TerSesat

TerSesat
ANCAMAN KABUT MISTERIUS


__ADS_3

RUSDI Meninggal karena penyakit misterius itu dan telah meninggalkan istri dan anak semata wayang nya itu untuk selama-lama nya. Kata-kata terakhir yang di ucapkan oleh Rusdi itu masih menyimpan misteri di dalam nya. Pak kepala desa masih terngiang-ngiang akan siapa orang yang berani membuat masalah dengan nya karena telah membunuh anak nya. Pak Polisi masih menatap Rusdi yang telah meninggal dunia itu sedang ditangisi oleh anak dan istri nya.


Kemudian Pak Polisi berkata kepada Pak Kepala Desa.


"Jadi bagaimana Pak Kepala Desa? Apa Pak Kepala desa masih mau menuduh bahwa Almarhum Pak Rusdi ini sebagai pelaku pembunuh anak nya Pak Kades?" Pak Kades kemudian menatap ke arah Rangkas dan berbicara pelan kepada pak polisi.


"Apakah kasus ini masih berlaku sampai anak itu dewasa pak?"


"Maksud Pak Kades bagaimana? saya tak mengerti." Ujar Pak Polisi kepada Pak Kades.


Kemudian Pak Kepala Desa berbisik kepada pak polisi.


"Begini Pak, saya masih menyanksikan siapa sebenarnya pembunuh anak saya itu. Tapi rasa curiga saya terhadap Rusdi tetap ada. Saya ingin anak itu mengungkapkan apa yang telah dikatakan oleh Rusdi sebelum meninggal tadi." Pak Ketua Polisi menatap Pak Kades dan berkata,


"Jadi Pak Kades ingin anak itu mengungkapkan ucapan Rusdi Itu hanya karena Ayah nya telah melihat sekelompok orang aneh itu dipuncak gunung persik??? begitukah Pak Kades???" Pak Kades pun menganggukan kepala nya seraya berkata.


"Benar Pak, Saya akan membuang tuduhan ini sampai Anak itu mengungkapkan apa yang dilihat Rusdi sebelum sakit. Saya hanya ingin bukti bahwa ucapan Rusdi itu bukan sekedar alasan untuk menutupi kebohongan nya." Ucapan Pak Kades itu ternyata didengar oleh Rangkas dan juga Ibu nya.


Tiba-tiba Rangkas berkata seraya menatap Pak Kades.


"Saya sanggup Pak Kades! Demi harga diri Bapak saya dan Ibu saya, Saya bersedia untuk membuktikan bahwa ucapan Bapak saya itu benar ada nya."

__ADS_1


"Baguslah jika kau sanggup Nak." Ujar Pak Kepala Desa, Namun Ibu Rangkas segera berkata.


"Jangan Nak! Dihutan sana sangat berbahaya! Bapak mu saja sampai sakit separah ini apalagi dirimu nanti!?"


"Tak usah takut Mak, lagi pula ini demi nama baik Bapak yang telah dituduh membunuh padahal tak ada bukti yang kuat bahwa Bapak lah pelaku nya."


"Tapi Nak bagaimana nanti dengan keselamatan mu? Ibu hanya punya diri mu saja satu-satunya." Ujar sang ibu sedih dan Rangkas pun berkata.


"Rangkas akan selalu berhati-hati Mak." Ucap Rangkas seraya tersenyum dan pada akhirnya ibu nya pun hanya bisa memasrahkan hal itu kepada tuhan yang maha esa.


Pak Kades kini telah memberikan tugas seumur hidup kepada Rangkas agar ia bisa mengungkap tabir misteri yang pernah dilihat oleh bapak nya dulu. Jika Rangkas berhasil mengungkap tabir misteri tersebut, Rangkas dan ibu nya akan diterima kembali dikampung Tegalsari dan akan diberikan hadiah yang istimewa dari Pak Kades. Namun jika Rangkas gagal mengungkap tabir tersebut sampai dipenghujung umur dan nafas nya, maka ia dan ibu nya akan selama nya dikucilkan oleh para warga Tegalsari. Semenjak kejadian atas tuduhan pembunuhan anak nya pak kades kepada Rusdi, Rangkas dan ibu nya di ungsikan agak jauh dari perkampungan penduduk. Rumah tersebut cukup sederhana dan hanya dibuat untuk Rangkas dan ibu nya saja. Rumah yang terbuat dari bilik bambu dan papan itu berada didalam kebun milik mendiang Rusdi dan disanalah Rangkas dan ibu nya menanam singkong serta umbi-umbian untuk mereka jual ke pasar.


Petang sudah tiba dan langit cerah mulai berganti warna merah lembayung di ufuk barat. Dikejauhan Rangkas menatap ke arah puncak gunung dan ia pun membatin.


'Sudah hampir sembilan tahun lama nya sejak meninggalnya Bapak. Sampai saat ini tak sekalipun aku menemukan orang-orang aneh yang pernah bapak ceritakan itu di puncak gunung sana.'


Lalu Rangkas pun melanjutkan perjalanan nya lagi dan pikiran nya masih terngiang-ngiang akan kejadian aneh yang ia alami waktu ia tertidur dihutan belantara gunung persik tersebut.


Setiba nya dirumah Rangkas segera menyimpan tumpukan kayu bakar itu dibelakang rumah nya dan tak lama ibu nya membuka kan pintu dapur.


"Tumben banyak sekali kau mendapatkan kayu bakar itu Nak?" Tanya sang ibu.

__ADS_1


"Hehe biasalah Mak, kalau Rangkas membawa banyak kayu bakar berarti Rangkas akan istirahat berburu selama dua hari." Lalu Rangkas pun memberikan hewan hasil buruan nya itu dan memberikan nya kepada ibu nya.


"Ini Mak Rangkas mendapatkan Kancil dan beberapa burung." Ibu Rangkas pun menerima nya seraya berkata.


"Wah sudah lama sekali kita tak makan daging kancil Nak." Ujar sang ibu tersenyum gembira dan kemudian berkata lagi kepada Rangkas.


"Yasudah sekarang kau mandi dan ibu akan memasak daging kancil ini."


"Baik Mak." Jawab Rangkas dan kini mereka pun masuk ke dalam rumah.


Rangkas lalu menaruh barang-barang buruan nya itu dan bersiap untuk mandi sore. Sedangkan ibu Rangkas sedang membersihkan daging Kancil dan juga daging burung untuk kemudian ia masak menjadi masakan yang lezat.


Malam hari telah tiba dan suasana dikampung Tegalsari cukup sunyi sekali. Kabut asap mulai bermunculan dari puncak gunung persik dan turun ke bawah kaki gunung persik tersebut. Kabut tersebut menutupi kampung Tegalsari, Namun para warga yang sedang berada di dalam rumah masing-masing tak mengetahui akan kejadian alam tersebut.


Rangkas sudah selesai mandi dan ia pun disuruh ibu nya untuk membeli beberapa bumbu masakan diwarung kampung Tegalsari tersebut. Dengan bermodalkan senter tua, Rangkas menyusuri jalan setapak dari rumah nya menuju kampung Tegalsari berada. Bulu kuduk Rangkas tiba-tiba merinding dan ia menoleh ke kiri dan ke kanan nya yang dimana disana hanyalah kebun-kebun singkong milik nya.


'Mengapa bulu kuduk ku tiba-tiba merinding? Ada apa ini sebenarnya???' Ujar hati Rangkas membatin dan ia terus saja meneruskan langkah nya sampai dikampung Tegalsari berada. Setibanya Rangkas disana, ia terdiam menatap ke arah Kampung Tegalsari tersebut.


'Mengapa banyak kabut sekali di sini? Sepertinya baru sekali ini aku melihat kabut tebal menutupi rumah-rumah penduduk.' Rangkas mengarahkan senter nya ke arah depan dan tetap saja sinar senter nya tak bisa menembus ketebalan kabut pekat berwarna abu-abu itu. Lampu-lampu dari setiap rumah penduduk lah yang menjadikan patokan Rangkas untuk menghindari jalan tersebut karena ia takut dirinya menabrak rumah penduduk.


Para warga yang sedang ada diluar pun mulai geger dengan ada nya ANCAMAN KABUT MISTERIUS Tersebut. Suara kentongan yang terbuat dari bambu terdengar nyaring dan terdengar juga teriakan bapak-bapak menyuruh orang yang ada diluar rumah untuk segera masuk ke dalam rumah mereka masing-masing. Semua orang segera menutup pintu dan jendela rumah mereka dan yang mempunyai warung pun ikut tutup juga. Rangkas mendengar suara kentongan dan teriakan tadi, Namun dirinya terlambat menyadari bahwa ia kini sedang dalam posisi terancam keselamatannya.

__ADS_1


__ADS_2