TerSesat

TerSesat
SILUMAN ULAR PERAK


__ADS_3

PUSARAN Angin kencang yang bercampur air itu masih mengelilingi tubuh Rangkas. Rangkas masih dalam posisi duduk bersila dan masih melakukan pertapaan nya. Putri Ayu Menyerang Rangkas memakai Pisau Ranca Cula yang kini sudah menjadi sebuah Tombak berujung cula badak. Kemarahan Putri Ayu sudah tak terbendung lagi, ia beberapa kali menusuk dan menebas benteng pertahanan Rangkas yang terdiri dari angin dan air itu. Namun serangan itu justru tak membuat tubuh Rangkas terhempas atau terluka.


Serangan Putri Ayu beberapa kali tertahan dan beberapa kali juga keselamatan Putri Ayu hampir terancam.


"Bocah gila! Bagaimana cara aku menghentikan anak itu!?" Geram Putri Ayu mulai kelelahan dan putus asa.


"Sungguh dahsyat sekali kekuatan yang diberikan oleh Hyang Widi kepada anak itu! sampai-sampai pusaka sakti ini tak mampu menembus pertahanan anak itu. Luar biasa sekali, aku yakin anak itu akan dengan mudah nya membantu ku membalaskan dendam ku!" Putri Ayu segera menenangkan pikiran nya dan mencoba mengirimkan telepati kepada Rangkas.


'Sudahi semedi mu itu Rangkas, kau sudah berhasil melakukan nya.' Setelah Putri Ayu mengirim Telepati kepada Rangkas, perlahan pusaran angin bercampur air yang mengelilingi Rangkas itu mulai melambat dan hilang dalam sekejap.


Putri Ayu masih dalam keadaan tubuh nya setengah ular bersisik perak dan ia lupa untuk merubah ke wujud aslinya lagi. Rangkas perlahan membuka mata nya dan ia nampak bingung melihat keadaan air danau yang sebelumnya tenang di sekitar nya itu terombang-ambing seperti ada ombak besar. Terlebih lagi ketika ia didekati oleh Putri Ayu, semakin tersentak kaget lagi Rangkas.


Ia terperanjat bangun dan mundur sampai ditepi baru datar itu.


"Siapa kau!? Jangan mendekati ku!!" Sentak Rangkas marah bercampur takut.


"Hei apa kau tak ingat kepadaku? Aku adalah Putri Ayu yang membawa mu kemari!"


"Apa aku tak salah melihat...??? Setahuku Wajah dan badan mu tak seperti SILUMAN ULAR Bersisik PERAK Nyai." Seketika Putri Ayu segera tersadar akan diri nya. Ia menatap tubuh nya yang menyeramkan itu dan kemudian ia mengikik tertawa malu.


"Xixixixi, Aku sampai lupa tak merubah wujud ku ke wujud sebelum nya." Rangkas mengerutkan dahi nya dan terlihat kagum ketika melihat wujud Putri Ayu berubah menjadi wanita cantik jelita dengan raga tubuh yang anggun dan aduhai sama seperti sebelumnya.


Rangkas bengong menatap Putri Ayu yang melayang terbang mendekati nya dan kini kali nya menapak dibatu datar cukup lebar itu.


"Bagaimana keadaan mu Rangkas? Apa yang kau rasakan ketika bertapa tadi...???"

__ADS_1


"Aku..." Rangkas menggarukkan kepala nya yang tak gatal itu sembari meneruskan ucapan nya.


"Aku lupa, tahu-tahu aku mendengar suara mu menyuruhku untuk berhenti bertapa."


"Hm jadi kau tak ingat apa-apa ketika melakukan pembukaan inti tenaga dalam itu???" Rangkas menggelengkan kepala nya dan Putri Ayu lalu berkata.


"Yasudah kalau kau tak ingat, yang penting kau sudah bisa membuka inti tenaga dalam di dalam diri mu itu. Kau sudah berhasil Rangkas!." Ucapan selamat dari Putri Ayu tadi segera dibalas oleh rasa penasaran Rangkas.


"Aku penasaran kepadamu Nyai, apakah kau siluman ular bersisik perak yang tiba-tiba muncul dihadapan ku waktu itu...???" Putri Ayu mengerutkan dahi nya dan seketika ia teringat akan kelakuan nya itu.


"Oh soal itu, jadi kau masih ingat ketika ada ular bersisik perak melintas didepan mu dengan cepat?"


"Iya jelas aku masih ingat akan soal itu."


Kemudian Putri Ayu meneruskan ucapannya lagi.


"Aku melakukan hal itu hanya ingin menguji keberanian mu saja, sebab aku yakin kau tak akan takut semudah itu jika melihat ular sebesar batang pohon kelapa itu."


"Aku pernah melihat ular yang lebih besar dari itu Nyai."


"Benarkah? dimana kau melihat nya???" Tanya Putri Ayu penasaran.


"Dulu kala itu aku tak sengaja melihat nya. Ular itu berwarna sisik merah kehitaman." Seketika raut wajah Putri Ayu tegang dan bertanya.


"Lalu apa ciri-ciri lain nya...???" Rangkas menatap wajah Putri Ayu yang menegang itu dan Rangkas menjawab nya tanpa ada rasa ragu atau grogi kepada Putri Ayu.

__ADS_1


"Ciri lain nya kalau tak salah, aku melihat ada tanduk kecil dan tajam dikepala nya."


"Dimana kau melihatnya..??? Apa dia melihat mu juga...???" Rangkas menggelengkan kepala nya seraya berkata.


"Aku tak sengaja melihat ular besar itu sedang merayap di dinding tebing curam gunung persik. Aku kala itu memang sedang mengincar burung buruan ku yang kabur dan mengarah ke sisi tebing jurang. Ditebing sana aku melihat ular besar itu merayap menuju sebuah lubang di dinding tebing itu. Seperti nya lubang itu adalah Gua tempat ular itu tinggal." Putri Ayu sudah tak setegang tadi dan ia lalu berkata,


"Kau harus berhati-hati jika bertemu ular itu Rangkas!" Rangkas mengerutkan dahi nya dan bertanya.


"Apakah ular itu sangat berbahaya Nyai...???"


"Ular itu adalah wujud seorang pangeran yang sedang menyamar! Dia adalah musuh ku selama ini karena dia telah membunuh keluarga ku dan merebut tahta kerajaan milik Ayahku!"


"Jadi ular itu menyamar karena sedang mencari mu begitu...???"


"Tepat sekali!"


"Apa kau pernah bertemu dengan siluman ular itu Nyai...???" Pertanyaan Rangkas itu dibalas dengan gelengan kepala oleh Putri Ayu.


"Jadi kau belum bertemu dengan siluman itu? Lalu bagaimana kau tahu bahwa ular itu adalah musuh mu yang menyamar...???"


"Karena dia dulu nya adalah bekas kekasih ku Rangkas!" Ucapan Putri Ayu yang tegas itu membuat Rangkas diam seketika.


Ia melihat air mata mulai mengalir dikedua kelopak mata Putri Ayu.


"Dia dulu adalah kekasihku. Kami berdua sama-sama saling mencintai dan kami telah mengikat sumpah untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan. Tapi disaat kami sedang mengadakan pesta pernikahan itu di istana Ayah ku. Tiba-tiba saja kami diserang oleh Prajurit milik ayah nya kekasihku dan ternyata Kekasih ku pun berkhianat kepada ku. Ia dan Ayah nya ternyata telah merencanakan pengkhianatan itu hanya untuk merebut istana dan kekuasaan milik Ayah ku. Ternyata Pangeran Aji Sakro berniat mendekati ku hanya karena ia ingin merebut tahta kekuasaan milik Ayah ku. Aku sebagai perempuan merasa sangat bodoh sekali karena telah mempercayai buaian ucapan manis lelaki itu. Sampai saat ini aku masih menyesali Kejadian itu karena keluarga ku semuanya dibantai habis oleh mereka." Putri Ayu pun tak kuasa menahan air mata nya dan ia menangis terisak-isak membuat Rangkas tak tega melihat nya.

__ADS_1


__ADS_2