TerSesat

TerSesat
ILMU SIHIR


__ADS_3

Disaat Rangkas menjatuhkan diri ditanah, itulah kesempatan nya untuk melukai Gundalini. Rangkas cepat melepaskan anak panah nya ke arah kaki kiri Gundalini dan Gundalini telat menghindari nya.


Tabbb!!


"Arghhh!!" Gundalini tersentak kesakitan karena kaki nya terkena anak panah itu.


"Brengsek kau bocah babi!! Ngelunjak kau pada orang tua!!" Lalu Gundalini segera melemparkan keris nya ke arah Rangkas dan keris panjang itu menjadi seekor ular kobra berbisa berwarna hitam.


Rangkas merasa kagum melihat keris nya Gundalini itu bisa berubah menjadi ular. Tapi bukan saat nya untuk mengagumi hal seperti itu, Rangkas tak ada pilihan lain untuk menghindari nya. Rangkas berjungkir balik ke samping tiga kali dan baru saja ia menjejakan kaki nya ditanah. Ular jadi-jadian itu mengejar Rangkas dan Rangkas pun berlari untuk menghindari kejaran ular yang bisa melayang itu.


'Gila! Mengapa ular itu bisa mengejar ku!?' Pikir Rangkas ketika ia mencoba menghindari ular jadi-jadian itu.


Gundalini berusaha mencabut anak panah itu dari kaki nya, Namun ia sangat susah sekali karena ujung anak panah itu terbuat dari tulang kambing dan dibuat tajam kiri dan kanan nya.


"Sialan! Mengapa susah sekali aku lepaskan!" Gundalini geram dan terpaksa ia harus memaksa menarik anak panah itu dengan paksa.


"Aragghhh!!" Gundalini berteriak kesakitan setelah berhasil menarik anak panah itu dan kaki betis nya robek parah. Darah mengucur deras dari luka koyak itu dan Gundalini segera menyembuhkan nya dengan memakai ILMU SIHIR Nya .


Luka koyak lebar dan hancur kulit serta daging kaki Gundalini itu perlahan menyatu kembali dan bergerak-gerak cepat. Gundalini hanya bisa menggigit bibir bawah nya karena pengobatan yang dilakukan nya itu sangat sakit. Rangkas masih berusaha menghindari ular jadi-jadian itu dan setelah ia mendapat tempat yang pas untuk menyerang, ia lalu memanah ular jadi-jadian itu dengan anak panah nya.


Blammm!! Anak panah yang melesat cepat itu menghantam ular jadi-jadian itu dan ledakan kecil terjadi.

__ADS_1


Ular jadi-jadian itu tetap ada dan anak panah itu hancur menjadi serbuk. Rangkas tak ada pilihan lain untuk kabur lagi, ia lalu menyentakan tangan nya ke arah ular itu dan ia ingin mengeluarkan ilmu tenaga dalam yang pernah ia pakai melawan Nyai Lalay.


Duarrrrrrrrr!! Ledakan keras terjadi lagi dan Rangkas tersentak mundur hingga jatuh terguling-guling ditanah.


Ledakan keras tadi sangat dekat dengan nya karena ular jadi-jadian itu telah mendekati nya. Rangkas tak terluka sedikitpun dan ia masih bisa bangun dengan tegap, lalu Ular jadi-jadian itu telah menghilang dan hanya ada pecahan kecil keris hitam ditanah tanpa rumput itu.


"Akhirnya hancur juga!" Ujar Rangkas dan saat itu Gundalini tiba-tiba saja melesat menjejak leher belakang Rangkas.


"Ughhhh!!" Rangkas tersungkur jatuh ke depan dan baru saja Rangkas ingin bangun, tubuh nya sudah harus terlempar lagi ke samping.


"Kurang ajar! Kau telah menghancurkan keris setan kobra ku!" Geram Gundalini yang kini sudah kembali menendang tubuh Rangkas hingga Rangkas terlempar lagi tubuh nya.


Rangkas tak bisa melihat dengan jelas karena pandangan nya buram akibat leher belakang nya ditendang oleh Gundalini tadi. Gundalini berjalan ke arah Rangkas seraya berkata,


"Kau akan aku bunuh dan akan aku penggal kepala mu anak setan!! Setelah itu aku akan mengirimkan kepala mu itu kepada kades kampung Tegalsari itu agar ibu mu melihat nya!!"


"Kau tak akan bisa melakukan nya Botak!! Akulah yang nanti akan membawa kepala mu kepada pak Kades itu!!"


"Coba saja jika kau mampu!!" Lalu Gundalini pun membuka penutup kepala nya itu dan terlihat lah wajah asli Gundalini yang berwajah bengis itu. Mata nya besar melotot dan kepala nya botak plontos tanpa rambut sehelai pun. Tapi jambang dan jenggot nya tebal menyatu dengan kumis nya yang berwarna abu-abu itu.


Lalu Gundalini menepuk-nepuk leher nya seraya berkata kepada Rangkas.

__ADS_1


"Tebas leher ku ini jika kau mampu anak ingusan!! Ilmu mu belum ada sekuku hitam nya dengan ilmu ku!!" Hati Rangkas panas diremehkan seperti itu dan ia kini segera berdiri karena pandangan nya sudah bisa melihat jelas kembali.


"Haruskah aku mengerahkan semua ilmu yang aku punya?" Tanya Rangkas dan Gundalini tersenyum sinis.


"Keluarkan semua ilmu mu itu anak ingusan!" Lalu Gundalini segera memainkan jurus silat nya itu dan gerakan silat itu mirip seperti kera.


Rangkas pun ikut melakukan jurus juga dan sudah menaruh busur panah nya dipunggung dekat sarung anak panah nya berada. Gerakan Rangkas mirip seperti orang menari dan itu adalah gerakan silat yang diajarkan oleh Putri Ayu pada nya. Gundalini lalu menyerang Rangkas duluan dengan tendangan beruntun dan jarak mereka kini hanya satu jangkauan saja. Rangkas menangkis tendangan beruntun itu dan matanya sangat awas sekali sampai-sampai tendangan beruntun nya Gundalini berhasil ditepis semua.


Lalu Rangkas giliran menyerang dengan gerakan tangan menyodok ke arah perut dan dada nya Gundalini. Gundalini pun dengan gesit dan tangkas berhasil menangkis semua serangan beruntun itu. Namun itu hanyalah gerakan tipuan nya Rangkas saja karena kaki kiri Rangkas langsung menyepak ke arah sisi perut nya Gundalini dengan keras. Gundalini memekik menahan sakit karena tulang rusuk nya seperti remuk. Disaat itulah tinju Rangkas melayang ke arah wajah Gundalini dengan telak.


Wajah Gundalini terkena tinju keras nya Rangkas dan tubuh Gundalini terlempar keras ke arah batang sebuah pohon. Saat itu Rangkas pergunakan kesempatan itu untuk membunuh Gundalini. Ia segera mengambil anak panah nya dan memanah ke arah dada kiri Gundalini. Tepat tubuh Gundalini menabrak batang pohon itu saat itu anak panah Rangkas melesat cepat menancap ke arah dada kiri nya Gundalini.


Clapp!!


"Ughukkkk!! hoekkk!!" Gundalini memuntahkan darah kental karena jantung nya tertusuk anak panah itu dan menembus batang pohon itu.


Tubuh Gundalini tersangkut di batang pohon itu dengan posisi anak panah menembus dada nya hingga jebol ke punggung. Mata Gundalini mendelik sambil berkata,


"Tung...gu Pembalasan...ku!" Setelah berkata begitu, Gundalini pun menghembuskan napas terakhir nya dan ia mati dalam posisi mata mendelik serta mulut menganga. Darah kental masih mengucur dari mulut nya dan luka di dada kiri nya itu. Rangkas akhirnya bisa menghirup napas lega karena ia sudah berhasil membunuh Gundalini walaupun dengan susah payah serta sekuat tenaga ia mencoba mengalahkan nya.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2