
SUARA Sirene mobil polisi terdengar mendekati kampung Tegalsari berada. Ada banyak mobil polisi dan juga mobil penanggulangan bencana alam. Pak Kades menyuruh semua warga nya untuk mengungsi menjauhi pemukiman tempat Meraka tinggal itu menuju jalanan menuju jalan raya. Mereka berbondong-bondong berjalan berdesak-desakan karena melihat lahar gunung Merapi itu menuruni lereng gunung tersebut.
Langit gelap malam hari yang cerah itu tiba-tiba mendung akibat luapan awan panas bercampur abu vulkanik yang menjunjung tinggi ke langit. Para warga mulai tenang setelah ada mobil polisi mendekati kampung tegalsari.
"Semua nya segera pergi ke jalan sana." Ujar Pak Ketua Polisi yang sudah turun dari mobil nya. Mobil penanggulangan bencana sudah tiba dan para relawan pekerja nya segera turun untuk membantu para warga itu. Mereka segera membuatkan tenda untuk mereka mengungsi sementara.
Pak Ketua Polisi dan semua para anggota polisi segera mengatur barisan para warga itu agar tidak berdesakan. Pak Ketua Polisi mencari-cari dimana Pak Kades dan ia pun segera berjalan ke arah kampung tegalsari untuk pergi ke rumah nya Pak Kades. Suminah saat itu sedang berada di rumah Pak Kades dan ia memohon pada Pak Kades agar ia mencarikan anak nya. Pak Kades nampak marah karena ia merasa tak menyuruh Rangkas untuk pergi ke puncak gunung sana.
Suminah berkali-kali dibentak oleh Pak Kades untuk melupakan Rangkas dan ikut dengan nya mengungsi. Namun Suminah tetap tak mau mendengarkan ucapan Pak Kades. Padahal istri nya Pak Kades sudah mengajak Suminah untuk pergi, Namun Suminah tetap keras kepala hingga akhirnya ia pun nekat pergi sendiri ke puncak gunung persik untuk mencari anak nya.
__ADS_1
Pak Kepala Polisi berpas-pasan dengan Pak Kades serta istri nya itu dijalan dan memberitahukan bahwa Suminah pergi ke hutan gunung persik itu untuk mencari anak nya. Pak Ketua Polisi hanya geleng-geleng kepala saja dan ia merasa dirinya sangat bertanggungjawab soal keselamatan Rangkas. Maka ia menyuruh Pak Kades serta istri nya untuk segera pergi mengungsi dan Pak Ketua Polisi akan menyusul Suminah bersama beberapa anggota nya itu.
Semua warga kampung Tegalsari sudah di ungsikan seluruh nya dan kini kampung tersebut bagai tak berpenghuni lagi. Hujan gerimis mulai membasahi bumi dan hujan itu bercampur dengan abu vulkanik yang sudah membeku. Pak Ketua Polisi baru saja akan bergerak, tapi lahar api itu sudah kian mendekati kampung Tegalsari. Seluruh dinding gunung itu dilapisi oleh larva letusan gunung itu dan kelihatan dari jauh gunung itu menyala kuning jingga terang.
Semua pepohonan yang tumbuh digunung itu hangus terbakar dan banyak hewan yang mati terbakar cairan lahar yang amat panas itu. Burung-burung beterbangan menyelamatkan diri dan tak semua nya ada yang selamat. Hewan-hewan liar yang tinggal dihutan belantara kaki gunung persik pun turun gunung dan banyak hewan seperti Kambing Gunung, Babi Hutan, Kancil, Kelinci Liar, Kera, serta hewan-hewan yang bisa terbang serta berlari semuanya turun gunung menuju kampung Tegalsari dan kebun-kebun di sekitar kampung itu.
Malah hari itu tak ada yang tahu para binatang itu turun gunung untuk menyelamatkan diri, terkecuali ular sudah banyak yang mati karena ular tak bisa bergerak cepat karena ukuran mereka yang besar-besar itu. Raden Aji Sakro sudah pergi dari puncak gunung itu dan ia kini pergi ke Kerajaan Angkor Pura karena kerajaan itu sedang dalam bahaya.
Suminah berteriak memanggil nama anak nya dan tetap tak ada jawaban sama sekali. Suminah lanjut naik lagi ke atas bukit dan ia sudah tak takut akan kematian.
__ADS_1
"Lebih baik aku mati jika aku tak bisa menemukan Rangkas! Pasti Rangkas masih ada dihutan ini!" Suminah semakin naik lagi ke atas dan tanpa ia sadari lahar panas itu semakin turun dan mendekati diri nya. Suminah sudah merasakan hawa panas mendekati nya dan di saat itulah kesadaran nya mulai kembali lagi.
"Dimana aku!?" Sentak Suminah seperti orang linglung.
"Ya tuhan inikan lahar gunung berapi!" Suminah langsung berlari lagi turun dari bukit itu dan ia pun tak ingat mengapa ia bisa sampai di atas bukit itu.
Setahu Suminah, ia hanya ingat ketika ia menanyakan soal anak nya itu kepada Pak Kades. Namun tiba-tiba saja pandangan mulai buram dan merasakan hati nya itu sangat sedih. Hingga makin lama Suminah hilang kesadaran nya dan yang mengambil alih tubuh Suminah adalah Setan utusan Raja Iblis. Setan itu diperintahkan oleh Raja Iblis untuk membunuh Ibu nya Rangkas, karena Gandaria sudah melaporkan soal anak yang bernama Rangkas itu telah menghancurkan sesembahan nya kepada Raja Iblis. Raja Iblis murka karena ia sudah tak mendapatkan sesembahan darah lagi dari Gandaria dikarenakan Gandaria beralasan bahwa ia diganggu oleh seorang anak manusia yang bernama Rangkas.
Raja Iblis pun murka dan memerintahkan salah satu anak buah nya itu untuk mencari Rangkas dirumah nya, Namun yang ditemui Setan itu hanyalah ibu nya saja. Setan itu tak mungkin kembali pulang dengan tangan kosong, sebab ia pulang dari misi harus membuahkan hasil. Jika gagal, nyawa Setan itu sendiri taruhan nya. Gundalini lah dalang nya yang memberi tahu dimana rumah Rangkas kepada Gandaria. Gandaria lalu melaporkan hal itu kepada Raja Iblis ketika mereka beristirahat sebelum tiba di kerajaan Angkor Pura.
__ADS_1
Kini Setan itu telah keluar dari tubuh Suminah karena Setan pun tak mau ikut mati dalam tubuh nya Suminah. Setan itu sudah kembali ke alam nya untuk memberitahukan misi nya itu bahwa ia telah membunuh Ibu nya Rangkas dan Rangkas tak ditemukan karena Rangkas berada di alam dimensi jin bersama Putri Ayu serta Pangeran Dirgantara.
Suminah cepat-cepat turun dari bukit itu dan ia pun membuang pikiran nya dulu soal mengapa ia bisa ada di atas sana. Suara Guntur menggema menggelegar dengan dibarengi deras nya air hujan yang jatuh ke bumi. Pergerakan cairan larva itu pun melambat karena hawa dingin dari air hujan itu cepat membuat larva itu membeku. Pergerakan GUNUNG MELETUS Itu terhenti akibat hujan deras yang mengguyur gunung tersebut dan alam sekitarnya. Semua warga yang mengungsi didalam tenda pun nampak bersorak Sorai senang dan ada juga yang bersujud syukur karena pergerakan lahar larva itu berhenti dan tak sampai menyapu rumah-rumah mereka.