
RANGKAS Segera membawa busur panah dan juga anak panah nya yang berjumlah seratus anak panah. Rangkas menyiapkan anak panah itu sebelum nya dan ia mendapati anak panah itu dari dalam peti dikamar ibu nya. Disana banyak barang-barang perkakas dan juga alat untuk berburu milik Rusdi, Ayah nya Rangkas.
Rangkas hanya membawa dua senjata saja, yaitu pusaka Pisau Ranca Cula dan busur panah pemberian ayah nya itu. Kini Rangkas sudah pamit kepada ibu nya dan Ibu nya hanya melambaikan tangan kepada Rangkas. Dari jauh nampak Rangkas berjalan mendekati dua teman gaib nya itu. Rangkas memakai pakaian yang biasa ia pakai untuk berburu. Tiba didekat Putri Ayu dan juga Pangeran Dirgantara, Rangkas berkata.
"Jalan mana yang akan kita tempuh sekarang Nyai? Kang?"
"Sebaik nya kita masuk ke dalam gerbang siluman yang ada di batang pohon beringin itu saja." Ujar Pangeran Dirgantara.
"Ide bagus! Yasudah ayo kita berangkat!" Ujar Putri Ayu bersemangat.
Saat mereka berjalan menuju hutan belantara kaki gunung Persik, Pangeran Dirgantara memberanikan diri meminta maaf kepada Rangkas akan ucapan kasar nya tadi dan Rangkas dengan senyum penuh keikhlasan telah memaafkan permintaan maaf Pangeran Dirgantara itu. Kini mereka bertiga telah sampai di pohon beringin yang masih ada lambang simbol Illuminati nya.
"Disinilah aku bertarung dengan penjaga gerbang ini, entah dia sudah mati atau masih hidup."
"Hmm aku mencium bau darah disekitar sini." Ujar Pangeran Dirgantara mengendus-enduskan hidung nya.
Rangkas pun memperhatikan Pangeran Dirgantara yang berjalan ke arah semak-semak belukar yang sudah di babat habis oleh para warga ketika mencari Rangkas ditempat itu. Putri Ayu menatap Rangkas dan sama sekali ia tak melihat rasa cemburu lagi di wajah Rangkas.
'Sepertinya anak ini sudah tak cemburu lagi padaku dan juga kepada Dirgantara.' Ketika membatin begitu Pangeran Dirgantara berkata,
"Sepertinya si bajingan itu pernah ada di sini!" Geram Pangeran Dirgantara dan Putri Ayu serta Rangkas bertatap muka.
Kemudian mereka berdua mendekati Pangeran Dirgantara yang sedang berjongkok itu.
"Apa yang kau temukan?" Tanya Putri Ayu.
"Aku mencium BAU DARAH si Raden Aji Sakro itu! Ceceran darah kering ini adalah darah nya!"
__ADS_1
"Coba aku lihat." Ujar Putri Ayu dan Putri Ayu memegang nya dan mengendus-enduskan nya didekat hidung nya. Seketika wajah Putri Ayu menegang sambil berkata,
"Tak salah lagi! Ini memang darah nya si Raden Aji Sakro! Ku hapal betul bau darah ini, sebab ketika aku bertarung dengan nya. Ia terluka lengan nya dan darah itu menciprat dipakaian ku."
"Aku juga sama seperti mu, ketika aku berduel dengan nya. Aku terluka dibagian bahu kanan dan ia terluka di bagian lengan kiri nya. Darah nya terserap dalam pedang pusaka ku ini dan aku bisa merasakan bau amin darah nya itu."
"Hmm kalau begitu, apa kah dia tahu kita sedang ada di sini???"
"Sepertinya dia sedang mengincar mu sayang, Eh Putri." Seketika Putri Ayu melototi Pangeran Dirgantara dan Pangeran Dirgantara segera menutup mulut nya.
Rangkas mendengar nya dan Rangkas berpura-pura sedang memperhatikan kerimbunan pohon beringin itu.
"Maaf aku keceplosan." Ujar Pangeran Dirgantara pelan. Lalu Putri Ayu segera merubah topik pembicaraan,
"Sepertinya si Raden Aji Sakro itu memang sedang mengincar ku. Dia sangat mendendam sekali kepada ku dan berusaha membunuh ku. Alasan Raden Aji Sakro menaklukan semua kerajaan dan membantai nya tanpa ada perjanjian peperangan itu, karena dirinya telah gila kekuasaan setelah berhasil mengalahkan Ayah ku yang saat itu adalah seorang raja terkuat di zaman nya."
"Memang benar apa yang kau katakan itu, pisau yang terselip di pinggang nya Rangkas itu adalah pusaka yang terbuat dari cula Siluman Badak itu." Pangeran Dirgantara manggut-manggut sambil membatin.
'Pantas anak itu bisa berhasil mengalahkan Karsani dengan bermodalkan pusaka dahsyat itu, mungkin tanpa pusaka itu ia tak akan mampu menumbangkan si Karsani hingga sekarat itu.' Putri Ayu bisa membaca isi hati Pangeran Dirgantara dan Putri Ayu langsung mengirimkan telepati pada nya.
'Tanpa memakai senjata pusaka pisau Ranca Cula itu pun aku yakin Rangkas bisa mengalahkan mahkluk gundul itu. Kau jangan meremehkan Rangkas, Pangeran!' Tegas Putri membela Rangkas dan Pangeran Dirgantara hanya kikuk saja ditatap tajam oleh Putri Ayu.
Watak keras Pangeran Dirgantara seperti nya sudah mulai luluh oleh Putri Ayu, sebab Pangeran Dirgantara tak pernah mau berdebat dengan Putri Ayu. Ia lebih banyak mengalah nya daripada berdebat mempermasalahkan hal sepele itu. Rangkas tak bisa mendengar percakapan kedua nya itu karena ia tak memiliki ilmu tersebut.
Kemudian Pangeran Dirgantara segera berkata,
"Ada baik nya kita secepatnya pergi menuju ke alam gaib dimensi siluman itu."
__ADS_1
"Tunggu dulu!" Ujar Putri Ayu dan ia mendekati Rangkas.
"Dulu kau pernah bilang bahwa kau pernah melihat seekor ular besar berwarna hitam kemerahan dengan tanduk runcing kecil dikepala nya bukan?"
"Iya aku pernah melihat nya Nyai."
"Apa kau bisa menunjukkan dimana terakhir kau melihat nya???" Rangkas menganggukan kepala dan berkata,
"Mari ikut aku." Lalu Rangkas berjalan lebih dulu dan Pangeran Dirgantara tak banyak bicara lagi.
Ia hanya mengikuti Putri Ayu dan juga Rangkas dari arah belakang. Pangeran Dirgantara memperhatikan ke sekeliling hutan belantara itu yang cukup gelap itu. Tak ada sesuatu yang membuat nya takut di sana, padahal ada banyak makhluk halus yang bersembunyi di kerimbunan daun-daun pohon besar itu. Perjalan mereka tiba di sisi jurang, disana Rangkas menunjuk ke arah dinding tebing agak jauh dari tempat nya berdiri.
"Disana tempat nya, aku melihat ular itu merayap di tebing curam itu. Disana ada lubang kecil dan seperti nya ada gua tempat ular itu tinggal." Putri Ayu lalu menatap Pangeran Dirgantara sambil bertanya,
"Apa perlu kita kesana untuk melihat nya?"
"Sebaiknya kita kesana saja, siapa tahu bajingan itu ada di dalam gua itu dan kita bisa langsung menghabisi nya!" Pangeran Dirgantara begitu bersemangat sekali dan Putri Ayu berkata.
"Baiklah jika begitu, ayo kita kesana." Putri Ayu dan Rangkas terbang layak nya burung Garuda.
Rangkas tak bisa terbang dan ia berseru memanggil Putri Ayu.
"Nyai aku tak bisa terbang seperti mu, bagaimana aku bisa ikut?" Seketika Putri Ayu terhenti dan berkata.
"Kau tunggu disitu saja Rangkas, kami tak akan lama."
"Baiklah kalau begitu." Ujar Rangkas terserah dan ia hanya melihat dua orang itu terbang menuju lubang gua ditebing curam itu.
__ADS_1