TerSesat

TerSesat
DENDAM KESUMAT


__ADS_3

RANGKAS Lalu mendekati mayat Gundalini yang tersangkut dibatang pohon itu. Ia berniat ingin memenggal leher Gundalini untuk ia bawa nanti ke alam manusia. Rangkas lalu mencoba melayangkan tubuh nya ke atas dan perlahan tubuh nya mulai naik ke atas. Baru saja Rangkas ingin mengeluarkan pisau Ranca Cula nya untuk memenggal leher Gundalini, tiba-tiba ada suara ledakan keras dari kejauhan.


Rangkas pun tak jadi memenggal kepala Gundalini karena ia penasaran akan suara ledakan keras itu. Ledakan itu sampai ke tempat nya berada dan angin kencang menerpa ke arah nya.


"Ledakan apa itu tadi!? Apakah itu suara pertarungan si Gandaria dengan Nyai Putri dan Kang Dirga!?" Karena penasaran Rangkas pun akhirnya pergi ke arah suara itu berasal dan meninggalkan dulu mayat Gundalini yang tergantung itu.


Didepan gerbang istana kerajaan Angkor Pura, ada lubang cukup dalam dan lebar. Ledakan keras itu berasal dari serangan Raden Aji Sakro karena Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara ada didepan gerbang itu. Kedua nya waktu itu tiba dipintu gerbang itu dan tak melihat ada dua orang yang mengincar mereka diatas benteng gerbang itu.


Putri Ayu dan Pangeran Dirgantara mundur dengan cepat ketika ada dua serangan sinar tenaga dalam yang hampir membunuh mereka berdua. Serangan itu berasal dari atas benteng dan kedua nya lalu menatap ke atas benteng itu. Disana sudah ada Gandaria dan juga Raden Aji Sakro yang berdiri menatap ke arah mereka berdua.


"Itu dia sikeparat itu!" Geram Pangeran Dirgantara kepada Putri Ayu.


Mata Putri Ayu pun menatap benci ke arah Raden Aji Sakro. Mata Gandaria sudah melotot merah menatap ke arah kedua nya dan Raden Aji Sakro pun menyipitkan matanya ke arah Putri Ayu.


"Setelah sekian lamanya kau melarikan diri dari kejaran ku, akhirnya tanpa aku cari kau pun datang sendiri kepada ku wahai Putri Ayu." Ujar Raden Aji Sakro berkata lantang.


Lalu Ia lanjutkan ucapannya lagi.

__ADS_1


"Ternyata kau telah meminta bantuan kepada seorang lelaki pengecut seperti si Dirgantara itu rupanya!"


"Diam kau jahanam!" Bentak Pangeran Dirgantara sudah tak kuat menahan emosi nya.


"Hei Dirgantara!! Lawan mu adalah aku!! Kau telah membunuh sahabat ku si Karsani itu sialan!! Heahhh!!" Lalu Gandaria meloncat berjungkir balik dari atas benteng sampai tiba di tanah yang telah basah oleh darah itu.


Putri Ayu melihat Raden Aji Sakro menatap nya dengan tajam dan kedua nya masih terdiam saling memandang. Lalu Putri Ayu berkata kepada Pangeran Dirgantara,


"Kau urus si Gandaria itu dan aku akan mengurus si Aji Sakro itu!"


"Baiklah!" Ujar Pangeran Dirgantara yang kini telah berjalan menuju Gandaria berdiri.


Cttarr tartar!! Gandaria melecutkan ujung cambuk nya itu ke arah Pangeran Dirgantara dan Pangeran Dirgantara langsung mengindari nya dengan tubuh mundur kebelakang.


Ia sudah fokus pada pertarungan nya sendiri dan Gandaria melesat mengejar nya. Kedua nya saling adu ketangkasan pukulan dan tendangan. Kedua nya memakai gerakan silat serba cepat dan sukar untuk dilihat oleh mata biasa. Sedangkan Putri Ayu masih berdiri ditempat nya dan begitu juga dengan Raden Aji Sakro. Mereka berdua ternyata sedang melakukan serangan kekuatan mata dan hal itulah yang membuat kedua nya terdiam sejak tadi.


Tak lama tangan Aji Sakro mulai mengepal kuat dan tubuh nya sedikit bergetar. Tubuh Putri Ayu masih terlihat biasa saja dan tiba-tiba saja tubuh kedua nya berkeringat.

__ADS_1


'Sampai kapan ia ingin mengadu kekuatan mata dengan ku!?' Ujar Putri Ayu membatin seperti itu dan kemudian ia melihat tangan Raden Aji Sakro yang mengepal itu menyentak ke depan.


Raden Aji Sakro telah menyerang Putri Ayu memakai ilmu tenaga dalam sinar dan mau tak mau Putri Ayu harus menghindari nya. Putri Ayu melompat ke samping dengan cepat dan serangan tadi menghantam tanah bekas pijakan Putri Ayu. Ledakan keras terjadi lagi dan membuat tanah itu berlubang besar.


'Dia tak main-main ingin membunuh ku!' Geram Putri Ayu dan saat itu Raden Aji Sakro turun dari atas benteng.


Ia melayang bagai burung yang menukik ke bawah dengan cepat. Kemudian Raden Aji Sakro berlari ke arah Putri Ayu dan melayangkan kaki kanan nya. Putri Ayu sudah siap siaga menghadapi serangan dadakan tersebut. Kedua nya bertarung memakai serangan fisik ilmu Kanuragan dan kedua nya pun begitu lincah. Mereka saling serang dan saling menangkis, Kemudian mereka pun saling menendang memakai kaki mereka. Tak ada yang bisa menghentikan mereka karena kedua nya sudah diburu oleh DENDAM KESUMAT Pada diri masing-masing.


Putri Ayu mendendam karena semua keluarganya habis dibantai oleh Raden Aji Sakro dan Aji Sakro mendendam kepada Putri Ayu karena Ayah nya Putri Ayu telah membunuh Ayah nya Raden Aji Sakro. Dendam masih terus berjalan dan hidup Raden Aji Sakro belum tenang jika Putri Ayu belum ia bunuh. Kedua nya terus saja bertarung dan sudah tak memikirkan keadaan sekitar nya.


Cambuk pusaka Gandaria terus saja dilecutkan dan membuat Pangeran Dirgantara terkena pecutan itu. Tubuh nya mengejang karena seperti tersengat listrik jutaan volt. Harus nya Pangeran Dirgantara sudah sekarat, tapi aneh nya ia masih bisa bangun dalam keadaan tubuh menghitam dan luka bakar dikulit nya.


Wajah Pangeran Dirgantara nampak memerah karena terkena sengatan listrik dari serangan Gandaria tadi.


"Lihat dirimu Digra! Kau sudah aku kalahkan hanya dengan bermodalkan cambuk pusaka pemberian Raja Iblis ini! Huahahaha!!"


"Tutup mu bajingan! Aku masih bisa bangun dan melawan mu!" Saat itu Pangeran Dirgantara sudah melepaskan pedang yang tersimpan di punggung nya itu karena ia sudah terdesak oleh serangan Gandaria.

__ADS_1


Pedang pusaka yang terbuat dari perak itu ia mainkan sejenak dan kemudian ia tusukan ke arah Gandaria. Nampak ada kilatan cahaya putih seperti petir menyambar tubuh Gandaria dan Gandaria langsung menyentakan cambuk nya itu ke arah serangan sinar tersebut. Dua sinar berbeda warna namun sama jenis nya telah membuat ledakan percikan api cukup besar dan menyebarkan bunga api ditempat itu.


Bunga Api itu menyebar dan mengenai tubuh Gandaria dan alhasil tubuh Gandaria terbakar karena badan nya yang ditumbuhi oleh bulu lebat itu. Ia meronta-ronta menjerit meminta tolong karena tubuh nya terbakar seluruh nya. Tak hanya Gandaria, Pangeran Dirgantara pun ikut terkena percikan api juga dan tubuh nya terbakar bersama pedang nya. Pangeran Dirgantara sudah pasrah bahwa dirinya akan mati saat itu juga. Ia hanya bisa merintih menunggu saat ajal nya tiba dan tubuh nya terbaring sangat menyedihkan.


__ADS_2