TerSesat

TerSesat
BANJIR DARAH


__ADS_3

SUMINAH Terus saja berlari menuruni gunung dan pakaian nya sudah sangat basah sekali oleh air hujan. Ia pergi ke rumah nya dan tak peduli tubuh nya itu kedinginan, yang penting ia bisa menyelamatkan diri nya dulu. Gunung meletus itu kini berhenti total dan sudah tak mengeluarkan lahar panas lagi. Asap abu vulkanik nya pun hanya mengepulkan sedikit asap saja karena lubang jalur lahar larva itu sudah tertutup cairan lahar yang membeku karena terkena air hujan.


Suminah akhirnya sampai juga dirumah nya dengan keadaan tubuh yang basah kuyup. Ia segera berganti pakaian karena tubuh nya sudah mengigil kedinginan. Cuaca Malam kala itu sebentar lagi akan berganti waktu pagi hari, sebab kejadian meletus nya gunung persik tersebut dimulai pada jam empat dini hari. Semua warga yang mengungsi belum diperbolehkan untuk kembali ke rumah nya masing-masing karena ditakutkan gunung persik itu akan meletus lagi.


Kini hujan sudah mulai mereda, namun suara Guntur kilat menggelegar sesekali terdengar sampai membuat takut para warga yang mengungsi itu. Pak ketua Polisi ada di pengungsian itu dan ia masih memikirkan soal keselamatan Suminah di hutan gunung sana. Suminah segera menyalakan api unggun di dapur nya karena ia takut dirinya sakit dan itu bertujuan untuk menghangatkan tubuh nya yang sudah kedinginan.


Kini tempat berpindah ke alam gaib yang dimana Gandaria telah menyerukan penyerangan kepada para prajurit nya untuk menyerang Kerajaan Angkor Pura. Prajurit Angkor Pura yang berada di menara memukul gong beberapa kali dan itu pertanda kerajaan mereka sedang dalam bahaya. Semua prajurit yang tinggal di kampung-kampung Kerajaan Angkor Pura segera bergerak untuk menghadang para penyerang yang berjumlah cukup banyak itu.


Semua prajurit mayat nya Gandaria menyerang pemukiman kampung itu dengan ganas dan liar. Para prajurit tersebut kaget karena orang-orang yang menyerang mereka adalah para mayat hidup. Karena ada banyak yang telah membusuk badan nya dan beberapa anggota tubuh nya yang tinggal tulang saja.


Gandaria pun ikut membantai para prajurit itu dengan senjata yang ia pegang, yaitu sebuah cambuk dengan tali nya sepanjang satu meter. Gandaria melecutkan cambuk nya itu ke pada para prajurit lawan yang ingin menyerang nya dan para prajurit yang terkena sabetan cambuk itu langsung hancur tubuh nya menjadi bubur daging menjijikan. Gundalini dan Samiri pun tak tinggal diam, mereka berdua dengan gesit nya melawan para prajurit itu hingga membunuh nya memakai senjata masing-masing. Gundalini memakai keris panjang sekitar dua jengkal dan Samiri memakai parang panjang yang biasa ia simpan di punggung nya.

__ADS_1


Suara jerit kematian dari dua kubu semakin membuat siapa saja yang mendengar nya ngeri dan takut. Ada juga yang bertarung dengan mengeluarkan ilmu tenaga dalam sinar dan banyak yang terkena serangan salah sasaran. Rumah-rumah penduduk itu terbakar dan ada juga yang hancur berantakan. BANJIR DARAH Memenuhi jalanan kampung tersebut dan suasana disitu sangatlah mengerikan. Tempat itu bagai ladang pembantaian manusia karena banyak darah berceceran serta mayat-mayat yang tergeletak mati mengenaskan.


Prajurit kerajaan Angkor Pura yang rata-rata memakai baju Jirah perang itu mampu dirobek oleh kuku tajam nya para mayat itu dan banyak dari mereka yang dimakan Tubuh nya oleh para prajurit mayat itu. Prajurit kerajaan Angkor Pura kewalahan karena diantara mereka sudah banyak yang mati, sedangkan para pasukan mayat nya Gandaria meskipun mereka sudah hancur kepala nya atau tangan dan kaki nya. Para mayat itu masih bisa bergerak dan menyerang dengan ganas nya.


Pasukan Kerajaan Angkor Pura terdesak dan panglima perang kerajaan itu pun akhirnya turun tangan untuk mengatasi Gandaria yang saat itu sedang membabi buta membunuh para prajurit yang berusaha menghalangi nya.


"Ohhh sekarang aku baru tahu siapa kau itu!! Bukankah kau orang lemah yang menyerah ketika mau dibunuh oleh Raja Raden Aji Sakro itu bukan..???"


Panglima perang itu mundur beberapa langkah dan mengibaskan pedang nya ke arah Gandaria. Gandaria pun melecutkan cambuk nya itu ke arah mata pedang dan tersengar suara letupan kecil dan nyala api dari peraduan dua senjata itu. Lalu Gandaria menyabetkan Cambuk nya lagi ke arah Panglima Perang itu dan dengan gesit nya Panglima Perang itu berjungkir balik ke belakang. Lalu Gandaria menyabetkan Cambuk nya lagi ke arah tubuh Panglima Perang itu dan keluarlah sinar merah seperti aliran listrik menyambar tubuh Panglima Perang itu.


Baru saja Panglima Perang itu berdiri dari berjungkir balik balik, tubuh nya sudah harus mengejang karena ia terkena serangan sinar nya Gandaria tadi. Tubuh Panglima Perang itu bagai tersetrum listrik berskala besar hingga membuat tubuh nya mengejang. Baju Jirah nya nampak menghitam dan pedang yang ia pegang pun terlepas.

__ADS_1


Akhirnya tubuh Panglima Perang itu rubuh, tapi ia masih hidup dan mengerang kesakitan. Gandaria berjalan mendekati Panglima Perang itu sambil berkata tanya,


"Mana Raja Mu si Aji Sakro Itu hah!? Suruh dia datang menghadapi aku!!" Gandaria geram karena Panglima Perang itu meludahi nya. Gandaria dengan gerakan cepat langsung menendang kepala Panglima Perang itu hingga memuntahkan darah kental.


"Kau harus mati sialan! lihat baik-baik pasukan ku itu! mereka adalah murid-murid diperguruan ku yang tewas dibantai oleh kalian itu!" Mata Panglima Perang itu melihat ada banyak pasukan mayat Gandaria yang memakai pakaian perguruan.


Ia masih ingat pakaian perguruan itu dan ia pun ikut andil dalam pembantaian tersebut hingga akhirnya Raden Aji Sakro menarik prajurit nya kembali karena ketua perguruan itu sudah dikalahkan yaitu seorang kakek tua guru agung nya si Gandaria itu. Gandaria lalu bertanya lagi soal dimana Raden Aji Sakro itu berada sekarang, tapi Panglima Perang itu tetap bungkam hingga membuat Gandaria kesal.


Gandaria lalu memanggil beberapa pasukan mayat nya yang sedang memakan tubuh prajurit lawan yang mati dan menyuruh mereka memakan tubuh Panglima Perang itu. Gandaria segera meninggalkan Panglima Perang itu yang kemudian diserbu oleh para mayat dan seluruh tubuh nya habis dicabik-cabik oleh para mayat itu. Prajurit Kerajaan Angkor Pura semua nya sudah mundur dan berada di ambang depan gerbang masuk menuju istana tersebut.


Semua pasukan kerajaan Angkor Pura yang mati itu diserbu dan dimakan oleh para pasukan mayat itu. Jumlah pasukan mayat nya Gandaria hanya berkurang sedikit saja dan kebanyakan masih bisa berdiri lagi serta berjalan walaupun kepala nya sudah hancur atau terpenggal.

__ADS_1


__ADS_2