundalini mau tak mau ia harus menghindari pertarungan itu untuk mengobati Samiri. Gundalini membantingkan sesuatu ke tanah dan asap mengepul menutupi tubuh Gundalini.
Setelah asap itu menghilang, tahu-tahu Gundalini sudah menghilang dengan Samiri dari hadapan mereka berlima itu. Gandaria masih gencar menghajar ketua pasukan khusus yang bersenjatakan pedang panjang itu. Tubuh mereka sama besar, tapi lebih berotot tubuh ketua pasukan khusus itu. Gandaria sudah menyimpan cambuk nya di ikat pinggang nya karena senjata lawan sudah hancur oleh nya.
Gandaria ingin menguji ketangkasan ilmu Kanuragan lawan nya itu dan berkata,
"Sekarang pedang mu sudah ku hancurkan, aku pun tak tega jika melawan orang yang tak memakai senjata. Aku simpan senjataku ini dan tunjukan kesaktian ilmu Kanuragan mu itu dihadapan ku!!" Lalu Gandaria segera memasang kuda-kuda dengan kaki merenggang dan telinga lawan nya memerah karena emosi nya sudah terbakar.
__ADS_1
Tanpa aba-aba lagi lawan nya itu menerjang Gandaria dengan tendangan beruntun didada dan Gandaria tersentak mundur beberapa langkah.
"Lumayan juga tendangan kaki monyet mu itu!" Ujar Gandaria mengejek serangan lawan nya dan lawan nya itu semakin panas hati nya dan menyerang Gandaria dengan serangan silat tak terkendali. Gandaria hanya menghindari SERANGAN LIAR Itu dan mencoba mencari celah untuk melawan balik.
Rangkas sudah turun ditanah dan ia berada di balik sebuah pohon besar. Ia melihat pemandangan mengerikan didepan nya, karena banyak mayat-mayat prajurit yang mati dimakan tubuh nya oleh pasukan mayat nya si Gandaria. Dijalanan perkampungan itu masih banyak prajurit Kerajaan Angkor Pura yang dikerahkan untuk melawan pasukan mayat yang berjumlah masih banyak itu.
Pertarungan antar prajurit itu masih berlanjut dan satu persatu tewas dalam keadaan tubuh hancur atau terpisah dari raga nya. Pangeran Dirgantara dan juga Putri Ayu tak menemukan Rangkas ada dimana. Mereka kehilangan jejak Rangkas dan mereka berdua mengira bahwa Rangkas sudah pergi mencari Gandaria di alun-alun Kerajaan Angkor Pura itu untuk mengejar si Gundalini. Mau tak mau mereka berdua harus pergi kesana dengan melewati kampung-kampung yang sedang dipakai bertarung oleh dua prajurit itu.
Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara sudah siap melawan para prajurit-prajurit itu dan benar saja, ketika mereka baru memasuki perkampungan yang jalanan nya sudah banyak bergelimpangan mayat dan banjir darah itu mereka segera diserang oleh para mayat-mayat yang sudah mati itu. mereka bisa bangun lagi dan menyerang dengan liar. Tak hanya pasukan mayat nya si Gandaria saja, para mayat prajurit kerajaan Angkor Pura pun yang sudah menjadi mayat pun bisa bangkit lagi serta menyerang mereka berdua.
Rangkas pun melihat Gundalini disebarang hutan sana dengan membopong teman nya yang terluka itu. Amarah Rangkas semakin memuncak ketika melihat pakaian Gundalini yang serba hitam mirip ninja itu. Lalu Rangkas langsung memasuki jalanan kampung itu dan dimana disana masih banyak para prajurit dan pasukan mayat sedang bertarung sengit. Rangkas sudah memegang anak panah dan busur tanah nya itu untuk berjaga-jaga dari musuh yang menyerang nya.
Benar saja, ketika Rangkas diam-diam melewati para pasukan yang sedang bertarung itu. Dirinya diserang oleh beberapa kelompok mayat hidup dan Rangkas segera membidik anak panah nya ke arah kepala para mayat itu. Bidikan anak panah Rangkas selalu tepat pada sasaran nya karena ia sudah terlatih membidik sasaran ketika masih berburu. Para mayat itu bagai hewan yang biasa Rangkas buru, tak ada rasa belas kasihan sama sekali. Rangkas memanah satu persatu para mayat hidup yang ingin menyerang nya itu hingga hancur kepala nya.
__ADS_1
Setiap kepala mayat itu terkena anak panah nya Rangkas, kepala itu langsung hancur karena Rangkas telah menyalurkan tenaga dalam nya ke dalam anak panah nya itu hingga membuat anak panah itu berbobot. Para pasukan Prajurit kerajaan Angkor Pura pun masih ada yang hidup. Mereka menyerang Rangkas ketika Rangkas berjalan ke arah Dimana Gundalini berada. Prajurit itu berjumlah lima belas orang dan mereka baru saja mengalahkan para pasukan mayat nya si Gandaria itu.
"Hei kau!! Jangan lari!!" Bentak salah satu pasukan itu. Rangkas berhenti dan menatap ke arah lima belas pasukan bersenjata tombak dan pedang itu.
Tahu-tahu mereka langsung menyerang Rangkas dan mengepung nya. Rangkas memutar tubuh nya dan menatap satu persatu wajah-wajah bengis dari pasukan itu.
"Bunuh dia!!" Sentak salah satu dari mereka dan mereka langsung menyerang Rangkas dengan tombak dan pedang tajam itu. Rangkas tak bisa menghadang serangan itu, maka jalan satu-satunya adalah dengan meloncat ke atas dan berjungkir balik melewati kepungan itu.
Rangkas segera membidik anak panah nya itu ke arah kepala salah satu prajurit itu dan crabbb!! Press!! Kepala prajurit itu hancur seketika. Mata mereka mendelik melihat kepala teman nya hancur dan heran melihat Rangkas sudah tak ada di dalam kepungan itu. Rangkas lalu berkata,
"Hei aku di sini!!" Lalu Mereka segera memutar tubuh mereka ke arah Rangkas berada. Disana ia berdiri membidikan anak panah nya itu ke arah mereka. Tanpa ragu-ragu Rangkas dengan cepat melepaskan anak panah nya itu ke arah kepala mereka satu persatu. Lemparan tombak tajam dari mereka tak ada yang mengenai tubuh Rangkas karena Rangkas pandai menghindari nya. Mental Rangkas sudah kuat ketika menghadapi bahaya karena berbagai rintangan maut sudah ia lewati sendiri tanpa bantuan dari Putri Ayu.
Dari kelima belas prajurit itu hanya tersisa dua prajurit lagi yang masih hidup. Mereka bersenjatakan pedang dan Rangkas terasa sayang kepada anak panah nya jika sering ia pakai. Maka ia putuskan untuk memakai pusaka pisau Ranca Cula nya untuk melawan dua lawan nya yang bersenjatakan pedang itu.
__ADS_1
...*...
...* *...