TerSesat

TerSesat
BUNGA ANEH


__ADS_3

Rangkas ingin menjerit kesakitan, tapi ia tak bisa melakukan nya karena rasa sakit itu tak ada bandingan nya dengan rasa sakit hati yang dialami nya setelah melihat Putri Ayu hancur tubuh nya. Pangeran Dirgantara pun nampak murka karena ia pun merasakan amarah nya karena Putri Ayu dipastikan hancur tubuh nya akibat ledakan dari serangan mayat wanita tadi. Pangeran Dirgantara tak ragu-ragu lagi untuk membuka pedang pusaka nya dan Mayat kakek tua itu menyerang nya lagi dengan gerakan liar.


Pangeran Dirgantara pun sudah memegang pedang ditangan nya dan dengan gerakan cepat ia langsung menyongsong lawan nya yang ingin menghajar nya itu.


Crass Crass Crass! Tiga kali tebasan pedang secepat kilatan petir itu telah membuat mayat kakek tua itu terdiam dalam berdiri nya. Pangeran Dirgantara berdiri dengan kaki kuda-kuda membelakangi mayat kakek tua itu dan dari mata pedang nya ada darah menempel cukup banyak.


Tak lama ada angin berhembus dan kepala Mayat kakek tua itu jatuh terlebih dahulu, kemudian isi perut nya ambrol keluar serta kedua kaki nya buntung. Pangeran Dirgantara pun kini telah berbalik badan dan mendapati musuh nya sudah mati mengenaskan. Ia lalu melihat Rangkas yang masih mencekik mayat wanita itu dan tangan Rangkas sudah berlumuran darah cukup banyak. Pangeran Dirgantara ingin membantu, tapi ia melihat sekelebat tubuh Putri Ayu menendang kepala mayat wanita itu dan langsung hancur tepat dihadapan Rangkas.


Wajah Rangkas penuh dengan darah dan ia segera mengusap-usap wajah nya itu dan sudah menjauhi mayat perempuan yang kini kepala nya sudah hancur remuk. Pangeran Dirgantara pun kini merasa lega lagi karena ia melihat Putri Ayu baik-baik saja.


"Siapa yang telah menghancurkan kepala mayat itu!? Wajah ku sampai penuh dengan darah begini! Huekk huekkk!!" Rangkas muntah-muntah dan Putri Ayu tertawa mengikik geli sambil berkata mendekati Rangkas.


"Maafkan Aku Rangkas, aku pikir kau dalam situasi berbahaya. Makanya aku dengan cepat menendang kepala mayat ini dengan keras."


"Nyai?!" Ucap Rangkas kaget karena ia mengenali suara itu. Mata Rangkas masih terpejam karena ia tak bisa melihat karena darah mayat itu melumuri seluruhnya wajah nya.


"Nyai kau selamat!? Aku pikir kau sudah mati dan hancur tubuh mu oleh serangan mayat perempuan tadi!"


"Aku memang hampir mati jika aku telat menghindari serangan dadakan tadi!" Ucap Putri Ayu


"Syukurlah kau selamat,..." Ujar Pangeran Dirgantara dan ia langsung memeluk tubuh Putri Ayu dari belakang.

__ADS_1


Rangkas sedang mengelap wajah nya memakai pakaian nya itu dan ketika mata nya terbuka, ia melihat pemandangan yang membuat hati nya sakit. Putri Ayu sedang dipeluk oleh Pangeran Dirgantara dan Rangkas segera berpura-pura tak bisa melihat lagi sambil berkata,


"Aku cari air dulu untuk membersihkan muka ku." Ujar Rangkas dan ia berjalan memasuki Kuil itu untuk mencari kamar mandi. Tangan nya penuh berlumuran dengan darah dan kedua tangan nya terluka tertusuk kuku runcing nya mayat perempuan tadi.


Putri Ayu melihat Rangkas melihat nya dipeluk oleh Pangeran Dirgantara itu dan ia paham maksud Rangkas yang segera pergi itu. Putri Ayu merasa tak enak hati kepada Rangkas dan ia langsung melepas pelukan itu dari Pangeran Dirgantara.


"Bagaimana kau bisa menghindari serangan tadi???" Tanya Pangeran Dirgantara.


"Aku menggunakan jurus perpindahan benda yang biasa aku pakai dalam keadaan terdesak saja."


"Jadi kau menukarkan tubuh mu dengan benda yang ada disekitar mu begitu?"


"Ya memang benar, aku menggunakan mata ku untuk melakukan perpindahan benda itu. Aku berpindah ke tengah pemakaman itu dan disana ada batu nisan besar. Aku berganti tempat dengan batu nisan itu dan yang hancur tadi adalah batu nisan itu."


"Jangan memanggilku sayang jika sedang bersama Rangkas, nanti dia cemburu!"


"Iya-iya maaf aku lupa." Ujar Pangeran Dirgantara dan kini mereka menunggu Rangkas keluar dari dalam kuil itu.


Rangkas akhirnya menemukan kamar mandi dan ia mencuci wajah nya digenangan air seperti kolam pemandian itu. Tempat itu cukup luas dan sangat indah sekali karena banyak patung-patung perempuan tanpa busana yang berdiri ditepi kolam itu. Ada beberapa pot berisi bunga yang menyebarkan aroma wangi yang aneh. Bunga itu berbentuk seperti bunga sepatu dan warna nya ungu kemerahan.


Rangkas terbuai oleh aroma bunga itu dan pada akhirnya batin nya menuntut birahi nya untuk bangun. Kejantanan Rangkas menegang dan ia segera sadar bahwa dirinya itu telah menghirup aroma BUNGA ANEH yang membuat nya mabuk kepayang seperti itu. Rangkas buru-buru pergi keluar dari dalam ruangan itu dan cepat-cepat mengatur napas nya. Mata nya selalu terbayang kecantikan wajah Putri Ayu dan pikiran kotor nya mulai menampakan tubuh Putri Ayu yang montok dan seksi itu.

__ADS_1


Rangkas mengibaskan kepala nya sambil berkata,


"Mengapa tiba-tiba hasrat napsu ku bergejolak begini? Sepertinya aroma bunga tadi bisa membuat hasrat napsu siapa saja menjadi tinggi. Aku harus menenangkan diri dulu sebelum aku bertemu dengan mereka." Rangkas berdiam diri di luar kamar mandi itu dan ia teringat akan pertemuan nya dengan mendiang Ayah nya di alam bawah sadar nya. Rangkas saat itu sedang melawan Karsani, si Mahkluk gundul berkulit hijau dari ras Buto Ijo itu.


Ia merenungkan hal itu dan membatin,


"Apakah Bapak sakit gara-gara ditumbalkan juga oleh si Gundalini itu? Aku harus menanyakan nya nanti jika sudah berhadapan dengan nya!" Kini Rangkas mencari kain untuk menutupi kedua lengan nya yang terluka itu. Semua ruangan ia jelajahi dan akhirnya menemukan kain ikat pinggang berwarna merah cukup panjang. Rangkas segera memotong nya menjadi dua dan melilitkan nya di kedua tangan nya yang terluka itu.


Rangkas kini berjalan keluar dari lorong itu dan berpas-pasan dengan Putri Ayu serta Pangeran Dirgantara.


"Kau memakai apa ditangan mu itu Rangkas?" Tanya Putri Ayu penasaran.


"Oh ini aku untuk menutup luka ku saja."


"Coba aku lihat." Ujar Putri Ayu penasaran dan lilitan kain itu pun di buka lagi oleh Putri Ayu.


Nampak ada sepuluh tusukan luka dari kedua lengan Rangkas. Masing-masing tangan lima tusukan berlubang cukup dalam dan masih ada darah mengucur.


"Luka mu ini parah! Ringan apa nya!" Ujar Putri Ayu khawatir dan ia segera mengobati Rangkas dengan menyalurkan hawa murni nya. Kedua luka ditangan Rangkas dibekap oleh kedua telapak tangan Putri Ayu dan ada Cahaya hijau menyala ditelapak tangan Putri Ayu.


Rangkas hanya terdiam saja tangan nya dipegang oleh Putri Ayu. Hati nya mulai berdebar-debar indah merasakan keindahan lembut nya tangan Putri Ayu itu. Rangkas pun hanya bisa merintih karena pengobatan seperti itu cukup sakit dirasakan oleh Rangkas. Pangeran Dirgantara terlihat cuek saja dengan apa yang sedang dilakukan oleh Putri Ayu itu, padahal hati nya sangat panas dan merasa tak rela Putri Ayu berdekatan dengan Rangkas.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2